Pensiun Bukan Akhir: Lansia Australia Justru Jadi Tulang Punggung Restorasi Alam
Baca dalam 60 detik
- Sekitar 290.000 warga Australia aktif menjadi relawan lingkungan, dan 80 persen di antaranya berusia 55 tahun ke atas menurut survei Landcare Australia 2026.
- Mantan dokter dan pensiunan industri keju hingga peternak berusia 85 tahun mengubah lahan rusak menjadi kawasan konservasi yang mengikat secara hukum.
- Model relawan lansia ini menawarkan pelajaran bagi Indonesia yang menghadapi bonus demografi dan tekanan deforestasi di kawasan konservasi.

Di York, Australia Barat, Susan Downes berdiri di beranda sebuah rumah pertanian tua dan menyadari bahwa dirinya baru saja membeli 200 hektare lahan yang sebagian besar telah gundul. Perempuan berusia 76 tahun itu bukan petani, melainkan pensiunan dokter umum yang menghabiskan sisa hidupnya untuk menanam kembali hutan yang hilang.
Keputusan Downes bukan kasus tunggal. Data Biro Statistik Australia menunjukkan sekitar 290.000 warga terlibat sebagai relawan di organisasi perlindungan lingkungan dan kesejahteraan hewan. Yang mengejutkan, survei nasional Landcare Australia 2026 mencatat 80 persen responden berusia 55 tahun ke atas. Kelompok yang biasanya diasosiasikan dengan masa istirahat justru menjadi mesin penggerak restorasi ekosistem.
Peter Garrett, ketua Landcare Australia, menyebut generasi lanjut usia sebagai tulang punggung gerakan ini. Menurutnya, pensiun memberi waktu luang sekaligus kesempatan menimbang ulang prioritas hidup, termasuk soal warisan apa yang akan ditinggalkan bagi anak dan cucu. Garrett menilai konservasi menawarkan sesuatu yang konkret di tengah krisis global yang terasa di luar kendali individu — merawat pekarangan sendiri, sungai kecil, dan sisa semak di lembah.
Di Gold Coast, Lyn Sharp, 70 tahun, memulai keterlibatannya dari hal tak biasa: menghitung siput laut di Burleigh Heads. Lima tahun kemudian, ia mengikuti survei serangga air, penyu, platipus, pemantauan lamun, dan regenerasi semak. Sharp mengaku mendedikasikan hingga 15 jam per minggu untuk pekerjaan itu, meski bursitis di pinggul dan nyeri bahu mulai mengganggu. "Apa lagi yang mau saya lakukan? Duduk seperti sayur?" ujarnya, menegaskan tak ada yang bisa menghentikannya.
Kisah paling ekstrem datang dari Ken Hooper, 85 tahun, dan istrinya Jill, 82. Sejak 1992 mereka menggarap Wirra-Lo, lahan 180 hektare di Victoria utara, lalu membeli Moona-Bingel di New South Wales yang kini mencakup 970 hektare di bawah perjanjian konservasi. Meski menderita osteoarthritis dan dua lutut telah diganti, Ken masih menggunakan gergaji mesin. Rusa merah menjadi musuh utamanya karena mampu merusak pohon muda setinggi dua meter. "Kami butuh dua kehidupan lagi untuk melakukan semua yang kami inginkan," katanya.
"Itu seperti kecanduan," kata Ken Hooper menggambarkan pekerjaan restorasi yang tak pernah selesai.
Fenomena ini bukan sekadar cerita inspiratif. Di banyak negara, termasuk Indonesia, beban pemulihan lingkungan sering jatuh ke tangan negara atau korporasi yang memiliki sumber daya besar. Model Australia menunjukkan bahwa individu dengan waktu, keterampilan, dan komitmen jangka panjang bisa menjadi lapisan tambahan yang efektif. Downes, misalnya, memulai dengan hibah kecil untuk mengendalikan rubah dan kucing liar, lalu mendapat 24.000 pohon selama tiga tahun. Kini 120 hektare lahannya sedang diikat perjanjian konservasi agar tidak bisa dibuka kembali.
Bagi Indonesia, relevansinya cukup tajam. Negara ini memiliki jutaan hektare lahan kritis, kawasan konservasi terdegradasi, dan tekanan deforestasi yang terus berlangsung. Sementara itu, populasi lansia Indonesia diproyeksikan melonjak dalam dua dekade ke depan. Jika sebagian dari mereka memiliki akses ke lahan, dana hibah, dan pendampingan teknis, potensi kontribusi terhadap restorasi mangrove, gambut, dan hutan sekunder bisa signifikan — terutama di daerah yang selama ini bergantung pada program pemerintah yang terbatas anggaran.
Yang belum terjawab adalah soal keberlanjutan. Downes sendiri mengakui ia belum tahu siapa yang akan bertanggung jawab atas Mount Mackie setelah ia tiada. Ia berharap anak dan cucunya terinspirasi, tetapi juga mendorong adanya payung hukum yang mengikat. "Tidak ada gunanya saya di sana sendirian," ujarnya. Ia justru paling bahagia ketika melihat orang lain mencintai tempat itu dan ikut merawatnya.
Pertanyaannya untuk Indonesia: apakah kerangka kebijakan lingkungan saat ini sudah memberi ruang bagi warga lanjut usia untuk menjadi mitra resmi konservasi, ataukah mereka masih dianggap sebagai kelompok yang perlu dilayani, bukan sebagai pelaku perubahan?



