Sunderland Terpuruk: Isidor Lebih Buruk dari Angulo, Le Bris Harus Berani Coret
Baca dalam 60 detik
- Sunderland menelan kekalahan keempat dalam enam laga Premier League setelah takluk 0-2 dari Brighton di Stadium of Light.
- Wilson Isidor tampil paling mengecewakan dengan hanya 50% umpan sukses dan tanpa kontribusi defensif selama 90 menit.
- Pelatih Regis Le Bris didesak mencoret Isidor untuk laga Europa League melawan Torreense pada Kamis malam.

Sunderland kembali menelan pil pahit di ajang Premier League 2026/27. Menjamu Brighton & Hove Albion di Stadium of Light, Sabtu (lalu), The Black Cats takluk 0-2, memperpanjang tren negatif menjadi tiga kekalahan beruntun dan empat dari enam pertandingan pembuka. Dua gol Maxim De Cuyper dan Jaouen Hadjam memastikan poin penuh bagi tim tamu, meski mereka harus bermain dengan sepuluh orang setelah Pascal Struijk dikartu merah karena menarik Wilson Isidor di menit-menit akhir.
Kekalahan ini bukan sekadar angka di papan klasemen. Performa lini serang Sunderland menjadi sorotan utama. Manajer Regis Le Bris menurunkan Nilson Angulo di sisi kiri sejak awal, namun pemain asal Ekuador itu gagal membuktikan kualitasnya. Selama 73 menit, Angulo tidak melepaskan satu pun tembakan atau menciptakan peluang bagi rekan setimnya. Statistik menunjukkan ia kalah dalam 60% duel dan hanya menyelesaikan 44% dribelnya di enam laga Premier League musim ini. Melawan Brighton, ia bahkan gagal dalam enam dari tujuh percobaan dribelnya.
Meski demikian, Angulo bukanlah pemain terburuk di lapangan. Wilson Isidor, yang dipercaya mengisi posisi nomor sembilan tunggal setelah Brian Brobbey cedera saat membela Timnas Belanda, tampil jauh lebih mengecewakan. Striker asal Haiti itu hanya menyelesaikan 50% umpan dan tidak melakukan satu pun kontribusi defensif sepanjang 90 menit. Ia juga gagal melepaskan tembakan tepat sasaran atau menciptakan peluang, serta kehilangan bola rata-rata lebih dari setiap dua sentuhan.
Perbandingan antara Angulo dan Isidor menjadi cerminan betapa tumpulnya serangan Sunderland. Angulo memang masih muda, 23 tahun, dan sedang beradaptasi dengan intensitas Premier League. Ia perlu waktu untuk memperbaiki aspek fisik dan konsistensi duelnya. Namun, Isidor yang sudah berusia 26 tahun dan berpengalaman seharusnya mampu memberikan dampak lebih besar. Alih-alih menjadi ujung tombak, ia justru sering kehilangan bola dan tidak mampu menahan bola di lini depan.
"Isidor tampil buruk baik dengan maupun tanpa bola. Sudah saatnya Le Bris mencadangkannya untuk laga melawan Torreense," demikian penilaian tajam terhadap performa striker tersebut.
Keputusan Le Bris untuk tetap memainkan Isidor selama 90 menit penuh di pertandingan melawan Brighton patut dipertanyakan. Padahal, ia memiliki opsi lain seperti memainkan pemain muda atau mengubah formasi. Kekalahan ini membuat Sunderland semakin terpuruk di papan bawah, dan tekanan pada Le Bris semakin besar. Manajemen klub dikabarkan mulai tidak sabar dengan hasil buruk yang terus berlanjut.
Di sisi lain, Brighton menunjukkan efisiensi meski bermain dengan sepuluh orang. Gol De Cuyper dan Hadjam membuktikan bahwa tim asuhan Roberto De Zerbi mampu memanfaatkan kelengahan lini belakang Sunderland. Kemenangan ini mengangkat posisi Brighton ke papan tengah, sementara Sunderland harus segera bangkit jika tidak ingin terlibat dalam perebutan tempat degradasi.
Laga melawan Torreense di Europa League pada Kamis malam menjadi kesempatan bagi Le Bris untuk melakukan rotasi. Jika Isidor kembali tampil buruk, bukan tidak mungkin kursi pelatih Le Bris akan semakin panas. Sunderland membutuhkan sosok penyerang yang haus gol dan mampu menjadi target man yang merepotkan bek lawan. Apakah Le Bris berani mengambil keputusan tegas dengan mencadangkan Isidor? Publik Stadium of Light menanti perubahan sebelum musim ini semakin sulit diselamatkan.



