Bitmine Lampaui Rekor FTX: Kerugian Ethereum US$8,8 Miliar Picu Risiko Pelemahan Struktural
Baca dalam 60 detik
- Skala Kerugian Historis: Defisit nilai pasar aset Ethereum milik Bitmine kini mencapai ambang batas kritis, melampaui total dana nasabah yang hilang saat krisis sistemik bursa FTX tahun 2022.
- Paradoks Valuasi AI: Kapitalisasi pasar Anthropic yang melonjak tajam kini secara resmi mengungguli total valuasi jaringan Ethereum, memicu debat terkait efisiensi alokasi modal di sektor teknologi.
- Anomali Institusional: Meskipun dibayangi penurunan harga drastis, entitas Wall Street seperti BlackRock dan Morgan Stanley terpantau justru memperbesar paparan kepemilikan saham mereka pada kuartal penutup 2025.

NEW YORK β Perusahaan teknologi imersi Bitmine kini menghadapi tekanan finansial masif setelah akumulasi kerugian yang belum terealisasi (unrealized losses) pada aset Ethereum (ETH) miliknya menyentuh angka US$8,8 miliar pada Februari 2026. Angka ini secara signifikan melampaui kerugian awal nasabah FTX sebesar US$8,0 miliar, menjadikannya salah satu depresiasi portofolio korporasi terbesar dalam sejarah kripto. Penurunan ini terjadi seiring terpuruknya harga ETH hingga di bawah basis biaya rata-rata perusahaan yang berada di level US$3.843 per keping, memicu peringatan keras dari analis mengenai potensi kegagalan fundamental pada aset tersebut.
Uji Ketahanan Valuasi dan Tekanan Struktural
Lembaga riset 10x Research menyoroti bahwa Ethereum saat ini tengah berada dalam fase "uji struktur" di mana proposisi nilai dasarnya mulai dipertanyakan oleh pasar. Dengan koreksi harga mencapai 60% dalam rentang enam bulan terakhir, posisi Bitmine yang dipimpin oleh veteran Wall Street, Tom Lee, kini menjadi sorotan tajam. Kendati performa saham perusahaan ikut terseret turun hingga 59% ke level US$20,13, manajemen Bitmine justru menunjukkan sikap agresif dengan mengakuisisi tambahan 45.759 ETH pada pekan lalu, sebuah langkah yang meniru model perbendaharaan Bitcoin milik MicroStrategy namun dengan risiko volatilitas yang jauh lebih tinggi.
Konteks ini semakin menarik ketika membandingkan performa aset kripto dengan sektor kecerdasan buatan (AI). Valuasi Anthropic, perusahaan rintisan AI yang sempat mendapatkan suntikan dana dari FTX, kini diperkirakan mencapai US$380 miliarβjauh melampaui seluruh kapitalisasi pasar jaringan Ethereum yang hanya bertahan di kisaran US$231 miliar. Pergeseran likuiditas dan perhatian investor dari *smart contract* menuju infrastruktur AI ini memberikan tekanan tambahan bagi para pemegang aset ETH jangka panjang yang harus menentukan apakah kondisi saat ini merupakan dasar siklus (*cyclical bottom*) atau awal dari kerusakan struktural permanen.
Sentimen Kontradiktif: Antara Institusi dan Trader
Di pasar derivatif, kelompok *smart money* terpantau masih mempertahankan posisi *short* (jual kosong) terhadap ETH, menunjukkan ekspektasi akan adanya penurunan lanjutan. Namun, data *on-chain* menunjukkan aktivitas yang bertolak belakang dari kelompok 'Whale' dan entitas baru. Terdapat peningkatan akumulasi spot ETH hingga enam kali lipat dalam sepekan terakhir, dengan total aliran dana masuk mencapai ratusan juta dolar dari dompet-dompet baru yang diciptakan dalam 15 hari terakhir.
Kepercayaan institusional pun tampak belum goyah sepenuhnya. Laporan Q4 2025 mengungkapkan bahwa pemegang saham utama Bitmine, termasuk raksasa manajer aset BlackRock, Ark Invest, dan Morgan Stanley, tetap memperkuat posisi mereka di tengah kerugian kertas yang membengkak. Langkah berisiko ini menunjukkan keyakinan bahwa Ethereum akan pulih, meskipun entitas lain seperti SharpLink Gaming dan The Ether Machine juga harus menanggung beban kerugian yang belum terealisasi masing-masing sebesar US$1,4 miliar dan US$948 juta.
Kesimpulan Objektif
Masa depan Bitmine dan stabilitas pasar Ethereum kini bergantung pada kemampuan jaringan untuk membuktikan relevansi teknisnya di tengah dominasi modal AI. Apakah akumulasi masif oleh institusi Wall Street merupakan langkah cerdas di harga diskon atau sekadar upaya menunda pengakuan kegagalan aset, akan terjawab dalam dinamika pasar kuartal mendatang. Secara keseluruhan, keterlibatan institusi besar memberikan bantalan likuiditas, namun risiko sistemik tetap menghantui jika ETH gagal melakukan pemulihan harga ke level basis biaya korporasi.



