Satu Abad Jam Gadang: Bukittinggi Siapkan Simposium Internasional Berskala 40 Negara
Baca dalam 60 detik
- Perayaan Centenary: Kota Bukittinggi resmi mengonfirmasi partisipasi delegasi dari 40 negara dalam rangkaian peringatan 100 tahun berdirinya menara ikonik Jam Gadang pada Juni 2026.
- Diplomasi Budaya: Agenda utama mencakup seminar literasi sejarah dan arsitektur yang melibatkan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, serta Duta Besar Belanda untuk memperkuat narasi hubungan historis Bukittinggi-Amsterdam.
- Keunikan Keteknikan: Penyelenggara akan mengundang pakar arsitektur global untuk membedah mekanisme jam langka yang hanya memiliki satu kembaran di dunia, yakni menara Big Ben di London.

Pemerintah Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, memproyeksikan momentum satu abad Jam Gadang (1926-2026) sebagai panggung diplomasi internasional dengan mengumpulkan perwakilan dari 40 negara dalam sebuah simposium besar pada Juni mendatang.
Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, mengonfirmasi bahwa pendaftaran peserta internasional telah mencapai kuota signifikan, mencerminkan daya tarik global terhadap menara jam setinggi 27 meter tersebut. Perayaan ini bukan sekadar seremoni lokal, melainkan upaya penguatan literasi sejarah mengenai warisan administrasi Hindia Belanda yang kini menjadi identitas kultural Minangkabau. Melalui kolaborasi lintas negara, Bukittinggi berupaya menggali kembali fakta-fakta historis yang selama ini belum terpetakan sepenuhnya, sekaligus memposisikan kota ini sebagai destinasi pariwisata berbasis warisan dunia (world heritage).
- Periode Pembangunan: Era Hindia Belanda (Selesai 1926).
- Mekanisme Jam: Menggunakan mesin langka dari Vortmann Schwenningen, serupa dengan mesin Big Ben, London.
- Anomali Numerik: Penggunaan angka Romawi "IIII" sebagai pengganti "IV" yang konvensional.
- Partisipan: Delegasi dari 40 negara, termasuk pejabat tinggi diplomatik dan akademisi.
Salah satu poin krusial yang akan dibedah oleh para ahli arsitektur internasional adalah struktur atap bergaya *Gonjong* yang ikonik dan mekanisme internal jam yang sangat terbatas produksinya di dunia. Seminar ini dijadwalkan menghadirkan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, bersama Duta Besar Belanda untuk Indonesia. Kehadiran tokoh-tokoh ini diharapkan mampu memperdalam kajian mengenai diplomasi Bukittinggi-Amsterdam, mengingat sejarah panjang keterkaitan kedua wilayah tersebut dalam pembentukan lanskap kota di masa lalu.
Secara tematik, pemerintah kota telah menyusun delapan agenda utama (main events) yang dirancang untuk menarik minat pasar pariwisata mancanegara dan domestik. Mulai dari Malam Budaya Jam Gadang hingga diskusi teknis mengenai mekanisme mesin jam, seluruh rangkaian acara ditujukan untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap pelestarian cagar budaya. Tren industri pariwisata modern saat ini memang mulai bergeser ke arah *historical tourism*, di mana wisatawan tidak hanya mencari visual, tetapi juga narasi mendalam di balik sebuah monumen.
| Agenda Utama | Fokus Diskusi / Aktivitas |
|---|---|
| Seminar Bukittinggi-Amsterdam | Diplomasi sejarah dan arsip kolonial. |
| Malam Budaya Jam Gadang | Eksibisi seni kontemporer dan tradisional Minang. |
| Simposium Arsitektur | Bedah struktur menara dan pemeliharaan mesin kuno. |
Langkah Bukittinggi dalam merayakan satu abad Jam Gadang diproyeksikan akan memberikan dampak jangka panjang terhadap status kota ini dalam peta pariwisata global. Dengan melibatkan komunitas internasional dan pakar lintas disiplin, Bukittinggi sedang membangun legitimasi baru bagi Jam Gadang sebagai simbol peradaban yang melintasi zaman. Ke depan, diharapkan hasil dari simposium ini dapat menjadi basis data digital bagi pelestarian monumen serupa di tingkat nasional maupun internasional.



