Vowles Desak Revisi Cost Cap F1: 'Kami Tak Bertarung dengan Aturan Setara'
Baca dalam 60 detik
- James Vowles menilai regulasi batas biaya F1 justru membekukan keunggulan tim besar karena investasi pra-cap dianggap sebagai hak istimewa.
- Williams harus mengeluarkan sekitar $200 juta untuk mengejar ketinggalan, namun depresiasi aset memakan $20 juta per musim dari anggaran operasional.
- Vowles menyerukan perubahan sistem menjelang regulasi mesin 2030/2031 agar F1 kembali menjadi meritokrasi, bukan warisan modal.

Prinsipal tim Williams, James Vowles, kembali menyerukan peninjauan ulang regulasi cost cap Formula 1. Ia menilai aturan saat ini tidak adil karena mengunci keunggulan kompetitif tim-tim papan atas yang sudah berinvestasi besar sebelum batas biaya diberlakukan. Vowles menyatakan bahwa Williams harus mengeluarkan sekitar $200 juta untuk mengejar ketertinggalan, dan depresiasi aset tersebut akan menggerus anggaran operasional hingga $20 juta per musim selama satu dekade.
Sejak bergabung dengan Williams menjelang musim 2023, Vowles memang getol memperjuangkan keringanan belanja modal (capital expenditure/CapEx) bagi tim-tim kecil. Pada awalnya, F1 menetapkan batas CapEx terpisah sebesar $36 juta selama lima tahun, namun kemudian diubah menjadi skema bertingkat berdasarkan posisi konstruktor. Williams, bersama AlphaTauri (RB), Alfa Romeo (Sauber), dan Haas, mendapat tambahan sekitar $20 juta. Kini, batas CapEx menyatu dalam cost cap keseluruhan senilai $215 juta per musim, tetapi tetap tunduk pada depresiasi garis lurus yang memaksa amortisasi biaya dalam jangka waktu tetap.
Menurut Vowles, kondisi ini menciptakan semacam "BOP terbalik"โdi mana keunggulan justru dinikmati tim yang sudah memiliki fasilitas mumpuni. "Apa pun investasi yang Anda lakukan tujuh tahun lalu adalah yang menentukan performa Anda hari ini. Itu bukan yang seharusnya terjadi," ujarnya, seperti dikutip Motorsport.com. Ia menambahkan bahwa dukungan terhadap revisi aturan sebenarnya sudah mengemuka, tetapi tim-tim besar akan sulit menerima posisi mereka melemah. "Kami sudah punya cukup suara, tetapi ini bukan sekadar soal voting. Ini tentang mencari solusi jangka panjang untuk olahraga," tegasnya.
Vowles mengakui bahwa cost cap berhasil menciptakan stabilitas finansial, tetapi gagal mempersempit jarak kompetitif. Bahkan, ia mengklaim kesenjangan justru melebar. Data yang ia paparkan: hanya satu kemenangan non-tim papan atas dalam 130 grand prix terakhir (kemenangan Esteban Ocon di GP Hungaria 2021). Sebelumnya, pembalap non-top four bisa naik podium 10% dari total balapan; kini hanya 5%. "Tidak peduli statistik mana yang Anda pilih, semuanya menunjukkan kami membuat keadaan lebih buruk," tandasnya.
Ia juga menyoroti beban operasional akibat fasilitas usang. Proses manufaktur yang tidak efisien membuat Williams mengeluarkan biaya 25โ30% lebih tinggi per komponen dibanding tim besar, dan suku cadang itu baru tiba sekitar empat minggu lebih lambat. "Musim dingin ini sangat terasa ketika kami harus memproduksi 55.000 komponen sekaligus," ungkapnya. Vowles menekankan bahwa masalahnya bukan sekadar belanja modal, melainkan ketidakmampuan mengejar ketertinggalan karena aturan yang ada. "Saya tidak minta perlakuan istimewa. Saya hanya ingin bertarung dengan alat yang sama," ujarnya.
"Ini bukan pertarungan yang adil. Ini bukan meritokrasi. Kami terjebak dalam sistem yang menghukum tim yang tertinggal." โ James Vowles
Vowles menyadari bahwa perubahan tidak bisa instan. Bahkan jika hari ini ia diberi tambahan $150 juta, ia tidak bisa membelanjakan semuanya dalam sepekan. "Butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun fasilitas yang tepat. Itulah mengapa saya angkat bicara sekarang, menjelang perubahan regulasi besar pada 2030 atau 2031," jelasnya. Ia berharap momentum revisi regulasi itu bisa menjadi titik balik untuk merombak cara olahraga ini beroperasi.
Desakan Vowles ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah F1 benar-benar ingin menjadi kompetisi yang setara, ataukah tetap nyaman dengan dominasi tim-tim besar yang sudah menanam modal besar sejak lama? Jika tidak ada perubahan, jurang kompetitif bisa semakin lebar, dan semangat olahraga yang mengandalkan kecepatan, strategi, dan inovasi akan tergerus oleh warisan kekayaan semata.



