Jason Isaacs Rayakan 28 Tahun Bebas Narkoba: 'Tanpa Pertolongan, Saya Sudah Mati'
Baca dalam 60 detik
- Aktor Jason Isaacs menandai 28 tahun hidup tanpa narkoba dan alkohol, mengaku kecanduan yang dialaminya nyaris merenggut nyawanya.
- Ia menekankan bahwa perubahan besar hanya mungkin terjadi jika seseorang berani meminta bantuan, bukan mengandalkan kekuatan sendiri.
- Kisah Isaacs menjadi pengingat bahwa pemulihan dari adiksi adalah proses panjang yang membutuhkan dukungan sosial dan akses layanan kesehatan mental.

Aktor senior Jason Isaacs menegaskan bahwa kecanduan narkoba yang pernah menguasai hidupnya hampir pasti membunuhnya jika ia tidak berhenti 28 tahun lalu. Pria berusia 63 tahun itu merayakan tonggak pemulihan pada pekan ini, tetapi ia menolak perayaan itu berhenti pada dirinya sendiri. Ia justru ingin menyampaikan pesan kepada siapa pun yang merasa terjebak dalam lingkaran serupa.
Dalam unggahan di media sosial, Isaacs mengenang momen 28 tahun silam ketika ia bangun setelah tidur pertama tanpa narkoba selama puluhan tahun. Sejak saat itu, ia menjalani hidup tanpa alkohol dan obat-obatan terlarang. โSaya tidak mengatakan ini untuk membanggakan diri, melainkan agar pesan ini sampai kepada mereka yang merasa tidak ada jalan keluar,โ ujarnya, seperti dikutip dari keterangan tertulisnya.
Isaacs, yang dikenal lewat peran dalam Harry Potter dan The White Lotus, menggambarkan masa lalunya sebagai periode tanpa harapan. Ia bahkan mengaku hanya menunggu kematian datang, tetapi tidak mampu mempercepatnya. Kini, ia menyebut hidupnya dipenuhi harapan, meski tidak selalu menyenangkan. Kuncinya, kata dia, adalah kemampuan untuk menyerahkan kendali dan meminta pertolongan.
Pesan Isaacs menyoroti satu hal yang sering terlewat dalam diskursus pemulihan adiksi: bahwa kekuatan diri sendiri tidak cukup. Dalam keterangan tertulisnya, ia menegaskan bahwa orang lain membutuhkan dukungan dan bantuan untuk bisa pulih. โAnda tidak bisa melakukannya sendiri. Cara berpikir terbaik Anda justru membawa Anda ke titik ini, jadi mungkin inilah saatnya meminta bantuan. Banyak tangan menunggu untuk menangkap Anda,โ tulisnya.
โJika Anda berada dalam situasi sulit, jika Anda merasa tidak ada jalan keluar, saya di sini untuk mengatakan bahwa selalu ada. Mintalah bantuan.โ โ Jason Isaacs
Kisah Isaacs bukan sekadar narasi selebritas. Ia menyentuh persoalan yang dihadapi banyak orang di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia pada kelompok usia produktif masih menjadi perhatian serius. Akses terhadap layanan rehabilitasi dan dukungan kesehatan mental kerap menjadi hambatan, terutama di daerah dengan fasilitas terbatas. Stigma sosial juga membuat banyak orang enggan mencari pertolongan.
Dalam konteks itu, pesan Isaacs tentang pentingnya meminta bantuan menjadi relevan. Ia tidak menawarkan solusi instan, melainkan menggarisbawahi bahwa pemulihan adalah proses panjang yang membutuhkan dukungan berkelanjutan. Pengalaman Isaacs juga menunjukkan bahwa pemulihan tidak selalu berarti hidup menjadi sempurna. โHidup tidak selalu membahagiakan, tetapi saya bersyukur masih hidup,โ ujarnya.
Ke depan, kisah seperti ini dapat mendorong diskusi lebih terbuka tentang adiksi dan kesehatan mental, terutama di ruang publik. Pertanyaannya, apakah masyarakat dan institusi siap menyediakan ruang aman bagi mereka yang ingin berubah? Tanpa itu, pesan Isaacs hanya akan menjadi cerita inspiratif tanpa dampak nyata.



