Sienna Miller Tantang Stigma: Menyusui di Publik Bukan Soal Orang Lain
Baca dalam 60 detik
- Aktris Sienna Miller menegaskan bahwa menyusui di tempat umum adalah hak ibu, bukan pelanggaran norma.
- Ia menyebut pendekatan 'bohemian' sebagai bentuk penghormatan pada tubuh dan kebutuhan bayi.
- Respons publik di media sosial mayoritas mendukung, memicu diskusi tentang ruang aman bagi ibu menyusui.

Aktris Sienna Miller kembali menjadi sorotan setelah menyatakan sikap tegasnya mengenai menyusui di ruang publik. Dalam wawancara dengan majalah Harper's Bazaar, perempuan 44 tahun itu menolak pandangan yang menganggap aktivitas tersebut sebagai hal tabu. Baginya, memberi makan bayi adalah kebutuhan dasar yang tidak seharusnya dibatasi oleh norma sosial atau ketidaknyamanan orang lain.
Miller, yang kini mengasuh tiga anak, mengungkapkan bahwa ia tidak akan ragu menyusui di mana pun, termasuk saat sedang makan malam di restoran. Ia menyebut pendekatannya sebagai "bohemian" โ sebuah sikap yang menolak kekakuan aturan sosial dan lebih mengutamakan naluri keibuan. "Jika bayi lapar dan saya sedang makan malam, ya saya akan mengeluarkan payudara saya dan menyusui. Semua orang baik-baik saja dengan itu," ujarnya seperti dikutip dari wawancara tersebut.
Pernyataan ini bukan sekadar curahan hati seorang selebritas. Miller secara tidak langsung menyoroti fenomena yang masih terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia, di mana ibu menyusui kerap mendapat tatapan sinis atau bahkan teguran ketika memberi ASI di tempat umum. Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan bayi, yang berarti ibu harus siap menyusui kapan pun dan di mana pun.
Dalam wawancara itu, Miller juga menyinggung soal rasa hormat terhadap tubuh perempuan. "Ketika Anda memiliki bayi dan menyusui, rasa hormat terhadap tubuh Anda menjadi luar biasa besar. Jika tubuh Anda memberi makan bayi Anda dan orang lain mempermasalahkan payudara Anda, itu masalah mereka, bukan Anda. Saya sedang memberi makan anak saya," tegasnya.
"Jika Anda perlu menyusui bayi Anda, lakukan saja. Orang lain harus berani menghadapinya. Itu hanya payudara." โ Sienna Miller
Pernyataan Miller mendapat dukungan luas di media sosial. Kolom komentar unggahan Harper's Bazaar di Instagram dipenuhi pujian dari warganet yang setuju bahwa menyusui di publik bukanlah tindakan tidak sopan. Salah satu komentar menyatakan, "Jika menyusui membuat seseorang tidak nyaman, mereka bisa duduk sendiri di kamar mandi, bukan ibunya yang sedang memberi makan anak." Komentar lain menambahkan, "Tidak ada ibu yang harus berpikir dua kali untuk menyusui di tempat umum."
Fenomena ini juga relevan dengan konteks Indonesia, di mana kesadaran akan hak menyusui di ruang publik masih beragam. Meskipun undang-undang telah melindungi, praktik di lapangan sering kali berbeda. Banyak ibu masih merasa terpaksa menyusui di toilet, ruang ganti, atau menutupi diri dengan kain karena takut dihakimi. Padahal, menyusui di tempat umum bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga kesehatan bayi dan hak asasi perempuan.
Miller sendiri memiliki tiga anak: Marlowe (14 tahun) dari hubungan dengan Tom Sturridge, seorang anak perempuan yang lahir Januari 2024, dan seorang bayi laki-laki yang lahir Mei lalu dari tunangannya, Oli Green. Ia belum mengungkapkan nama dua anak termudanya. Meski begitu, pengalamannya sebagai ibu telah membentuk pandangannya tentang tubuh dan otonomi perempuan.
Diskusi tentang menyusui di ruang publik memang tak pernah sepi. Di berbagai belahan dunia, gerakan "free the nipple" dan kampanye normalisasi menyusui terus bergaung. Namun, perubahan budaya tidak terjadi dalam semalam. Diperlukan edukasi dan penegakan aturan yang konsisten agar ibu merasa aman dan didukung.
Ke depan, apakah masyarakat Indonesia siap mengadopsi sikap seperti Miller? Ataukah stigma terhadap tubuh perempuan akan terus menjadi penghalang? Yang jelas, perdebatan ini bukan tentang payudara semata, melainkan tentang hak dasar seorang ibu untuk memberi makan anaknya tanpa rasa takut.



