Menuju musim 2026, stabilitas adalah komoditas paling berharga di Formula 1. Siapa yang berhasil mengamankan kursinya sebelum badai regulasi tiba?
Laporan dari Sky Sports membedah struktur kontrak para bintang F1 yang kini menjadi perhatian utama para manajer tim. Di tahun 2026, integrasi antara pembalap dan pengembangan unit daya baru sangatlah krusial. Tim-tim besar seperti Ferrari dan McLaren telah melakukan langkah preventif dengan mengunci talenta mereka dalam kontrak jangka panjang untuk menghindari perebutan di bursa transfer.
| Pembalap | Tim | Akhir Kontrak |
|---|---|---|
| Max Verstappen | Red Bull Racing | 2028 |
| Charles Leclerc | Ferrari | 2024+ (Multi-year) |
| Lando Norris | McLaren | 2026+ (Multi-year) |
| Lewis Hamilton | Ferrari (Mulai 2025) | 2026+ |
| George Russell | Mercedes | 2025 |
Analisis Strategis 2026:
- Dominasi Kontrak Panjang: Tren kontrak "multi-year" menunjukkan bahwa tim ingin menjaga kontinuitas teknis saat mesin baru diperkenalkan.
- Tekanan Mercedes: Dengan George Russell yang memasuki tahun terakhir kontraknya pada 2025, Mercedes menjadi pusat perhatian dalam mencari pendamping ideal pasca-era Hamilton.
- Skenario Wildcard: Pembalap seperti Fernando Alonso dan Oscar Piastri memegang posisi kunci yang bisa mengubah peta transfer jika terjadi performa tim yang tidak terduga.
Bagi para penggemar, periode ini adalah awal dari "Silly Season" yang paling menarik dalam satu dekade. Ketidakpastian mengenai performa unit daya 2026 dari masing-masing manufaktur (Ferrari, Mercedes, Red Bull-Ford, Honda, Audi, dan Renault) membuat para pembalap juga sangat berhati-hati dalam berkomitmen terlalu lama jika tidak ada jaminan performa.




