Eberechi Eze di Arsenal: Antara Tuntutan Transfer dan Bayang-bayang Smith Rowe
Baca dalam 60 detik
- Eberechi Eze hanya mencatat 85 menit bermain dalam enam laga Premier League, memicu spekulasi masa depannya di Arsenal.
- Keputusan Mikel Arteta lebih memilih Noni Madueke di sayap kiri mempertegas posisi Eze yang kian terpinggirkan.
- Sejarah Emile Smith Rowe menjadi peringatan bahwa bertahan di Emirates tanpa menit bermain bisa menghambat karier.

Eberechi Eze menghadapi dilema besar di Arsenal setelah hanya mengumpulkan 85 menit bermain dalam enam pertandingan Premier League musim ini. Gelandang serang bernomor punggung 10 itu selalu memulai laga dari bangku cadangan, termasuk saat Arsenal melawan Leeds United pada akhir pekan lalu. Situasi ini memunculkan pertanyaan apakah ia harus segera mengajukan permintaan transfer demi menyelamatkan kariernya.
Arsenal memang tampil sebagai juara bertahan, tetapi performa Eze yang minim kesempatan menunjukkan bahwa statusnya di skuad Mikel Arteta tidak lagi ideal. Kedatangan pemain seperti Bruno Guimaraes dan Riccardo Calafiori semakin memperketat persaingan di lini tengah. Arteta dikenal memiliki visi yang tidak selalu mengakomodasi gelandang serang murni selain Martin Odegaard. Hal ini membuat Eze, yang didatangkan dari Crystal Palace dengan ekspektasi tinggi, harus menerima kenyataan pahit.
Keputusan Arteta untuk tidak memasukkan Eze saat Arsenal tertinggal 0-1 dari Leeds menjadi sinyal kuat. Padahal, saat itu tim membutuhkan kreativitas untuk membongkar pertahanan lawan. Eze yang sempat bersiap masuk akhirnya harus duduk kembali setelah Arteta mengubah rencana. Momen tersebut menjadi pukulan psikologis bagi pemain berusia 27 tahun itu. Sebelumnya, cedera Christos Tzolis seharusnya membuka jalan bagi Eze untuk menjadi starter, tetapi Arteta tetap memilih opsi lain.
"Arteta memiliki track record tidak ragu menyingkirkan pemain yang tidak sesuai kebutuhan taktik, seperti yang terjadi pada Emile Smith Rowe," ujar seorang pengamat sepak bola Inggris.
Sejarah Emile Smith Rowe menjadi cerminan nyata. Lulusan akademi Hale End itu sempat menjadi penyelamat Arsenal, tetapi cedera dan performa inkonsisten membuatnya hanya tiga kali menjadi starter di Premier League sebelum akhirnya hengkang pada 2024. Eze, yang juga berposisi sebagai gelandang serang, berada di jalur yang sama. Jika ia terus bertahan tanpa menit bermain, kariernya bisa stagnan. Sebaliknya, kepindahan ke klub lain bisa menjadi titik balik untuk kembali menunjukkan kualitasnya bersama Timnas Inggris.
Dari kacamata taktik, Arteta lebih mengandalkan pemain sayap yang mampu bermain melebar dan bertahan, seperti Madueke dan Saka. Eze memang kreatif, tetapi tidak selalu cocok dengan sistem pressing tinggi Arsenal. Selain itu, kehadiran Odegaard sebagai playmaker utama membuat peran nomor 10 sulit tergantikan. Eze bukan satu-satunya pemain yang mengalami hal serupa; Gabriel Martinelli dan Leandro Trossard juga sempat merasakan rotasi ketat. Namun, bagi Eze yang masih dalam usia emas, menepi terlalu lama bisa berdampak pada performa dan nilai jualnya.
Bagi penggemar Arsenal di Indonesia, situasi ini menjadi pengingat bahwa klub-klub besar Eropa tidak segan mengambil keputusan tegas demi menjaga keseimbangan skuad. Manajemen Arsenal perlu mempertimbangkan apakah Eze masih bagian dari rencana jangka panjang atau sebaiknya dilepas untuk mendatangkan pemain yang lebih sesuai. Di sisi lain, Eze harus berani mengambil langkah berani jika ingin menyelamatkan kariernya. Pertanyaannya, akankah Eze bertahan dan berjuang, atau mengikuti jejak Smith Rowe dengan mencari klub baru? Waktu akan menjawab, tetapi tekanan semakin besar seiring bergulirnya musim.



