Gelombang Protes Pekerja Medis: Desak Raksasa Analitik Palantir Dicoret dari Kontrak Data NHS
Baca dalam 60 detik
- Ratusan tenaga medis di Inggris menuntut pencabutan kontrak raksasa teknologi analitik Palantir dari proyek Federated Data Platform (FDP) milik NHS bernilai Β£330 juta.
- Protes didasari oleh kekhawatiran etis terkait privasi pasien dan latar belakang Palantir yang memiliki hubungan erat dengan operasi pengawasan dan militer global.
- Pemerintah berdalih platform ini krusial untuk memangkas antrean medis, sementara aktivis menuntut transparansi hukum untuk mencegah komersialisasi data kesehatan sipil secara terselubung.

Ratusan pekerja medis dan aktivis hak privasi di Inggris kembali menyuarakan protes keras menuntut pemerintah untuk segera memutus kontrak raksasa teknologi Amerika Serikat, Palantir, dari proyek Federated Data Platform (FDP) milik National Health Service (NHS). Penolakan ini berakar pada kekhawatiran mendalam terkait rekam jejak etis perusahaan serta keamanan data rekam medis jutaan warga negara.
Pemberian kontrak mega-proyek senilai Β£330 juta kepada Palantir untuk mengelola sistem basis data terpusat NHS telah memicu kontroversi sejak awal. Para tenaga kesehatan, yang tergabung dalam berbagai aliansi advokasi medis, menyoroti rekam jejak keterlibatan Palantir dalam menyediakan perangkat lunak intelijen untuk operasi militer dan lembaga imigrasi kontroversial di Amerika Serikat. Mereka berargumen bahwa menyerahkan data kesehatan paling sensitif milik warga Inggris kepada entitas korporat dengan latar belakang militeristik akan merusak fondasi kepercayaan antara pasien dan institusi layanan kesehatan publik.
Di sisi lain, manajemen NHS dan Kementerian Kesehatan Inggris bersikeras bahwa platform FDP sangat krusial untuk memodernisasi rumah sakit, mengurangi waktu tunggu pasien (backlog) pasca-pandemi, dan memastikan alokasi sumber daya medis yang lebih efisien. Pemerintah juga menjamin bahwa Palantir hanya bertindak sebagai penyedia perangkat lunak (software provider) dan tidak akan memiliki hak kepemilikan maupun akses eksploitatif terhadap data pasien. Meski demikian, jaminan tersebut gagal meredam eskalasi protes, mengingat kurangnya transparansi hukum mengenai klausul perlindungan data lintas negara dalam kontrak tersebut.
- Nilai Kontrak: Β£330 juta selama 7 tahun untuk membangun Federated Data Platform yang menghubungkan seluruh jaringan rumah sakit di Inggris.
- Tujuan Sistem: Optimalisasi rantai pasok obat, manajemen jadwal operasi bedah, dan prediksi kapasitas ranjang rumah sakit.
- Sumber Protes: Potensi komersialisasi data pasien secara diam-diam (function creep) dan penolakan keterlibatan korporat militer dalam sistem kesehatan sipil.
Untuk memahami akar perdebatan ini, berikut adalah tabel komparatif antara janji efisiensi dari pemerintah dengan risiko privasi yang dikhawatirkan oleh para tenaga medis profesional.
| Aspek Implementasi FDP | Perspektif Pemerintah (Pro-Palantir) | Kekhawatiran Tenaga Medis (Anti-Palantir) |
|---|---|---|
| Tata Kelola Data | Data dienkripsi dan sepenuhnya dikendalikan oleh NHS secara hukum. | Risiko data mining jangka panjang untuk melatih model algoritma komersial. |
| Efisiensi Layanan | Menurunkan drastis daftar tunggu operasi pasien nasional. | Efisiensi algoritma sering kali mengabaikan keadilan triase klinis (bias AI). |
| Integritas Etis | Bermitra dengan penyedia teknologi terbaik di kelasnya. | Menolak normalisasi perusahaan militer di dalam institusi kesehatan sipil. |
Ke depannya, tekanan publik yang semakin masif ini diperkirakan akan memaksa parlemen Inggris untuk melakukan audit independen terhadap proses tender kontrak FDP. Jika penolakan dari tenaga medis memicu boikot penginputan data secara kolektif, proyek digitalisasi ambisius ini bisa berakhir menjadi kegagalan sistemik yang mahal. Kasus NHS dan Palantir ini kini menjadi studi kasus global tentang seberapa jauh negara berhak menyerahkan kedaulatan data medis warganya kepada entitas teknologi swasta demi mengejar efisiensi birokrasi, menggarisbawahi urgensi pembentukan regulasi etika AI yang jauh lebih ketat di sektor kesehatan.



