Lioness Tembus 210 Hari di Top 10 Paramount+, Sinyal Musim Keempat Menguat
Baca dalam 60 detik
- Serial mata-mata Taylor Sheridan, Lioness, bertahan lebih dari 210 hari di daftar 10 besar Paramount+ Amerika Serikat menurut FlixPatrol.
- Musim ketiga mencatat skor 88% di Rotten Tomatoes, jauh melampaui musim perdana yang hanya 54%.
- Hingga kini Paramount+ belum mengumumkan perpanjangan musim keempat, meski aktris sekaligus produser Jill Wagner yakin hal itu akan terjadi.

Serial mata-mata Lioness buatan Taylor Sheridan mencatatkan pencapaian langka: lebih dari 210 hari bertahan di jajaran sepuluh acara paling banyak ditonton di Paramount+ Amerika Serikat. Data agregator FlixPatrol menempatkan serial ini bersanding dengan South Park dan NCIS — sebuah posisi yang jarang diraih drama bertema operasi rahasia.
Pencapaian itu menjadi penanda bahwa Sheridan, yang selama ini identik dengan jagat koboi Yellowstone, berhasil memindahkan magnetnya dari peternakan Dutton ke medan operasi lintas negara. Lioness mengikuti Joe McNamara, perwira senior CIA yang diperankan Zoe Saldaña, yang memimpin program penyusupan agen perempuan ke wilayah berisiko tinggi. Program itu digambarkan jauh dari kata selalu berhasil — setiap kegagalan membawa korban nyata, dan itulah yang membuat serial ini terasa berbeda dari drama spionase arus utama.
Kekuatan lain terletak pada jajaran pemain pendukung: Nicole Kidman, Morgan Freeman, dan Michael Kelly. Kehadiran mereka membuat ketegangan di ruang rapat tak kalah intens dibanding adegan di lapangan. Sheridan secara konsisten membangun konflik birokrasi dan moral yang mengiringi setiap misi, bukan sekadar aksi tembak-menembak.
Musim ketiga mengambil risiko struktural dengan memindahkan sebagian besar cerita ke daratan Amerika. Dua musim sebelumnya selalu menghadirkan personel militer perempuan yang ditugaskan menyusup ke kelompok teroris besar. Pada musim terbaru, Joe justru berada di pusat bahaya: ia disergap dan diculik agen asing, situasi yang memaksanya menunjukkan kerentanan di balik sikap kerasnya. Saldaña mengurai lapisan karakter itu hingga titik puncaknya.
"Kita akan dapat musim 4. Kita akan dapat. Saat orang melihat apa yang [Sheridan] tulis untuk finale, kita akan dapat musim 4. Atau saya bayar Anda 100 dolar," ujar aktris sekaligus produser Jill Wagner kepada Screen Rant.
Pernyataan Wagner mencerminkan keyakinan internal produksi, meski keputusan akhir tetap di tangan Paramount+. Perilaku platform itu memang tidak lazim: mereka kerap menunggu berbulan-bulan sebelum mengumumkan perpanjangan. Musim ketiga sendiri baru diumumkan sekitar sepuluh bulan setelah musim kedua tamat, sehingga jeda saat ini masih dalam pola yang biasa.
Dari sisi industri, fenomena Lioness memperlihatkan bahwa konten bergenre spionase masih memiliki pasar loyal di tengah banjir adaptasi komik dan waralaba fantasi. Model penceritaan Sheridan — lambat membangun karakter, cepat mengeksekusi konflik — terbukti mampu menahan penonton dalam jangka panjang, sesuatu yang jarang terjadi pada serial streaming yang biasanya mengandalkan lonjakan awal lalu surut.
Finale musim ketiga meninggalkan kail besar: identitas dalang penculikan Joe terungkap, dan sosok itu adalah wajah yang sudah dikenal — pertanda ancaman sistemik bagi seluruh tim. Kombinasi popularitas global dan potensi alur itu membuat perpanjangan terasa hampir pasti, meski belum resmi.
Pertanyaannya kini bukan sekadar apakah musim keempat akan diproduksi, melainkan seberapa jauh Sheridan berani mendorong Joe ke titik terendah berikutnya — dan apakah penonton Indonesia, yang kian akrab dengan drama politik-militer lewat platform streaming, akan ikut menanti dengan antusiasme yang sama.



