Enam bulan gencatan senjata di Gaza yang dilaporkan oleh Asharq Al-Awsat bukan sekadar pencapaian lokal, melainkan sebuah eksperimen stabilitas yang sukses. Di tengah ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz saat ini, para diplomat mulai menilik kembali bagaimana kesepakatan Gaza mampu bertahan: kuncinya adalah pemisahan antara isu ideologis yang keras dengan kebutuhan dasar ekonomi dan logistik yang mendesak.
Pelajaran terbesar dari Gaza adalah "Verifikasi Tanpa Syarat". Gencatan senjata tersebut bertahan karena adanya pemantauan teknologi dan kehadiran pihak ketiga yang netral. Jika model ini ingin diterapkan pada konflik Iran, maka pengawasan terhadap Selat Hormuz harus dialihkan dari ancaman militer AS/Iran ke otoritas maritim internasional yang didukung oleh kesepakatan di Islamabad. Namun, Asharq Al-Awsat memperingatkan bahwa tanpa adanya kemauan politik untuk menghentikan serangan proksi di Lebanon, model Gaza akan sulit direplikasi sepenuhnya.
β’ Ekonomi sebagai Jangkar: Memprioritaskan aliran minyak (Hormuz) sebagaimana koridor bantuan di Gaza.
β’ Penengah Regional: Peran krusial Qatar dan Mesir di Gaza kini coba dimainkan oleh Pakistan dan Oman untuk Iran.
β’ Pengawasan Teknologi: Penggunaan sensor dan drone pengawas netral untuk mencegah provokasi lapangan.
β’ Pesan Utama: "Perdamaian di Timur Tengah tidak membutuhkan kesepakatan sempurna, hanya membutuhkan kepentingan bersama yang cukup kuat untuk mencegah tembakan pertama."




