De Zerbi di Ambang Pemecatan: Laga di Old Trafford Jadi Penentu Nasib di Tottenham
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur terpuruk di dasar klasemen tanpa kemenangan, memicu spekulasi pemecatan Roberto De Zerbi.
- Mateus Fernandes, gelandang mahal yang belum mencetak gol dalam 20 laga, menjadi sorotan utama atas mandulnya lini serang.
- Duel melawan Manchester United pada Sabtu dini hari WIB menjadi ujian hidup-mati bagi De Zerbi dan Michael Carrick.

Roberto De Zerbi menghadapi ujian terberat dalam karier kepelatihannya di Tottenham Hotspur. Manajer asal Italia itu diprediksi tidak akan bertahan lama jika The Lilywhites kembali menelan hasil buruk saat bertandang ke markas Manchester United, Old Trafford, pada lanjutan pekan ke-13 Premier League, Sabtu (29/11/2025) malam WIB. Posisi De Zerbi kian goyah setelah Tottenham belum sekalipun meraih kemenangan di liga musim ini dan terpuruk di dasar klasemen.
Keputusan manajemen Spurs untuk mempertahankan De Zerbi pasca menyelamatkan klub dari degradasi musim lalu kini dipertanyakan. Meski mendapat dukungan penuh di bursa transfer dan menjalani pramusim lengkap, mantan arsitek Brighton itu baru mengemas tiga kemenangan dari 12 laga pertamanya di Premier League. Catatan tersebut bahkan lebih buruk dibandingkan Thomas Frank pada periode yang sama musim lalu, yang notabene hanya menang lima kali dari 12 pertandingan.
Tekanan terhadap De Zerbi bukan tanpa alasan. Tottenham saat ini tertahan di posisi juru kunci, tersingkir dari Carabao Cup, dan hanya mencetak dua gol di liga. Manajemen dikabarkan telah menyiapkan opsi pengganti, dengan nama Eddie Howe dan Arne Slot yang saat ini menganggur menjadi kandidat kuat. Situasi ini mengingatkan pada Oktober 2021, ketika Nuno Espírito Santo dipecat setelah kekalahan 0-3 dari Manchester United di London Utara, yang menjadi kekalahan kelimanya dari sepuluh laga liga.
Di sisi lain, Manchester United juga tengah dalam tekanan. Manajer Michael Carrick, yang merupakan mantan pemain Tottenham, mencatatkan start terburuk United di Premier League dengan torehan poin yang sama buruknya dengan rekor terendah klub. Duel ini menjadi pertemuan dua manajer yang sama-sama membutuhkan kemenangan untuk menyelamatkan kursi kepelatihan mereka.
Masalah terbesar Tottenham terletak pada lini serang. Dengan hanya dua gol di liga, De Zerbi dinilai gagal memaksimalkan peran Mateus Fernandes. Gelandang berharga 85 juta poundsterling itu dipaksa bermain sebagai gelandang serang, posisi yang tidak sesuai dengan karakteristiknya sebagai gelandang nomor delapan. Akibatnya, Fernandes belum mencetak gol dalam 20 pertandingan terakhirnya di Premier League, dengan peluang emas terakhirnya terbuang saat melawan Arsenal musim lalu.
"De Zerbi tidak bisa salah dalam memilih starting eleven di laga sepenting ini," tulis analisis Football FanCast, menggambarkan betapa krusialnya keputusan taktik sang manajer.
Absennya Dejan Kulusevski dan belum fitnya James Maddison memaksa De Zerbi menempatkan Fernandes sebagai kreator utama. Namun, ekspektasi tersebut tidak terpenuhi. Fernandes bahkan ditarik keluar pada babak pertama saat melawan Aston Villa pekan lalu setelah tidak mencatatkan satu pun umpan kunci. Catatan statistiknya bersama West Ham musim lalu juga tidak menjanjikan: hanya empat assist dan tiga peluang besar tercipta.
De Zerbi memiliki opsi untuk merombak lini serang dengan menurunkan Lucas Bergvall atau Mohammed Kudus sejak awal. Keduanya dianggap lebih mampu memberikan dinamika berbeda. Namun, mengubah komposisi pemain di laga sebesar ini adalah risiko besar. Jika salah langkah, bukan hanya poin yang hilang, tetapi juga masa depan De Zerbi di Tottenham bisa berakhir.
Menariknya, Fernandes sempat dikaitkan dengan kepindahan ke Manchester United musim panas lalu. Kembali ke Old Trafford bisa menjadi panggung pembuktian baginya, tetapi dengan performa yang belum konsisten, peluangnya untuk tampil sejak menit awal justru diragukan. De Zerbi dituntut untuk tegas mengambil keputusan yang mungkin tidak populer demi menyelamatkan musim Tottenham.
Pertanyaannya, apakah De Zerbi mampu menemukan formula yang tepat sebelum terlambat? Atau justru Old Trafford akan menjadi akhir dari perjalanannya di London Utara, mengulang sejarah kelam Nuno Espírito Santo empat tahun silam?



