Bus Persib U-18 Diserang di Batang, Wali Kota Bandung Kutuk Keras Teror Suporter
Baca dalam 60 detik
- Rombongan Persib U-18 menjadi sasaran penyerangan oknum suporter di Rest Area KM 330 Batang, Minggu malam, dengan seorang ofisial menjadi korban penganiayaan.
- Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengecam tindakan tersebut sebagai teror yang tidak pantas dalam olahraga dan mendesak aparat menuntaskan kasus secara hukum.
- Pemkot Bandung menyiapkan pendampingan psikologis bagi para pemain dan keluarga, serta mengkaji pengawalan aparat untuk perjalanan tim junior ke luar kota.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyatakan sikap tegas terhadap penyerangan yang menimpa bus tim Persib U-18 beserta ofisial di Rest Area KM 330, Batang, Jawa Tengah, pada Minggu (11/10/2026) malam. Insiden ini mencuat sebagai persoalan serius bukan hanya karena korban berasal dari kelompok usia muda, tetapi juga karena terjadi di ruang publik yang seharusnya netral dari konflik antarsuporter.
Dalam keterangan di Pendopo Kota Bandung, Senin (12/10/2026), Farhan menyebut tindakan itu sebagai bentuk teror yang melampaui batas rivalitas sepak bola. Ia menekankan bahwa kekerasan tidak memiliki tempat dalam olahraga dan menuntut aparat kepolisian mengusut tuntas seluruh rangkaian peristiwa, termasuk dugaan perusakan serta penganiayaan yang dialami sejumlah korban.
"Kami dari Pemerintah Kota Bandung sangat prihatin dan mengutuk keras tindakan teror tersebut. Teror kekerasan bukanlah bagian dari olahraga," ujar Farhan.
Insiden tersebut meninggalkan luka fisik bagi satu orang, yakni Pandu Persada, Media Officer Akademi Persib, yang menjadi sasaran pemukulan. Sejumlah barang di dalam bus juga dilaporkan raib setelah oknum suporter diduga masuk dan melontarkan provokasi. Meski tidak ada pemain yang mengalami cedera fisik, situasi sempat memanas dan menimbulkan tekanan psikologis bagi para atlet muda yang berada di dalam rombongan.
Farhan menegaskan bahwa pendampingan tidak hanya diberikan kepada para pemain, tetapi juga kepada keluarga yang terdampak, termasuk istri pelatih dan istri Pandu Persada yang turut merasakan kekhawatiran pasca-kejadian. Menurutnya, dukungan psikologis bagi atlet muda dan orang tua mereka menjadi bagian penting dari pemulihan, mengingat insiden semacam ini dapat meninggalkan trauma jangka panjang.
Pemkot Bandung, lanjut Farhan, akan berdiskusi dengan manajemen Persib untuk memperkuat sistem pengamanan tim junior dan akademi, terutama saat menjalani laga tandang ke luar kota. Salah satu gagasan yang tengah dipertimbangkan adalah menugaskan personel TNI/Polri, Satpol PP, dan Dinas Perhubungan untuk mendampingi rombongan. Namun ia menekankan bahwa langkah tersebut masih berupa usulan awal yang akan dibahas lebih lanjut dengan pihak terkait.
Kasus ini menyoroti persoalan lebih besar dalam ekosistem sepak bola nasional: perlindungan terhadap kelompok usia muda dan tim akademi kerap menjadi prioritas terakhir dalam skema pengamanan pertandingan. Selama ini, perhatian lebih banyak tercurah pada laga tim senior, sementara perjalanan tim junior sering kali luput dari pengawalan memadai. Padahal, rivalitas yang terbawa ke luar stadion berpotensi menimpa siapa saja, termasuk pemain yang belum dewasa.
Dari sisi penegakan hukum, desakan Wali Kota Bandung agar polisi mengungkap seluruh rangkaian kejadian menjadi ujian bagi konsistensi penanganan kasus kekerasan suporter. Tanpa tindakan tegas, insiden serupa berisiko terulang dan memperkuat budaya impunitas di kalangan oknum pendukung. Farhan berharap peristiwa ini menjadi perhatian bersama bahwa keselamatan atlet harus menjadi prioritas, dan rivalitas tidak boleh berujung pada intimidasi maupun kekerasan.
Ke depan, publik menanti apakah komitmen pengawalan aparat bagi tim junior benar-benar terwujud atau hanya berhenti sebagai wacana. Yang tak kalah penting, bagaimana Askot PSSI Kota Bandung dan manajemen Persib menerjemahkan janji pendampingan menjadi langkah nyata, sehingga para pemain muda bisa kembali fokus berlaga tanpa bayang-bayang ancaman di perjalanan.



