Panduan Headphone Nirkabel Terbaik untuk Pelari: dari Shokz hingga AirPods Pro 3
Baca dalam 60 detik
- Shokz OpenFit 2+ dan OpenRun Pro 2 mendominasi kategori headphone olahraga berkat teknologi bone conduction dan daya tahan baterai hingga 48 jam dengan case.
- AirPods Pro 3 menawarkan fitur pemantauan detak jantung pertama di kelasnya, sementara JLab Go Sport+ menjadi pilihan hemat dengan harga sekitar $35.
- Beats 360 dan JBL SoundGear Sense melengkapi daftar, masing-masing unggul dalam peredam bising dan kualitas suara bass untuk kebutuhan treadmill maupun lari santai.

Memilih headphone untuk lari bukan sekadar soal suara jernih. Pelari membutuhkan perangkat yang tetap kokoh di telinga meski tubuh bergerak dinamis, tahan terhadap keringat, dan mampu menemani sesi panjang tanpa kehabisan daya. Dari sekian banyak opsi di pasaran, tujuh model wireless menonjol karena dirancang khusus untuk kebutuhan olahraga—bukan sekadar headphone sehari-hari yang dipakai untuk berlari.
Shokz, merek yang mempopulerkan teknologi bone conduction, kembali memimpin dengan dua varian: OpenFit 2+ dan OpenRun Pro 2. OpenFit 2+ mengandalkan kait telinga yang nyaman dan tidak menyumbat saluran pendengaran, sehingga pelari tetap waspada terhadap lingkungan sekitar. Baterainya diklaim mampu bertahan hingga 11 jam dalam sekali pengisian, plus case yang menyimpan cadangan daya hingga 48 jam. Menurut Brady Langmann, editor senior Esquire yang memakainya setiap hari, headphone ini ringan, aman, dan cocok untuk berbagai bentuk telinga. Ia bahkan menyebut kualitas suaranya—termasuk peredam bising—sebagai yang terbaik di kelas bone conduction.
Bagi pelari yang lebih menyukai model neckband, OpenRun Pro 2 menawarkan strap leher yang nyaman untuk lari jarak jauh. Salah satu pelari di tim Esquire mengaku bisa mendengar setiap kata podcast dengan jelas meski tidak ada yang masuk ke dalam telinga. Teknologi ini terasa seperti keajaiban sains, kecuali saat truk besar melintas. Model ini dirancang untuk mereka yang mengutamakan stabilitas ekstra dan tampilan khas pelari serius.
Apple AirPods Pro 3 mencuri perhatian dengan sensor detak jantung bawaan—yang pertama di lini AirPods. Fitur ini memang paling akurat jika dipadukan dengan Apple Watch, seperti dijelaskan Krista Jones, direktur commerce Esquire. Dalam ulasannya, ia menulis bahwa kedua perangkat bekerja bersama untuk meningkatkan akurasi statistik detak jantung. Meski demikian, sebagai earbuds olahraga, AirPods Pro 3 tetap unggul: nyaman, mudah dipasangkan dengan iPhone, dan menawarkan opsi noise-cancelling yang bisa diaktifkan atau dimatikan.
Untuk anggaran terbatas, JLab Go Sport+ menjadi jawara. Dengan harga sekitar $35, kualitas suaranya tergolong mengesankan. Tidak ada ANC, tetapi baterainya bertahan sekitar sembilan jam dan hingga 35 jam dengan case. Desain kait telinga mencegah earbuds lepas saat berlari. Ukurannya cenderung kecil, sehingga pas untuk telinga mungil, namun pengguna dengan telinga lebih besar perlu mencoba terlebih dahulu.
Beats 360 menawarkan pengalaman over-ear untuk treadmill. Desain modularnya memungkinkan bantalan telinga dan headband diganti, sementara bahan performance knit sangat efektif menyerap keringat. Peredam bisingnya disebut kelas atas, cocok untuk gym ramai. Meski kurang ideal untuk lari outdoor jarak jauh, headphone ini memberikan kenyamanan premium dan fokus penuh pada latihan.
Shokz OpenDots One, meski tidak sepopuler model lain, menjadi favorit untuk sesi elliptical 30–40 menit. Earbuds ini tidak pernah tergelincir dan bisa dipakai di telinga mana pun karena desainnya simetris. Kualitas suaranya setara dengan headphone Shokz lain, meski harganya mencapai $200. Bagi yang menyukai bentuk ini, investasinya dianggap sepadan.
JBL SoundGear Sense menjadi pilihan Josh Rosenberg, editor hiburan Esquire. Ia mengaku tidak bisa memakai earbuds dengan kait karena justru mengganggu, tetapi SoundGear Sense yang open-ear berhasil memberikan suara terbaik di antara headphone berkait yang pernah ia coba. Karakter bass khas JBL tetap terjaga tanpa terpengaruh bentuknya.
Dalam memilih headphone lari, ada empat faktor utama yang perlu dipertimbangkan: kenyamanan pas, daya tahan terhadap air dan keringat, daya tahan baterai minimal enam jam, serta fitur noise-cancelling. ANC memang populer, tetapi untuk lari di jalan raya, kemampuan mendengar suara sekitar justru lebih penting. Model open-ear atau bone conduction menawarkan keseimbangan antara musik dan keselamatan.
Di Indonesia, tren lari jarak jauh dan gym semakin meningkat, terutama di kota-kota besar. Headphone dengan teknologi bone conduction seperti Shokz bisa menjadi solusi bagi pelari urban yang perlu tetap waspada terhadap lalu lintas. Sementara itu, AirPods Pro 3 dengan sensor detak jantung berpotensi menarik bagi pengguna Apple yang ingin memantau kesehatan tanpa perangkat tambahan. Sayangnya, harga headphone premium ini masih menjadi kendala di pasar Indonesia, dengan pajak impor yang membuatnya semakin mahal. Ke depan, persaingan di segmen headphone olahraga akan semakin ketat, terutama dengan munculnya fitur kesehatan terintegrasi. Akankah produsen lokal mampu menghadirkan alternatif yang setara dengan harga lebih terjangkau?



