Trump Bantah Ramalan Menteri Energi: Harga Bensin Tak Akan Turun Sebelum Perang Iran Berakhir
Baca dalam 60 detik
- Konflik Internal di Kabinet AS: Presiden Trump secara terbuka menyanggah prediksi Menteri Energi Chris Wright yang memperkirakan harga bensin tidak akan turun di bawah USD3 per galon hingga tahun depan, menyebutnya "sepenuhnya salah".
- Blokade Hormuz Tekan Iran Setengah Miliar Dolar per Hari: Trump mengklaim bahwa blokade AS di seluruh pelabuhan Iran telah mengakibatkan kerugian mencapai USD500 juta setiap hari bagi Teheran.
- Beban Ekonomi Konsumen AS Membengkak: Ekonom Mark Zandi memperkirakan perang dengan Iran telah menaikkan biaya bensin di AS sebesar USD21,3 miliar selama enam pekan terakhir, menambah tekanan inflasi bagi rumah tangga.

Presiden AS, Donald Trump, secara terbuka membantah prediksi Menteri Energi Chris Wright mengenai harga bensin di tengah perang yang sedang berlangsung melawan Iran. Dalam wawancara telepon dengan The Hill pada Senin (20/4), Trump menyatakan ketidaksetujuannya terhadap perkiraan Wright bahwa harga bensin kemungkinan tidak akan turun di bawah USD3 per galon hingga tahun depan. "Tidak, saya pikir dia salah tentang itu. Sepenuhnya salah," tegas Trump. Ketika ditanya kapan ia memperkirakan harga bensin akan turun, Trump menjawab, "begitu ini berakhir," merujuk pada perang dengan Iran. AS saat ini mempertahankan blokade di semua pelabuhan Iran.
Pada hari yang sama, Reuters melaporkan bahwa panglima angkatan darat Pakistan, Asim Munir, menyampaikan kepada Trump bahwa blokade AS di pelabuhan Iran menimbulkan tantangan bagi negosiasi. Namun, Trump membantah klaim tersebut, menyatakan bahwa Munir "tidak merekomendasikan apapun tentang blokade." Trump selanjutnya menekankan kekuatan blokade: "Blokade itu sangat kuat, sangat kokoh. Mereka kehilangan USD500 juta per hari dengan blokade yang berjalan," katanya merujuk pada Iran. "Kami yang mengendalikannya. Mereka tidak mengendalikannya." Ketegangan yang berkelanjutan di Selat Hormuz telah memicu kekhawatiran tentang tingginya harga bensin yang berkepanjangan. Menurut AAA, rata-rata harga bensin di AS saat ini berada di USD4,042 per galon—jauh di atas ambang batas yang diprediksi Wright.
Dari perspektif kebijakan energi dan geopolitik, pertentangan antara Presiden dan Menteri Energi ini mencerminkan ketegangan internal dalam pemerintahan AS mengenai komunikasi krisis. Di satu sisi, Wright berusaha mengelola ekspektasi publik dengan prediksi yang hati-hati—bahwa tekanan harga akan berlanjut hingga 2027. Di sisi lain, Trump membutuhkan narasi bahwa solusi sudah di depan mata (akhir perang) untuk menjaga moral publik. Ekonom Justin Wolfers memperingatkan bahwa ketidakpastian di sekitar Selat Hormuz tidak hanya mendorong harga bensin saat ini lebih tinggi tetapi juga menaikkan ekspektasi harga jangka panjang hingga 2027 dan seterusnya. Ia menilai optimisme Wright mungkin sudah "kedaluwarsa," dan tanpa resolusi, harga bensin tinggi kemungkinan akan terus berlanjut. Sementara itu, ekonom Mark Zandi memperkirakan perang dengan Iran telah mendorong kenaikan biaya bensin AS sekitar USD21,3 miliar selama enam pekan terakhir, menambah tekanan ekonomi pada konsumen yang sudah terbebani inflasi.
"Blokade itu sangat kuat, sangat kokoh. Mereka kehilangan USD500 juta per hari dengan blokade yang berjalan. Kami yang mengendalikannya. Mereka tidak mengendalikannya." — Presiden Donald Trump
Ke depan, ada dua skenario yang akan menentukan arah harga bensin AS. Pertama, jika perang Iran berakhir dalam waktu dekat (seperti yang diisyaratkan Trump), blokade dicabut, dan aliran minyak dari Hormuz pulih, harga bensin berpotensi turun drastis—meski dengan jeda waktu karena kontrak pengiriman. Kedua, jika perang berkepanjangan, prediksi Wright yang lebih pesimistis akan terbukti benar, dan konsumen AS harus bersiap menghadapi harga di atas USD4 per galon hingga setidaknya 2027. Bagi investor dan pelaku pasar energi, pernyataan Trump yang kontradiktif dengan menteri kabinetnya sendiri menciptakan volatilitas tambahan di luar fundamental pasar minyak. Satu hal yang pasti: sampai ada kejelasan tentang masa depan blokade Hormuz, tebakan terbaik siapa pun—baik Presiden maupun Menteri Energi—tetaplah hanya tebakan.



