Sigma Rilis Lensa Tele 50-120mm f/2.8 Ringan untuk APS-C, Tantang Dominasi Full-Frame
Baca dalam 60 detik
- Sigma meluncurkan lensa zoom tele 50-120mm f/2.8 DC OS Contemporary untuk kamera APS-C, melengkapi trio lensa f/2.8 mereka.
- Bobotnya hanya 380 gram dan dibanderol $799, jauh lebih ringan dan murah dibanding lensa full-frame 70-200mm f/2.8.
- Lensa ini tersedia untuk mount Sony E, Fujifilm X, dan Canon RF mulai 22 Oktober, tetapi belum ada kepastian untuk Nikon Z.

Sigma resmi melengkapi jajaran lensa zoom f/2.8 untuk kamera APS-C dengan memperkenalkan 50-120mm F2.8 DC OS Contemporary. Lensa telephoto ini menawarkan panjang fokus setara 75-180mm pada sensor crop, dan menjadi anggota ketiga setelah 10-18mm F2.8 serta 18-50mm F2.8. Peluncuran ini menegaskan bahwa fotografer APS-C kini memiliki opsi lensa cepat yang sebelumnya hanya identik dengan sistem full-frame.
Keunggulan utama lensa ini terletak pada kombinasi ukuran mungil, bobot enteng, dan harga bersaing. Dengan panjang hanya 10 cm dan berat 380 gram, lensa ini nyaris tidak membebani tas kamera. Harganya dipatok $799 (sekitar Rp12,5 juta) untuk pasar Amerika dan ยฃ699 di Inggris, jauh lebih ramah kantong dibanding lensa full-frame 70-200mm f/2.8 yang bisa menembus $2.000 dan berbobot sekitar 1 kg. Bagi fotografer jalanan, event, atau perjalanan, perbedaan ini sangat signifikan.
Meski demikian, tidak semua fotografer kebagian. Lensa ini hanya hadir untuk mount Sony E, Fujifilm X, dan Canon RF. Pengguna Nikon Z untuk sementara harus gigit jari karena Sigma belum mengonfirmasi kehadiran lensa ini di mount tersebut. Sebagai kompensasi, Sigma mengumumkan lensa travel zoom 16-300mm untuk Nikon Z, namun itu bukan lensa f/2.8 yang dinanti. Di kubu Fujifilm, sudah ada XF 50-140mm f/2.8 R LM OIS WR, tetapi bobotnya dua kali lipat dan harganya lebih mahal. Sementara Sony dan Canon belum memiliki lensa sekelas ini untuk kamera APS-C mirrorless mereka.
"Lensa ini bisa jadi legenda APS-C yang sedang dalam proses," demikian komentar yang muncul di salah satu thread Reddit, seperti dikutip dari sumber berita.
Keputusan Sigma memangkas jangkauan telephoto hingga 180mm (bukan 200mm) dan tidak mendukung teleconverter tampaknya menjadi kompromi untuk mencapai desain ringkas. Bagi banyak fotografer, trade-off ini masuk akal: lensa tele f/2.8 yang muat di genggaman dan hanya sepertiga bobot lensa full-frame adalah daya tarik besar. Apalagi, kualitas optik Sigma pada lensa 10-18mm f/2.8 sebelumnya sudah terbukti mumpuni, sehingga ekspektasi terhadap 50-120mm pun tinggi.
Bagi pasar Indonesia, kehadiran lensa ini berpotensi mengerek minat terhadap kamera APS-C, terutama di kalangan kreator konten dan fotografer profesional muda yang mencari peralatan ringan namun bertenaga. Harga yang lebih terjangkau juga membuka peluang bagi mereka yang ingin naik kelas dari lensa kit tanpa harus bermigrasi ke full-frame. Dengan semakin agresifnya Sigma meramaikan ekosistem APS-C, persaingan di segmen lensa mirrorless diprediksi menghangat, dan konsumen diuntungkan dengan pilihan yang lebih variatif.
Pertanyaannya kini: apakah Canon dan Sony akan merespons dengan lensa sejenis, atau justru membiarkan Sigma menguasai ceruk ini? Sementara itu, pengguna Nikon Z masih menanti kejelasan apakah lensa ini akan menyusul ke mount mereka. Yang jelas, langkah Sigma memperkuat narasi bahwa APS-C bukan lagi sekadar pilihan anggaran, melainkan sistem serius dengan dukungan optik yang makin lengkap.



