Kecemasan akan Penolakan Sejak Masa Kecil Picu Risiko Kecanduan Video Pendek pada Remaja
Baca dalam 60 detik
- Akar Kecanduan: Sebuah studi menemukan bahwa kecemasan akan penolakan atau pengabaian yang sering kali terbentuk di masa kecil dapat meningkatkan risiko kecanduan menonton video pendek secara signifikan.
- Pelarian Emosional: Seseorang yang kesulitan untuk mengenali dan mengekspresikan emosinya sendiri cenderung akan menjadikan video pendek berdurasi singkat sebagai sarana pelarian untuk menghindari masalah nyata.
- Latihan Fokus: Peneliti menyarankan bahwa selain membatasi waktu layar cara paling efektif untuk mencegah kecanduan ini adalah dengan melatih kontrol atensi dan kesadaran diri melalui meditasi atau aktivitas fokus yang dijadwalkan.

Menghabiskan waktu berjam-jam menggulir video pendek di media sosial kini menjadi kebiasaan yang sulit dihindari. Namun, sebuah studi terbaru dari Tiongkok mengungkap fakta mengejutkan: kecanduan video pendek atau Short Video Addiction (SVA) ternyata memiliki kaitan erat dengan masalah psikologis mendasar, yakni kecemasan kelekatan (attachment anxiety) yang sering kali terbentuk sejak masa kanak-kanak.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal bergengsi Frontiers in Psychology ini dilakukan dengan melibatkan 342 mahasiswa berusia 18 hingga 22 tahun. Para ahli mencoba membedah secara psikologis mengapa sebagian orang lebih rentan terjerumus dalam pola konsumsi video yang tidak sehat dan kehilangan kendali atas waktu mereka.
- Akar Masalah: Tingginya tingkat kecemasan kelekatan (pola hubungan yang ditandai dengan ketakutan akan pengabaian atau penolakan) berbanding lurus dengan tingginya risiko kecanduan SVA.
- Faktor Pemicu (Aleksitimia): Kesulitan mengenali dan mengekspresikan emosi diri membuat penderita menjadikan video pendek sebagai pelarian emosional.
- Kelemahan Kognitif: Kontrol atensi (kemampuan berkonsentrasi) yang buruk semakin memperparah siklus kecanduan ini.
Haodong Su, dosen pengajar dari College of Humanities di Anhui Science and Technology University yang juga merupakan penulis utama studi ini, menjelaskan bahwa ketika mekanisme pengaturan emosi seseorang gagal bekerja, mereka akan secara otomatis mencari "pengatur eksternal". Dalam konteks digital saat ini, rentetan video berdurasi singkat yang memberikan penghargaan instan pada otak menjadi pelarian yang paling mudah diakses.
Meski terdengar mengkhawatirkan, tim peneliti menekankan bahwa kontrol atensi bukanlah sebuah kemampuan yang mutlak bawaan lahir, melainkan keterampilan kognitif yang bisa dilatih. Anak muda yang mampu mengatur dan mempertahankan konsentrasi mereka terbukti memiliki risiko yang jauh lebih kecil untuk mengembangkan pola konsumsi video yang adiktif, meskipun mereka tengah mengalami kesulitan emosional.
| Langkah Praktis Mengurangi SVA | Manfaat Psikologis yang Didapat |
|---|---|
| Menerapkan periode bebas ponsel yang dijadwalkan secara rutin. | Memutus rantai ketergantungan dopamin instan dari layar digital. |
| Latihan mindfulness (kesadaran penuh) dan mengurangi multitasking. | Memperkuat kontrol atensi dan fokus agar tidak mudah terdistraksi. |
| Membangun rutinitas yang mendorong refleksi emosional. | Membantu mengidentifikasi dan memproses emosi nyata ketimbang lari ke dunia maya. |



