Dunia kripto kembali diingatkan betapa sensitifnya aset digital terhadap kebijakan makroekonomi AS. Pengumuman tarif 15% dari Presiden Trump pada akhir pekan lalu telah menciptakan gelombang "Risk-Off" yang memaksa investor keluar dari posisi spekulatif.
Bitcoin, yang sempat menyentuh rekor tinggi tahun lalu, kini berjuang mempertahankan level psikologis di angka $65.000. Tekanan ini tidak hanya datang dari tarif itu sendiri, tetapi juga dari ketidakpastian geopolitik dan penunjukan tokoh-tokoh hawkish di pemerintahan. Penguatan Dolar AS membuat aset berisiko kehilangan daya tariknya, memicu likuiditas keluar dari pasar kripto menuju instrumen yang lebih stabil seperti obligasi atau uang tunai.
Faktor Penekan Pasar Hari Ini:
- Eskalasi Perang Dagang: Ancaman tarif tambahan terhadap negara-negara yang "bermain-main" pasca keputusan Mahkamah Agung meningkatkan kekhawatiran akan inflasi global.
- Likuidasi Massal: Lebih dari $2 miliar dalam posisi long telah terlikuidasi sepanjang Februari, mempercepat penurunan harga setiap kali ada berita negatif.
- Ketakutan AI: Selain faktor tarif, kekhawatiran akan gangguan AI pada sektor teknologi juga menyeret turun indeks Nasdaq, yang seringkali berkorelasi positif dengan pergerakan Bitcoin.
Meskipun ada prediksi dari analis seperti Tom Lee bahwa pelemahan ini mungkin hanya sementara dan bisa menjadi peluang beli, sentimen di lapangan saat ini didominasi oleh ketakutan ekstrem. Fokus pasar kini tertuju pada pidato kenegaraan (*State of the Union*) Trump yang diharapkan memberikan kejelasan lebih lanjut mengenai arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat untuk sisa tahun 2026.
Bagi pemegang aset jangka panjang, periode ini menjadi ujian kesabaran. Sejarah menunjukkan kripto mampu bangkit dari guncangan geopolitik, namun dalam jangka pendek, volatilitas diperkirakan akan tetap tinggi selama retorika tarif masih menjadi senjata utama kebijakan luar negeri AS.




