Koin Abad Ke-4 di Wales Buka Tabir Legenda Kaisar Romawi Magnus Maximus
Baca dalam 60 detik
- Penemuan dua koin Romawi abad ke-4 di Pembrokeshire, Wales, memperkuat dugaan bahwa legenda Mabinogion tentang perkemahan Kaisar Magnus Maximus bukan sekadar mitos.
- Benteng berukuran 180x150 meter itu diyakini menampung sekitar 500 tentara dan membalik asumsi bahwa suku Celtic setempat hidup damai dengan penjajah Romawi.
- Temuan ini membuka peluang riset lanjutan tentang jejak Romawi di wilayah terpencil Wales sekaligus menegaskan peran arkeologi dalam memverifikasi narasi sejarah lisan.

Dua koin Romawi dari akhir abad ke-4 yang ditemukan di sebuah ladang di Pembrokeshire, Wales, telah mengubah cara arkeolog memandang kisah rakyat abad pertengahan tentang Kaisar Magnus Maximus. Penemuan ini menjadi bukti fisik pertama yang mendukung catatan dalam Mabinogion, kumpulan epos Wales kuno, bahwa sang kaisar pernah mendirikan perkemahan militer di dekat puncak Frenni Fawr.
Benteng yang teridentifikasi berukuran 180 x 150 meter itu terletak di lereng dengan pandangan luas ke lanskap sekitarnya. Berdasarkan analisis awal, struktur ini mampu menampung sekitar 500 personel militer. Jika benar, keberadaannya membantah anggapan lama bahwa suku Celtic pribumi di wilayah tersebut tidak pernah bersinggungan secara konfrontatif dengan pasukan Romawi.
Dr Mark Merrony, spesialis Romawi dari Universitas Oxford yang memimpin ekskavasi, mengungkapkan bahwa lokasi ini adalah satu-satunya situs militer Romawi yang ditemukan di sekitar tempat yang disebut dalam Mabinogion. "Jika Magnus Maximus benar-benar ada di sana, pasti ada pasukan yang menyertainya," ujarnya. Menurutnya, benteng auxilia yang dibangun dengan pertahanan kuat ini dapat menjadi kunci untuk memecahkan misteri legenda yang bertahan hampir 1.700 tahun.
Dalam kisah The Dream of Macsen Wledig, penutur abad pertengahan menggunakan nama Wales untuk kaisar tersebut dan menggambarkan bagaimana ia mendirikan kemah di Frenni Fawr, puncak tertinggi di ujung timur Perbukitan Preseli. Namun, hingga kini tidak ada bukti arkeologis yang mengonfirmasi keberadaan kamp atau benteng Romawi di puncak maupun lereng bukit itu. Merrony pertama kali menemukan situs ini pada 2024 setelah citra satelit menunjukkan pola persegi panjang di lahan yang ditumbuhi semak belukar. Kunjungan pertamanya ke lokasi langsung dihadapkan pada temuan ubin Romawi, yang kemudian diikuti oleh banyak artefak lain.
Ekskavasi yang didanai Universitas Oxford dan crowdfunding ini juga mengungkap fondasi bangunan persegi panjang di tengah area serta bangunan lebih besar di sisi selatan. Menurut Merrony, tata letak tersebut konsisten dengan bangunan markas yang menghadap ke timur—dianggap sebagai arah "menghadap musuh"—dan rumah komandan. Survei geofisika memperkuat dugaan adanya struktur permanen, bukan sekadar perkemahan sementara.
"Sangat menarik membayangkan dua koin ini mungkin terkait dengan kisah Macsen Wledig—Magnus Maximus—dalam Mabinogion, epos Wales yang setara dengan Odyssey," kata Merrony.
Penemuan ini bukan yang pertama bagi Merrony. Sebelumnya ia telah mengidentifikasi dua vila Romawi di Ford, Pembrokeshire, dan Cutteslowe, Oxfordshire, serta menemukan jalan Romawi di sisi selatan Perbukitan Preseli pada 2022. Temuan jalan itu sendiri telah menantang asumsi bahwa Romawi tidak pernah masuk jauh ke Wales. Kini, benteng di Frenni Fawr memperkuat narasi bahwa kehadiran Romawi di wilayah terpencil Britain jauh lebih intens dari yang diperkirakan.
Meski demikian, sejumlah arkeolog mengingatkan bahwa kaitan langsung antara benteng dan Magnus Maximus masih memerlukan kajian lebih lanjut. Koin dari akhir abad ke-4 memang sezaman dengan masa kekuasaannya, tetapi tidak secara otomatis membuktikan bahwa sang kaisar pernah menginjakkan kaki di lokasi tersebut. Diperlukan analisis stratigrafi dan penanggalan yang lebih presisi untuk memastikan kronologi hunian.
Bagi Indonesia, kisah ini menjadi cermin tentang bagaimana legenda lokal—seperti cerita Panji atau Babad Tanah Jawi—sering kali mengandung lapisan kebenaran historis yang menunggu dibuktikan secara ilmiah. Pendekatan arkeologi yang menggabungkan citra satelit, survei geofisika, dan ekskavasi partisipatif ala crowdfunding bisa menjadi model bagi riset cagar budaya di Nusantara, terutama di situs-situs terpencil yang minim pendanaan.
Ke depan, pertanyaan besarnya bukan hanya apakah Magnus Maximus benar-benar mendirikan benteng di Frenni Fawr, melainkan seberapa dalam interaksi militer Romawi dengan masyarakat lokal di pinggiran imperium. Jika temuan ini terus berlanjut, peta kekuasaan Romawi di Britain mungkin perlu digambar ulang—dan legenda yang selama ini dianggap dongeng bisa berubah status menjadi catatan sejarah yang tertunda.



