Masa depan Renault sebagai penyedia mesin di kasta tertinggi balap motor sedang berada di ujung tanduk. Ketidakpuasan manajemen puncak terhadap divisi mesin Alpine bisa berujung pada eksodus yang lebih cepat dari perkiraan pengamat.
Bagi penggemar setia, nama Renault identik dengan inovasi dan kesuksesan di F1. Namun, realitas ekonomi di tahun 2026 memaksa grup otomotif Perancis ini melakukan evaluasi brutal. Dengan mesin yang saat ini tertinggal dalam hal tenaga dan efisiensi dibandingkan Ferrari, Mercedes, dan Honda, biaya pengembangan untuk regulasi mesin 2026 dianggap sebagai beban risiko yang terlalu besar oleh CEO Renault, Luca de Meo.
Skenario "Exit" Renault:
- Status Tim Pelanggan: Alpine kemungkinan besar akan tetap di grid tetapi menggunakan Power Unit (PU) milik pihak ketiga. Mercedes saat ini menjadi favorit karena kesuksesan mereka dalam menyediakan mesin yang andal.
- Konsekuensi Ketenagakerjaan: Ratusan insinyur berbakat di Viry-Châtillon berisiko dipindahkan ke proyek mobil komersial atau departemen teknologi tinggi lainnya, mengakhiri warisan mesin balap Perancis yang telah ada selama puluhan tahun.
- Citra Brand: Mundurnya Renault sebagai manufaktur mesin akan menjadi pukulan besar bagi prestise nasional Perancis dalam industri motorsport global.
Jika Renault benar-benar mundur, Formula 1 akan menyisakan Mercedes, Ferrari, Honda, Audi, dan proyek baru Red Bull-Ford sebagai penyedia mesin di tahun 2026. Hal ini mempersempit pilihan bagi tim-tim kecil dan memberikan kekuasaan lebih besar kepada segelintir pabrikan besar yang tersisa.
Keputusan akhir diharapkan akan diumumkan sebelum musim 2025 berakhir, memberikan waktu bagi Alpine untuk menegosiasikan kontrak pemasok baru guna memastikan mereka memiliki mobil yang kompetitif saat regulasi baru dimulai.




