Kapolri Suyudi Ario Seto Ingatkan Jajarannya: Pangkat dan Kekuasaan adalah Amanah, Bukan Alat Tinggi Hati
Baca dalam 60 detik
- Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menyampaikan ceramah keanggotaan Polri seusai salat Jumat berjemaah di Masjid Al-Ikhlas, Mabes Polri, Jakarta.
- Pesan utamanya: kedudukan, pangkat, dan harta tidak boleh menjadi dasar merasa lebih mulia dari orang lain.
- Seruan ini menyentuh persoalan klasik institusi kepolisian soal arogansi kekuasaan dan pentingnya keteladanan di jajaran bawah.

Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto memanfaatkan momen salat Jumat berjemaah di Masjid Al-Ikhlas, kompleks Mabes Polri, Jakarta, Jumat (9/10), untuk menyampaikan ceramah kepada anggota korpsnya. Bukan ceramah rutin soal keamanan atau operasi, melainkan pesan soal moral, kerendahan hati, dan tanggung jawab kekuasaan.
Di hadapan jemaah yang sebagian besar personel Polri, Suyudi menegaskan bahwa jabatan, pangkat, dan wewenang yang melekat pada seseorang adalah amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan. Ia meminta anggotanya tidak menjadikan posisi sebagai alat untuk merasa lebih tinggi dari orang lain, melainkan sebagai pijakan untuk melayani dan membantu mereka yang membutuhkan.
Pesan semacam ini jarang muncul dalam forum formal institusi. Biasanya, komunikasi internal Polri lebih banyak menyorot kesiapan operasional, penegakan hukum, atau arahan strategis. Ceramah seusai salat Jumat memberi nuansa berbeda: Suyudi berbicara dalam kapasitas pemimpin yang mengingatkan dimensi etis dari profesi kepolisian, bukan sekadar komandan yang membagi tugas.
Dalam ceramahnya, Suyudi menyoroti bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh seberapa tinggi pangkat, seberapa besar kekayaan, atau seberapa strategis jabatan yang diemban. Menurutnya, ukuran kemuliaan justru terlihat dari akhlak, ketulusan hati, dan cara memperlakukan orang lain. Pandangan ini sejalan dengan nilai-nilai yang kerap digaungkan dalam pembinaan mental personel kepolisian, meski dalam praktiknya tidak selalu mudah diterapkan.
"Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk bersikap bijaksana, peduli terhadap sesama, dan memberikan teladan yang baik," ujar Suyudi, seperti disampaikan dalam ceramahnya.
Pernyataan itu menyentuh persoalan yang cukup sensitif di tubuh institusi penegak hukum. Selama bertahun-tahun, citra arogansi oknum kepolisian menjadi salah satu keluhan publik yang paling sering muncul. Kasus penyalahgunaan wewenang, gaya hidup mewah di luar batas kewajaran, hingga perilaku kasar terhadap masyarakat menjadi sorotan yang sulit dihapus dari ingatan kolektif. Karena itu, pesan agar personel tetap sederhana dan menghormati sesama bukan sekadar retorika keagamaan, melainkan respons terhadap ekspektasi publik yang tinggi terhadap reformasi Polri.
Dalam konteks yang lebih luas, ceramah ini bisa dibaca sebagai upaya internal memperkuat budaya organisasi. Kepolisian menghadapi tekanan ganda: tuntutan profesionalisme dalam penegakan hukum dan tuntutan moral dari masyarakat yang semakin kritis. Ketika seorang Kapolri berbicara soal kerendahan hati di depan jajarannya, pesan itu menyasar akar persoalan, yakni cara personel memandang kekuasaan yang mereka pegang.
Menurut Suyudi, sikap rendah hati adalah cermin akhlak mulia yang harus dijaga setiap orang, terlebih mereka yang mengemban tanggung jawab besar. Ia mengingatkan bahwa harta, kedudukan, maupun pangkat bukan alasan untuk merasa lebih unggul dibanding orang lain. Ia juga berharap jemaah salat Jumat di Mabes Polri dapat mengambil hikmah dari ceramah tersebut untuk terus memperbaiki diri dan mempererat persaudaraan di lingkungan kerja.
Yang menarik, pesan semacam ini tidak disampaikan dalam apel pagi atau rapat pimpinan, melainkan dalam forum ibadah. Pemilihan momen itu memberi bobot tersendiri: pesan moral disampaikan dalam ruang yang menuntut kesadaran batin, bukan sekadar kepatuhan struktural. Bagi institusi yang kerap dikritik karena budaya hierarki yang kaku, pendekatan ini bisa menjadi sinyal bahwa pembinaan personel tidak hanya soal disiplin teknis, tetapi juga pembentukan karakter.
Ke depan, publik tentu menunggu apakah pesan-pesan semacam ini berjalan seiring dengan perbaikan nyata di lapangan. Ceramah soal amanah dan kerendahan hati akan diuji ketika anggota Polri berhadapan dengan masyarakat kecil, menghadapi tekanan politik, atau berada dalam situasi yang mempertemukan kepentingan kekuasaan dan keadilan. Sebab pada akhirnya, kemuliaan institusi tidak diukur dari pidato pemimpinnya, melainkan dari perilaku sehari-hari anggotanya di jalanan.



