Lenny Rush dan Ciuman Perdana di Layar Kaca: Sebuah Labu, Bukan Manusia
Baca dalam 60 detik
- Aktor remaja Lenny Rush mengungkap pengalaman tak lazim saat harus mencium labu untuk adegan ciuman pertamanya di serial BBC, The Reluctant Vampire.
- Di balik komedi horor tersebut, Rush juga berbagi cerita tentang adegan kentut bersama Gary Oldman di Slow Horses yang nyaris membuatnya gagal menahan tawa.
- Serial yang dibintangi sederet aktor senior ini menyoroti tema identitas dan penerimaan diri, menjadikannya tontonan yang relevan bagi audiens muda.

Bagi sebagian besar aktor, ciuman pertama di depan kamera biasanya melibatkan lawan main manusia. Namun tidak demikian bagi Lenny Rush. Aktor berusia 17 tahun itu mengaku ciuman perdananya di layar justru dilakukan dengan sebuah labu—buah yang biasa dijadikan hiasan Halloween—dalam serial komedi BBC terbaru, The Reluctant Vampire.
Rush, yang memerankan tokoh Val, mengungkapkan bahwa adegan tersebut muncul saat karakternya berpura-pura melatih teknik berciuman pada labu besar berwarna oranye. Dalam wawancara dengan majalah The Big Issue, ia dengan jujur mengatakan tidak melakukan latihan khusus untuk adegan itu. "Saya tidak berlatih," ujarnya santai. Meski demikian, ia menegaskan bukan berarti dirinya berbakat alami dalam hal berciuman.
"Ini ciuman pertama saya di layar. Tidak banyak orang bisa mengklaim ciuman pertama mereka adalah sebuah labu," tambahnya sambil tertawa. "Jadi, ya, saya harus bisa move on dari itu."
Pengalaman unik Rush tidak berhenti di situ. Dalam proyek lain, serial mata-mata Slow Horses, ia harus beradu akting dengan Gary Oldman. Rush mengenang adegan di mana karakter Reece Nesmith, yang diperankannya, terlibat kompetisi kentut dengan tokoh Jackson Lamb yang diperankan Oldman. Ia mengaku memilih untuk tidak mendalami metode akting demi menghindari insiden memalukan di depan aktor senior tersebut.
"Ada hal aneh ketika kamu berpura-pura kentut, kamu justru merasakan dorongan untuk benar-benar melakukannya," tuturnya. "Dalam hati saya berkata, saya tidak boleh kentut di depan Gary Oldman. Itu tidak boleh terjadi." Ketika ditanya apakah Oldman akan menghargai komitmen semacam itu, Rush bercanda, "Saya rasa dia akan menghargainya. Kalau saya bilang, 'Gary, saya metode nih, boleh saya lepas satu dua?'"
"Membaca naskahnya saja sudah membuat saya tertawa terbahak-bahak, lalu sampai di adegan itu saya sadar, 'Oh, saya benar-benar harus mencium labu ini.'" — Lenny Rush kepada Rolling Stone UK.
The Reluctant Vampire sendiri mengangkat kisah Val, pewaris takhta vampir yang justru tidak pernah bisa menjalani ritual berdarah layaknya vampir normal. Ketika ibunya mengungkap bahwa ia sebenarnya manusia, Val terjebak di antara dua dunia: menyembunyikan rahasia, melindungi keluarganya, dan bergulat dengan identitasnya sendiri. Premis ini menyentuh tema pencarian jati diri yang kerap dialami remaja, dibalut dengan komedi gelap khas BBC.
Bagi industri hiburan Indonesia, kisah Rush bisa menjadi cermin bagaimana aktor muda menavigasi peran-peran tidak biasa. Di tanah air, adegan-adegan semacam ini sering kali menuai perdebatan, terutama terkait batas etika dan kesopanan. Namun, pendekatan komedi yang digunakan Rush menunjukkan bahwa adegan 'aneh' bisa diterima selama dikemas dengan cerdas dan tidak vulgar. Serial seperti ini juga membuka ruang diskusi tentang keberagaman cerita dan representasi di layar kaca.
Ke depan, apakah penonton Indonesia akan melihat lebih banyak cerita coming-of-age dengan bumbu fantasi seperti ini? Atau justru sebaliknya, sensor dan norma sosial akan semakin membatasi eksplorasi tema serupa? Yang jelas, keberanian Rush menertawakan momen canggungnya sendiri menjadi pengingat bahwa di balik layar, para aktor juga manusia biasa yang bisa salah tingkah.



