Friedkin Group Jual Everton, tapi Warisan Terbaik Mereka Justru Datang dari Dua Rekrutan Ini
Baca dalam 60 detik
- The Friedkin Group mengejutkan publik Merseyside dengan melepas Everton hanya 22 bulan setelah mengakuisisi klub pada Desember 2024.
- Di tengah kritik atas belanja transfer, dua nama—Kiernan Dewsbury-Hall dan Thierno Barry—menjadi bukti bisnis paling menguntungkan era kepemimpinan mereka.
- Penjualan klub membuka pertanyaan soal keberlanjutan proyek David Moyes dan nasib aset-aset berharga yang baru saja matang.

Keputusan The Friedkin Group melepas Everton mengejutkan banyak pihak, terutama karena manajemen asal Amerika Serikat itu baru 22 bulan mengendalikan klub sejak Desember 2024. Di tengah sorotan atas sejumlah transfer yang dinilai kurang berdampak, warisan paling berharga mereka justru terletak pada dua pembelian yang kini menjadi tulang punggung skuad David Moyes: Kiernan Dewsbury-Hall dan Thierno Barry.
Sejak mengambil alih, Friedkin telah menggelontorkan dana lebih dari £200 juta untuk memperkuat tim. Namun, hasil di lapangan belum sepenuhnya sejalan—Everton belum mampu menembus paruh atas klasemen selama periode tersebut. Kritik terhadap jajaran direksi pun menguat, terutama terkait kebijakan rekrutmen yang dianggap tidak konsisten. Meski demikian, tidak semua keputusan belanja mereka salah sasaran.
Barry, penyerang asal Prancis berusia 23 tahun, langsung menjadi pilihan utama Moyes. Ia tampil di setiap pertandingan Premier League sejak kedatangannya dan rata-rata mencetak gol setiap 3,6 laga. Pada awal musim ini, ia bahkan mencetak lima gol dalam tujuh pertandingan pertama, termasuk trigol saat melawan Preston North End di Carabao Cup. Kemampuannya memenangkan duel udara—rata-rata 6,1 per 90 menit, menempatkannya di 5% teratas pemain liga—menjadikannya cocok dengan sistem Moyes yang mengandalkan target man.
Sementara itu, Dewsbury-Hall menjelma sebagai mesin serangan Everton. Gelandang 28 tahun itu menjadi pemain dengan kontribusi gol dan assist terbanyak di skuad musim lalu. Statistiknya menunjukkan kualitas di sepertiga akhir lapangan: 7,4 umpan pemecah pertahanan per 90 menit, tertinggi di antara rekan setimnya dan lebih baik dari 75% pemain seposisi di liga. Ia juga menjadi pemain kedua tersering dilanggar di Merseyside dengan 1,6 pelanggaran per 90 menit, bukti bahwa lawan kerap kesulitan menghentikannya secara legal.
"Dengan harga £25 juta, Dewsbury-Hall kini tampak sebagai pembelian murah yang bisa mengangkat Everton ke papan atas," demikian penilaian yang beredar di kalangan pengamat sepak bola Inggris.
Kombinasi Barry dan Dewsbury-Hall menjadi cahaya di tengah ketidakpastian masa depan klub. Keduanya tidak hanya memenuhi ekspektasi, tetapi juga meningkatkan nilai jual skuad—sebuah aset yang bisa menjadi daya tarik bagi calon pembeli Everton. Jika klub benar-benar berpindah tangan, keberadaan dua pemain ini bisa menjadi fondasi teknis yang siap pakai, atau justru komoditas yang menguntungkan secara finansial.
Bagi penggemar Everton, pertanyaan besarnya bukan lagi soal siapa yang akan pergi, melainkan apakah proyek yang telah dirintis Moyes bersama dua pemain kunci ini akan berlanjut atau justru terhenti di tengah jalan. Dalam sepak bola yang semakin didorong oleh analisis data dan efisiensi transfer, kisah Dewsbury-Hall dan Barry menjadi pengingat bahwa tidak semua belanja besar berakhir sia-sia—terkadang, dua pembelian cerdas sudah cukup untuk meninggalkan jejak.



