India memiliki sirkuit kelas dunia dan jutaan penggemar lapar. Namun, jalan menuju kembalinya bendera kotak-kotak di Greater Noida masih harus melewati rintangan politik dan finansial.
Berdasarkan penjelasan dari Firstpost melalui perspektif Karun Chandhok, prospek kembalinya Grand Prix India kini lebih dari sekadar angan-angan. Sejak terakhir kali diadakan pada 2013, lanskap ekonomi dan popularitas F1 telah berubah drastis. Chandhok menekankan bahwa kunci utamanya bukan pada kualitas sirkuit Buddh International Circuit yang sudah teruji, melainkan pada kemauan politik untuk mengklasifikasikan F1 sebagai "olahraga" sejati (bukan hiburan semata) guna menghindari masalah perpajakan yang sempat menghentikan balapan di masa lalu.
Peta Jalan Kembali Menurut Chandhok:
- Dukungan Pemerintah: Diperlukan komitmen dari pemerintah lokal dan pusat untuk mempermudah bea cukai peralatan tim yang masuk ke India.
- Model Pendanaan: Pergeseran dari promotor swasta murni menuju kemitraan publik-swasta yang lebih stabil seperti yang dilakukan di GP Singapura atau Arab Saudi.
- Momentum MotoGP: Keberhasilan penyelenggaraan MotoGP di India baru-baru ini menjadi bukti bahwa infrastruktur BIC masih sangat kapabel untuk ajang motorsport internasional tingkat tinggi.
Bagi Liberty Media, India adalah kepingan puzzle yang hilang dalam dominasi mereka di Asia. Dengan kalender yang semakin padat di tahun 2026, kembalinya India mungkin akan memakan tempat salah satu balapan di Eropa yang kontraknya habis. Jika masalah birokrasi dapat diselesaikan di tingkat federal, India berpotensi menjadi salah satu seri paling spektakuler dalam kalender balap masa depan, membawa kembali nuansa kecepatan tinggi di lintasan lurus BIC yang ikonik.




