Bitcoin kembali menghadapi ujian berat, namun kali ini tekanan tidak hanya datang dari grafik harga, melainkan dari psikologi massa. Di tengah perjuangan BTC untuk bertahan di atas $65.000, narasi kiamat kripto kembali mencuat seiring dengan kekhawatiran terhadap gejolak ekonomi global.
Data tren pencarian menunjukkan lonjakan signifikan pada kueri yang memprediksi kehancuran total Bitcoin. Fenomena ini muncul tepat saat isu kebijakan tarif perdagangan baru mulai mengguncang pasar saham dan komoditas. Investor tampaknya mulai meragukan narasi Bitcoin sebagai "safe haven" atau emas digital ketika stabilitas perdagangan dunia terancam oleh proteksionisme ekonomi.
Faktor Pemicu Gelombang Ketakutan:
- Ketegangan Perang Tarif: Kebijakan tarif impor yang agresif memicu penguatan Dolar AS, yang secara historis sering kali berbanding terbalik dengan performa Bitcoin.
- Kegagalan Teknis: Ketidakmampuan BTC untuk mengubah level $65.000 menjadi dukungan (support) baru memperkuat argumen para skeptis.
- Likuiditas Global: Ketakutan akan perlambatan ekonomi memaksa institusi untuk menarik modal dari aset spekulatif guna menutupi margin di sektor lain.
Meskipun demikian, para veteran pasar sering kali melihat lonjakan sentimen negatif yang ekstrem sebagai peluang. Dalam sejarah Bitcoin, saat narasi "kematian Bitcoin" mencapai puncaknya di media arus utama, harga sering kali justru menemukan landasan untuk bangkit kembali. Tekanan jual dari investor yang panik sering kali diserap oleh pembeli institusional yang mencari entri jangka panjang.
Saat ini, mata pelaku pasar tertuju pada data inflasi dan pernyataan resmi perihal tarif dagang minggu depan. Jika ketegangan mereda, level $65.000 bisa dengan cepat berubah kembali menjadi basis peluncuran. Namun, untuk saat ini, Bitcoin harus mampu bertahan dari hantaman badai psikologis yang sedang melanda para pemegangnya.




