IHSG Ambruk 3%, Ini Deretan Saham Penahan Indeks dan Penyebab Utamanya
Baca dalam 60 detik
- IHSG ditutup melemah tajam sebesar 3,05% ke level 7.137,21 pada perdagangan akhir pekan lalu, diiringi oleh aksi jual bersih (net sell) investor asing senilai Rp221,84 miliar di pasar reguler.
- Rontoknya bursa saham domestik ini dipicu oleh sentimen negatif global, termasuk rentetan pelemahan indeks di bursa AS, rilis data inflasi inti PCE AS yang melampaui ekspektasi, serta ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
- Seluruh sektor saham di BEI kompak memerah yang dipimpin oleh anjloknya sektor transportasi. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti DSSA, AMMN, dan DCII menjadi pemberat utama indeks, meskipun masih ada sedikit perlawanan dari emiten seperti ADMR dan SMMA.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) harus menelan pil pahit dengan ditutup melemah tajam pada perdagangan Jumat (13/3/2026). Melansir laporan dari CNBC Indonesia yang dirilis pada Senin (16/3/2026), IHSG anjlok hingga 3,05% dan terpuruk ke level 7.137,21. Pelemahan ini turut diwarnai oleh derasnya arus modal asing yang keluar dari pasar saham domestik.
Tumbangnya IHSG ini tidak lepas dari sentimen negatif global yang sedang memanas. Tekanan berat di bursa saham Amerika Serikat, ditambah dengan ketidakpastian geopolitik terkait potensi serangan pemerintahan Donald Trump terhadap fasilitas ekspor minyak Iran, membuat para investor mengambil langkah aman (risk-off). Rilis data inflasi inti PCE AS yang lebih tinggi dari perkiraan turut memperparah kepanikan di pasar saham.
Berikut adalah sejumlah catatan penting dari rontoknya bursa saham domestik pada penutupan akhir pekan tersebut:
- Aksi Jual Asing: Investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) yang masif sebesar Rp221,84 miliar di pasar reguler, atau total Rp117,48 miliar jika dihitung secara akumulatif dari seluruh pasar.
- Semua Sektor Merah: Seluruh 11 sektor di bursa kompak berada di zona merah, dengan sektor transportasi menjadi pecundang utama setelah mencatat koreksi terdalam hingga 3,87%.
- Saham Pemberat vs Penahan: Tekanan terbesar indeks datang dari rontoknya saham-saham raksasa seperti DSSA (-11,47%), AMMN (-10,41%), dan DCII (-7,89%). Namun, beberapa saham seperti SMMA (+2,04%), ADMR (+3,19%), dan AADI (+1,97%) masih mampu menguat dan sedikit menahan laju kejatuhan indeks secara keseluruhan.
Kondisi pasar yang sedang sangat volatil ini menuntut para pelaku pasar untuk lebih berhati-hati dalam meracik portofolio investasi. Meski indeks sedang tertekan hebat, para analis dari Mega Capital Sekuritas mencatat tetap ada sejumlah rekomendasi saham pilihan yang secara teknikal dan fundamental masih cukup menarik untuk dilirik oleh investor guna memanfaatkan momentum koreksi pasar ini.
"Sentimen negatif datang dari meningkatnya kekhawatiran pasar terkait potensi serangan pemerintahan Donald Trump terhadap fasilitas ekspor minyak mentah Iran. Selain itu, data inflasi inti PCE AS yang dirilis lebih tinggi dari perkiraan turut menambah tekanan di pasar."



