Di balik layar persiapan musim 2026, sebuah perang politik sedang berkecamuk. Red Bull Racing, yang sedang membangun mesin mandiri pertamanya bersama Ford, merasa regulasi teknis FIA saat ini terlalu kaku dan berpotensi menghukum inovasi baru.
Inti dari masalah ini adalah sistem "Homologasi". Begitu musim 2026 dimulai, desain mesin akan "dibekukan" sebagian besar untuk menghemat biaya. Namun, bagi Red Bull Powertrains yang memulai dari nol, batasan ini dianggap sebagai ancaman eksistensial. Jika mereka melakukan kesalahan kecil pada desain awal, mereka bisa terjebak dengan mesin yang kurang kompetitif hingga regulasi berikutnya di tahun 2030-an.
Titik Tekan Red Bull pada FIA:
- Paritas Performa: Red Bull mengusulkan mekanisme yang memungkinkan pabrikan yang tertinggal (misalnya lebih dari 2%) untuk mendapatkan jam pengembangan ekstra di bangku tes (dyno).
- Isu Pengiriman Tenaga: Kekhawatiran bahwa rasio 50/50 antara tenaga pembakaran dalam dan elektrik akan membuat mobil kehabisan daya di lintasan lurus jika desain baterai tidak sempurna.
- Fleksibilitas Pengembangan: Meminta FIA tidak terlalu ketat dalam melarang perbaikan reliabilitas yang secara tidak langsung meningkatkan performa.
Tantangan bagi FIA adalah menjaga keseimbangan. Jika aturan terlalu longgar, biaya akan membengkak dan pabrikan besar seperti Ferrari atau Mercedes akan keberatan. Jika terlalu ketat, F1 berisiko kehilangan daya saing tontonan jika Red Bull atau Audi gagal menghadirkan mesin yang kompetitif di debut mereka.
Keputusan FIA mengenai penyesuaian regulasi mesin ini diprediksi akan keluar dalam beberapa bulan ke depan, dan hasilnya akan menentukan apakah Max Verstappen akan memiliki senjata yang mumpuni untuk mempertahankan mahkotanya di era baru Ford-Red Bull.




