Samsung Bawa Terapis Hubungan ke Kampanye Ponsel, Galaxy Z Fold8 Jadi Rebutan
Baca dalam 60 detik
- Samsung meluncurkan kampanye 'Switchers' dengan pendekatan konseling hubungan, melibatkan selebritas reality show dan mantan atlet NFL untuk menyasar pengguna ponsel merek lain.
- Data internal Samsung menunjukkan 23 persen pembeli Galaxy Z Fold8 berasal dari kompetitor, sementara preorder seri Galaxy Z tercatat memecahkan rekor.
- Langkah ini menandai pergeseran strategi pemasaran teknologi dari spesifikasi teknis ke pendekatan emosional, dengan harga jual yang tetap premium di pasar global.

Samsung mengambil jalan tidak biasa dalam persaingan ponsel premium: menjadikan psikologi hubungan sebagai senjata pemasaran. Perusahaan asal Korea Selatan itu baru saja meluncurkan kampanye bertajuk "Switchers", yang menggandeng sejumlah nama dari dunia hiburan dan olahraga untuk membujuk pengguna setia merek lain agar berpindah ke perangkat lipat mereka.
Alih-alih memamerkan spesifikasi teknis, Samsung mengangkat narasi keterikatan emosional yang membuat konsumen bertahan pada ponsel lama. Pendekatan ini melibatkan Dr. Orna Guralnik dari acara "Couples Therapy", bintang "The Traitors" Ciara Miller dan Dylan Efron, pasangan "Love Island" Carl Schmidt dan Aniya Harvey, serta mantan juara NFL Nick Foles dan Clay Matthews. Pesan utamanya: familiaritas tidak selalu berarti kecocokan.
Strategi tersebut tampaknya berbuah angka. Samsung melaporkan bahwa 23 persen pembeli Galaxy Z Fold8 merupakan pengguna yang beralih dari merek pesaing. Preorder untuk seri Galaxy Z terbaru juga disebut mencatat permintaan tertinggi sepanjang sejarah lini produk lipat mereka. Selain itu, perangkat ini mulai masuk ke layar Hollywood melalui penampilan di film "Spider-Man: Brand New Day".
Bagi Samsung, kampanye ini bukan sekadar gimmick. Pasar ponsel lipat masih menjadi ceruk yang mahal dan penuh tantangan. Harga Galaxy Z Fold8 yang mencapai US$2.099,99—setara Rp33 juta—membuat calon pembeli perlu alasan kuat untuk beralih. Di sinilah pendekatan konseling hubungan berperan: menyasar keraguan emosional pengguna yang sudah nyaman dengan ekosistem lama mereka.
Uji coba perangkat ini dilakukan dalam ajang US Open final tunggal putri pada September lalu. Dalam situasi pertandingan langsung, layar lipat yang luas dan kemampuan kamera fleksibel dinilai memudahkan pengambilan gambar dari berbagai sudut, meninjau hasil foto, hingga berpindah antar-aplikasi tanpa harus menutup jendela lain. Desain buku yang bisa dilipat memungkinkan pengguna memanfaatkan sudut pandang berbeda saat memotret, tidak terpaku pada posisi genggam standar.
Samsung juga menjawab kekhawatiran klasik saat berganti ponsel: memindahkan data bertahun-tahun. Teknologi Smart Switch diklaim mempermudah migrasi foto, pesan, dan kontak dari perangkat lain. Dukungan pesan RCS menghadirkan fitur seperti laporan baca, reaksi, dan percakapan grup yang lebih kaya di ponsel yang kompatibel. Ada pula Quick Share untuk berbagi berkas, meski ketersediaannya bergantung pada perangkat lawan bicara.
"Mengganti ponsel tidak harus berarti memulai dari nol," demikian pesan utama kampanye Samsung, sebagaimana dikutip dari materi promosi mereka.
Bagi pasar Indonesia, langkah Samsung ini menyiratkan dua hal. Pertama, perang ponsel premium kian bergeser dari adu spesifikasi ke pertempuran narasi dan loyalitas merek. Kedua, dengan harga foldable yang masih di atas Rp30 juta, segmen ini tetap eksklusif. Namun, kehadiran Galaxy Z Fold8 di pasar global—termasuk Indonesia—bisa memicu diskon atau trade-in agresif dari kompetitor seperti Apple dan Oppo yang juga menggarap perangkat lipat.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah ponsel lipat layak dibeli, melainkan seberapa cepat konsumen Indonesia akan tergoda meninggalkan zona nyaman mereka. Jika kampanye berbasis emosi ini berhasil di pasar global, bukan tidak mungkin gelombang serupa akan segera menyambangi konsumen Tanah Air.



