Everton Kehilangan Beto, Moyes Bergantung pada Barry: Peluang Emas Braiden Graham?
Baca dalam 60 detik
- Everton menjual Beto ke Fiorentina tanpa mendatangkan pengganti, menyisakan Thierno Barry sebagai satu-satunya penyerang murni.
- Braiden Graham, penyerang 18 tahun dari akademi, mencetak 37 gol dalam 60 laga dan siap mengambil peluang di tim utama.
- Manajer David Moyes menghadapi tekanan untuk kembali ke Eropa, sementara lini depan yang tipis menjadi risiko besar.

Everton memulai musim baru dengan lini serang yang rapuh setelah menjual Beto ke Fiorentina pada akhir jendela transfer musim panas. Penyerang asal Guinea-Bissau itu menghabiskan tiga tahun di Goodison Park dan menjadi top skor klub di Premier League selama tiga musim penuh, tetapi manajemen memilih melepasnya tanpa mendatangkan pengganti. Kini, Thierno Barry menjadi satu-satunya penyerang tengah yang tersisa, memikul beban mencetak gol sendirian.
Keputusan tersebut menuai kritik, terutama karena Everton sempat menunjukkan tanda-tanda kebangkitan musim lalu. Mereka sempat bersaing di papan tengah atas sebelum rentetan tujuh pertandingan tanpa kemenangan menjatuhkan mereka ke peringkat 12. Tanpa tambahan amunisi di lini depan, ambisi David Moyes untuk membawa The Toffees kembali ke kompetisi Eropa—atau setidaknya bersaing di piala domestik—menjadi taruhan besar.
Barry, yang didatangkan dari Villarreal dengan harga £27 juta, memang menunjukkan performa menjanjikan awal musim ini: lima gol dan satu assist di semua kompetisi, termasuk gol kemenangan melawan Ipswich Town sebelum jeda internasional. Namun, konsistensinya masih dipertanyakan. Musim lalu, ia sempat hilang sebelum Natal dan tidak stabil setelahnya. Kini, dengan status sebagai satu-satunya ujung tombak, tekanan fisik dan mental akan jauh lebih berat. Jika ia cedera, Everton tidak memiliki pelapis sepadan.
"Kami tidak bisa mengandalkan satu pemain saja. Butuh kontribusi dari lini kedua dan pemain muda," ujar seorang sumber internal klub yang enggan disebutkan namanya.
Di tengah keterbatasan itu, nama Braiden Graham muncul sebagai oase. Penyerang kelahiran Balleygowan, Irlandia Utara, itu telah mencuri perhatian pelatih U21 Everton, David Hughes, yang memujinya memiliki "performa luar biasa" dan "disiplin luar biasa". Graham belum genap 19 tahun, tetapi instingnya di depan gawang sudah teruji di level akademi. Kecepatan, kelincahan, dan penyelesaian akhirnya membuatnya serba bisa di lini serang.
Graham juga telah mencicipi atmosfer tim nasional. Ia empat kali duduk di bangku cadangan tim senior Irlandia Utara—meski belum debut—dan baru saja menjalani debut bersama tim U21 bulan ini. Dengan 37 gol dari 60 penampilan bersama tim pengembangan Everton, ia jelas bukan sekadar pelengkap. Peluang untuk menembus tim utama semakin terbuka lebar mengingat tipisnya stok penyerang.
Namun, apakah Moyes berani memberikan kepercayaan kepada pemain muda? Sejarah menunjukkan ia lebih memilih pemain berpengalaman, terutama dalam situasi tertekan. Tetapi kebutuhan akan gol bisa memaksa Moyes mengambil risiko. Jika Graham mampu beradaptasi dengan fisik dan intensitas Premier League, ia berpotensi menjadi solusi jangka panjang—atau setidaknya memberikan opsi tambahan di bangku cadangan.
Everton sendiri memiliki tradisi nomor punggung 9 yang ikonik. Beto mungkin bukan yang terbaik, tetapi sebelumnya ada nama-nama besar. Barry belum secara resmi mewarisi nomor tersebut, dan jika tidak ada pembelian besar pada Januari, nomor itu bisa tetap kosong. Di sinilah Graham bisa mencuri kesempatan, mengukir namanya seperti para pendahulu.
Konteks Indonesia: Kisah Everton ini mirip dengan dilema yang kerap dihadapi klub-klub Liga 1 yang menjual striker andalan tanpa pengganti sepadan. Tim seperti Persija Jakarta atau Persib Bandung pernah mengalami ketergantungan pada satu penyerang, lalu goyah saat cedera. Pelajaran bagi manajemen klub Indonesia: regenerasi dan kedalaman skuad adalah kunci, bukan sekadar mengandalkan satu nama. Everton kini bertaruh pada pemain muda; akankah mereka menuai hasil, atau justru menyesal karena tidak berinvestasi di bursa transfer?
Dengan jendela transfer Januari masih beberapa bulan lagi, Moyes harus memaksimalkan sumber daya yang ada. Barry akan menjadi tumpuan, tetapi Graham bisa menjadi kejutan. Jika ia terus mencetak gol di level U21 dan menunjukkan sikap profesional, bukan tidak mungkin ia dipanggil ke tim utama sebelum akhir tahun. Publik Everton menanti sosok yang bisa mengakhiri puasa gol dan membawa klub kembali bersaing. Mampukah Graham menjadi jawabannya?



