Tottenham Incar Giuliano Simeone: Solusi Lini Depan di Tengah Krisis De Zerbi
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur membidik Giuliano Simeone dari Atletico Madrid untuk mengatasi paceklik gol yang membuat mereka terpuruk di zona degradasi.
- Kompetisi ketat menanti karena Manchester City dan Manchester United telah lebih dulu menjajaki peluang merekrut penyerang serba bisa asal Argentina itu.
- Situasi rumit akibat kedekatan Simeone dengan Atletico dan ayahnya sebagai pelatih bisa menjadi penghalang besar terwujudnya transfer ini.

Tottenham Hotspur dilaporkan tengah mempertimbangkan langkah ambisius untuk mendatangkan penyerang Atletico Madrid, Giuliano Simeone, setelah awal musim yang buruk di Premier League. Kebutuhan akan amunisi baru di lini depan menjadi semakin mendesak menyusul rentetan hasil negatif yang menempatkan klub asal London Utara itu di zona degradasi.
Hingga pekan keenam, Tottenham belum sekalipun meraih kemenangan. Mereka baru mengoleksi tiga gol di liga, sebuah catatan yang kontras dengan ekspektasi setelah manajemen menggelontorkan dana besar pada bursa transfer musim panas lalu. Nama-nama seperti Sandro Tonali dan Mateus Fernandes didatangkan, tetapi tidak ada tambahan penyerang tajam yang dianggap sebagai 'statement signing'.
Menurut laporan TEAMtalk, pelatih Roberto De Zerbi sangat mengagumi sosok Simeone. Fleksibilitas pemain berusia 22 tahun itu—mampu beroperasi di kedua sayap dan sebagai penyerang tengah—dinilai cocok dengan skema De Zerbi yang mengandalkan mobilitas dan intensitas. Namun, jalan menuju kesepakatan tidak akan mulus.
Kompetisi dari klub-klub besar Inggris lain menjadi tantangan tersendiri. Manchester City dan Manchester United disebut-sebut telah menjajaki kemungkinan merekrut Simeone pada jendela transfer sebelumnya. Selain itu, faktor non-teknis turut mempersulit: Simeone dikabarkan betah di Madrid, dan ayahnya, Diego Simeone, adalah pelatih Atletico. Situasi ini menciptakan dilema personal yang jarang terjadi dalam bursa transfer.
"Dia berlari selama 90 menit tanpa henti. Dia menyusahkan lawan. Levelnya sangat tinggi. Dia bisa menciptakan sesuatu dari ketiadaan kapan saja," ujar mantan pelatih Alaves, Luis Garcia, yang dikenal sebagai pengagum Simeone.
Di sisi lain, lini depan Tottenham saat ini sedang tidak ideal. Dominic Solanke baru mencetak gol pertamanya di Premier League musim ini ketika melawan Manchester United akhir pekan lalu. Sementara itu, Richarlison dikabarkan tersisih setelah berselisih dengan De Zerbi. Kondisi ini memperkuat argumen bahwa Spurs tidak hanya butuh penyerang sayap, tetapi juga penyerang tengah murni yang bisa menjadi target man.
Jika melihat konteks persaingan Premier League, kebutuhan Tottenham akan gol sangat krusial. Klub-klub papan tengah seperti Brighton, West Ham, dan Aston Villa telah menunjukkan konsistensi dalam mencetak gol, sementara Spurs tertinggal jauh. Dalam beberapa musim terakhir, kegagalan memperkuat lini depan sering berujung pada kehilangan poin berharga, dan itu bisa berujung pada posisi yang lebih rendah dari target awal.
Bagi Simeone, kepindahan ke Tottenham bisa menjadi batu loncatan untuk menunjukkan kualitasnya di liga yang lebih kompetitif. Namun, dengan statusnya sebagai putra pelatih Atletico, ada pertimbangan loyalitas dan kenyamanan. Apalagi, Atletico saat ini masih bersaing di La Liga dan Liga Champions, sehingga peran Simeone sebagai pemain kunci kemungkinan besar akan dipertahankan.
Dari sudut pandang Atletico, melepas Simeone di tengah musim bukanlah keputusan mudah. Meski harga £43 juta terbilang menggiurkan, kehilangan pemain muda yang sedang berkembang pesat bisa berdampak pada kedalaman skuad. Diego Simeone dikenal sebagai pelatih yang mengutamakan kesetiaan dan kerja keras, sehingga ia mungkin enggan melepas putranya ke klub yang sedang dalam masa sulit.
Bagi Tottenham, alternatif lain tetap terbuka. Beberapa nama penyerang tengah seperti Ivan Toney atau Victor Osimhen sempat dikaitkan, namun harga dan kompetisi membuat opsi tersebut tidak realistis. Simeone mungkin menjadi pilihan yang lebih terjangkau dan fleksibel, tetapi risiko adaptasi di Premier League tetap ada.
Ke depan, keputusan Tottenham akan sangat bergantung pada hasil beberapa laga berikutnya. Jika De Zerbi mampu mengangkat performa tim dan Solanke mulai produktif, kebutuhan akan penyerang baru bisa berkurang. Sebaliknya, jika tren negatif berlanjut, tekanan untuk mendatangkan Simeone atau penyerang lain akan semakin besar. Akankah manajemen Spurs berani mengambil langkah besar di bursa transfer musim dingin, atau justru memilih bertahan dengan skuad yang ada?



