Konsistensi Nikita Willy dalam menerapkan pola asuh berbasis sains kembali menarik perhatian publik menjelang bulan suci Ramadhan. Berdasarkan laporan InsertLive pada 25 Februari 2026, aktris yang dikenal dengan gaya mindful parenting ini mengungkapkan alasannya belum mengajak sang anak, Issa, untuk ikut bangun saat jam sahur. Keputusan ini didasarkan pada pertimbangan matang mengenai kualitas tidur dan fase perkembangan anak usia dini yang belum memerlukan disiplin bangun di dini hari.
Kualitas Tidur sebagai Fondasi Utama
Nikita Willy menekankan bahwa pada usia Issa saat ini, kecukupan waktu tidur (sleep hygiene) adalah elemen krusial bagi pertumbuhan fisik dan kognitif. Secara teknis, siklus tidur anak di bawah lima tahun membutuhkan konsistensi tanpa interupsi guna memastikan pelepasan hormon pertumbuhan yang optimal. Memaksa anak bangun pada jam 4 pagi untuk rutinitas sahur dianggap dapat mengganggu ritme sirkadian yang telah terbentuk, yang berpotensi memicu tantrum atau penurunan imunitas akibat kurang istirahat.
Di tahun 2026, tren pengasuhan di Indonesia semakin bergeser ke arah pemahaman kebutuhan biologis anak daripada sekadar mengikuti tradisi secara kaku. Nikita menjelaskan bahwa meskipun pengenalan nilai agama sangat penting, hal tersebut dilakukan secara bertahap melalui cara-cara yang lebih sesuai dengan kapasitas anak, seperti bercerita atau mengenalkan suasana berbuka puasa, tanpa harus mengorbankan jam istirahat intinya.
Edukasi Bertahap dan Fleksibilitas
Langkah ini mendapat banyak respons positif dari para orang tua muda yang juga memprioritaskan kesehatan mental dan fisik anak. Nikita Willy membuktikan bahwa menjadi orang tua yang religius tidak berarti harus mengabaikan aspek medis perkembangan anak. Dengan memberikan fondasi kesehatan yang kuat melalui tidur yang cukup, ia berharap sang anak nantinya akan memiliki kesiapan fisik dan mental yang lebih baik saat tiba waktunya untuk belajar berpuasa secara penuh di masa depan.




