Viking Persib Club Kutuk Penyerangan Bus Persib U-18 di Batang: Rivalitas Sudah Lewat Batas
Baca dalam 60 detik
- Viking Persib Club mengecam keras penyerangan bus Elite Pro Academy (EPA) Persib U-18 di Rest Area Batang KM 360, Minggu (11/10/2026) malam, yang mengakibatkan kerusakan bus, penjarahan koper, dan kekerasan fisik terhadap ofisial Pandu Persada.
- Ketua Umum VPC Tobias Ginanjar menilai insiden ini melampaui rivalitas 2x45 menit dan menyoroti keselamatan pemain muda sebagai aset sepak bola nasional, sementara Sekretaris Umum Arland Sidha menuntut penegakan hukum tanpa normalisasi kekerasan suporter.
- Dengan bukti video dan foto yang beredar, VPC mendesak kepolisian bergerak cepat mengusut pelaku; kasus ini menjadi ujian bagi penegakan hukum dan pembinaan suporter di Indonesia.

Viking Persib Club (VPC) menyatakan sikap tegas menanggapi penyerangan yang menimpa rombongan Elite Pro Academy (EPA) Persib U-18 di Rest Area Batang KM 360, Jawa Tengah, Minggu (11/10/2026) malam. Insiden yang terjadi sekitar pukul 21.30 WIB itu tidak hanya merusak bus tim, tetapi juga berujung pada penjarahan sejumlah koper milik ofisial dan pemain, serta kekerasan fisik terhadap media officer Akademi Persib, Pandu Persada.
Ketua Umum VPC, Tobias Ginanjar, melalui akun X miliknya menyayangkan tindakan tersebut. Menurutnya, rivalitas yang seharusnya hanya berlangsung selama 2x45 menit telah dibawa ke luar lapangan dengan cara yang tidak dapat dibenarkan. Ia menegaskan bahwa penyerangan terhadap ofisial dan pemain klub junior merupakan eskalasi yang serius dan tidak lagi dapat disebut sebagai rivalitas wajar.
"Istilah rivalitas 2x45 ada untuk jadi pengingat agar tidak melakukan hal-hal konyol di luar tribune dan tidak ada hubungan dengan pertandingan. Kalau ofisial dan pemain klub junior sampai diserang, itu sudah level lain. Rivalitasnya makin ke sini makin ke sana," tulis Tobias.
Lebih lanjut, Tobias menekankan bahwa para pemain muda yang menjadi korban adalah calon penerus sepak bola nasional. Mereka, kata dia, bisa saja nantinya membela klub mana pun, sehingga sudah menjadi kewajiban semua pihak untuk memberikan rasa aman selama proses pembinaan. Ia berharap rekaman video dan foto yang tersebar dapat membantu kepolisian mengusut tuntas kejadian tersebut.
Senada dengan Tobias, Sekretaris Umum VPC Arland Sidha mengecam keras aksi tersebut. Ia menilai tindakan itu telah melewati batas rivalitas dan berharap aparat kepolisian serta federasi mengambil langkah tegas. Arland menolak jika kekerasan oleh suporter dinormalisasi sebagai hal yang wajar.
"Kejadian-kejadian ini tidak lagi dinormalisasi sebagai perbuatan suporter atau perbuatan yang seolah-olah itu sesuatu yang wajar," kata Arland.
Mengenai pendampingan hukum, Arland menyatakan bahwa VPC untuk sementara memberikan dukungan moral kepada para pemain muda yang menjadi korban. Ia menambahkan bahwa langkah hukum lebih lanjut akan dikoordinasikan dengan manajemen Persib karena para korban masih berada di bawah kendali klub. VPC juga terus berkomunikasi dengan pihak kepolisian di Jakarta agar pelaku segera ditangkap.
Berdasarkan laporan kepolisian, Pandu Persada dan Ridwan dari tim Akademi Persib sedang dalam perjalanan kembali ke Bandung setelah meliput kegiatan EPA. Di rest area, keduanya berpapasan dengan rombongan suporter tim rival yang baru saja mendukung timnya bertanding di Yogyakarta. Sekelompok orang yang diduga bagian dari rombongan tersebut menyerang bus EPA, merusak bus, dan menjarah koper. Saat berada di area toilet, Pandu dan Ridwan berupaya kembali ke bus, namun situasi tidak kondusif membuat mereka terpisah dari rombongan. Bus kemudian melanjutkan perjalanan, sementara Pandu dan Ridwan tertinggal. Pandu pun mengalami kekerasan fisik dan berlindung di sebuah tempat tambal ban di area rest area.
Insiden ini menambah daftar panjang kekerasan antarsuporter di Indonesia. Meski rivalitas Persib dan tim-tim tertentu telah lama menjadi bumbu sepak bola nasional, aksi anarkis yang menyasar pemain muda dan ofisial jelas tidak dapat ditoleransi. Kasus ini juga menjadi ujian bagi penegakan hukum dan pembinaan suporter di tanah air. Jika dibiarkan, kekerasan semacam ini berpotensi mencoreng citra Liga Indonesia dan menghambat perkembangan sepak bola usia dini.
Ke depan, publik menanti langkah cepat kepolisian mengungkap pelaku dan memastikan proses hukum berjalan transparan. Federasi juga dituntut tidak hanya memberikan sanksi, tetapi juga membenahi budaya suporter. Tanpa penindakan tegas, kekerasan atas nama rivalitas akan terus berulang dan mengancam keselamatan generasi muda sepak bola Indonesia.



