Danso Jadi Beban Baru Sunderland, Lebih Rumit dari Kasus Xhaka
Baca dalam 60 detik
- Kapten Sunderland Granit Xhaka diterpa sanksi denda ยฃ136 ribu terkait sertifikat vaksin palsu, namun performa buruknya melawan Brighton dinilai hanya kebetulan semata.
- Bek pinjaman Tottenham Kevin Danso justru tampil lebih mengkhawatirkan dengan kehilangan duEL dan bola yang mengarah pada potensi bencana degradasi.
- Manajer Regis Le Bris menghadapi tekanan untuk mengevaluasi lini belakang sebelum krisis kepercayaan diri merusak musim Sunderland.

Kekalahan 0-2 Sunderland dari Brighton & Hove Albion pada lanjutan Premier League akhir pekan lalu menyisakan sorotan tajam, bukan hanya pada kapten Granit Xhaka yang baru saja menerima hukuman denda ยฃ136 ribu atas kasus sertifikat vaksin Covid-19 palsu, melainkan pada bek pinjaman Kevin Danso yang tampil di bawah standar. Performa Danso dalam dua laga terakhir melawan Manchester City dan Brighton menunjukkan kerentanan serius di jantung pertahanan The Black Cats.
Xhaka, yang menjalani skorsing tertunda dan absen membela Swiss di Nations League, memang tampil mengecewakan dengan kehilangan bola 26 kali tanpa menciptakan satu peluang pun. Namun, catatan statistik menunjukkan bahwa gelandang 34 tahun itu tetap memberikan kontribusi di laga-laga sebelumnya, menciptakan 13 peluang dan lima peluang besar dalam lima pertandingan awal musim. Mantan bek Sunderland Gary Bennett, dalam komentarnya untuk BBC Radio Newcastle, menilai Xhaka "tidak berada di level biasanya" dan sering kehilangan penguasaan bola. Sementara itu, jurnalis Sunderland Echo Phil Smith menyoroti umpan-umpan yang tidak akurat dan penyelesaian akhir yang buruk.
Meski demikian, masalah yang dihadapi manajer Regis Le Bris jauh lebih pelik pada sosok Danso. Bek asal Austria itu, yang dipinjam dari Tottenham Hotspur, telah mencatatkan empat penampilan sebagai starter di liga dengan statistik memprihatinkan: kalah dalam 55% duel darat dan 75% duel udara, serta kehilangan bola rata-rata 13,3 kali per pertandingan. Dalam dua laga terakhir, ia kalah lima dari tujuh duel darat dan enam dari tujuh duel udara, dengan persentase kekalahan duel mencapai 89% saat melawan Brighton. Angka-angka ini menempatkan Danso sebagai titik lemah yang lebih konsisten dibandingkan Xhaka.
Sejarah kelam Sunderland di Premier League menjadi peringatan. Pada musim degradasi 2016/17, klub mendatangkan Adnan Januzaj dengan status pinjaman dari Manchester City, tetapi pemain Belgia itu gagal mencetak gol dalam 25 penampilan dan tidak mampu mencegah turunnya tim ke Championship. Danso kini berada di jalur yang sama: pemain pinjaman dari klub besar dengan ekspektasi tinggi, tetapi belum menunjukkan kualitas yang diharapkan. Jika tidak segera diperbaiki, kehadirannya bisa menjadi katalisator perjuangan menghindari degradasi.
"Xhaka memang tampil buruk, tetapi ia sudah membuktikan kualitasnya di laga lain. Danso belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan, dan itu masalah yang lebih besar bagi Le Bris," ujar seorang pengamat taktis yang enggan disebutkan namanya.
Dari sudut pandang taktik, Le Bris perlu mempertimbangkan untuk menarik Danso dari starting line-up dalam beberapa pekan ke depan. Kelemahan fisik dan teknisnya membuat lini belakang rentan terhadap tekanan lawan, terutama saat menghadapi tim-tim dengan penyerang cepat dan kuat. Sunderland tidak bisa terus mengandalkan pemain yang belum beradaptasi dengan intensitas Premier League, terlebih jika target mereka adalah bertahan di kompetisi elit.
Keputusan Le Bris dalam beberapa pertandingan ke depan akan menjadi ujian kepemimpinannya. Apakah ia akan memberikan kesempatan kepada bek lain, atau tetap percaya pada Danso dengan harapan pemain 28 tahun itu menemukan performa terbaiknya? Yang jelas, dengan jadwal padat dan persaingan ketat, Sunderland tidak punya waktu untuk terus menunggu. Kegagalan mengambil langkah tegas bisa berujung pada skenario yang sama seperti satu dekade lalu.



