CyboPal ONE: Monitor 4K Berbodi Lengan Robotik, Tawaran Rp25 Juta yang Menguji Batas Komputasi Personal
Baca dalam 60 detik
- CyboPal ONE memadukan layar 27 inci 4K 160Hz dengan lengan robotik enam sumbu yang dapat mengikuti postur pengguna secara otomatis.
- Kampanye Kickstarter-nya telah melampaui target pendanaan hingga 11.000%, dengan harga early bird sekitar US$1.599 sebelum naik ke US$2.499.
- Perangkat ini mengandalkan chip Rockchip RK3588 dan sensor 3D binokular, tetapi masih bergantung pada PC eksternal untuk komputasi utama.

Lengan monitor yang selama ini dikenal sebagai perangkat pasif yang sekadar menopang layar kini mendapat tantangan baru. CyboPal, perusahaan teknologi yang berbasis di Hong Kong, memperkenalkan CyboPal ONE—sebuah terminal desktop robotik yang menggabungkan panel 27 inci resolusi 4K 160Hz dengan lengan robotik enam sumbu yang mampu bergerak mengikuti posisi tubuh penggunanya.
Perangkat ini dipasarkan melalui platform urun dana Kickstarter dengan harga super early bird US$1.599 (sekitar Rp25 juta), jauh di bawah harga ritel yang direncanakan US$2.499. Meski banderolnya tergolong premium, animo backer cukup tinggi: hingga penutupan kampanye pada 21 November 2026, pendanaan telah menembus lebih dari 11.000% dari target awal HK$80.000, atau setara sekitar HK$8,8 juta (US$1,1 juta).
Keunikan utama CyboPal ONE terletak pada kemampuannya menyesuaikan posisi layar secara dinamis. Dengan memanfaatkan sensor 3D binokular dan kamera HDR terpisah, lengan robotik ini dapat mendeteksi keberadaan pengguna, menghindari halangan di meja, dan merencanakan jalur pergerakan. CyboPal mengklaim fitur pelacakan wajah dapat memindahkan layar ke posisi ideal dalam waktu kurang dari empat detik, dengan jangkauan hingga 747mm.
Pengguna dapat mengontrol perangkat melalui beragam mode: mengingat posisi yang telah disimpan, memberi perintah suara untuk mendekatkan atau menjauhkan layar, memutar orientasi, hingga beralih ke mode potret. Gestur tangan juga didukung untuk menggeser layar dan menggulir konten, sementara ketukan keras di meja akan menghentikan gerakan lengan. Pendekatan ini menjadikan ONE bukan sekadar monitor, melainkan asisten yang hadir secara fisik di ruang kerja.
"AI seharusnya juga mengubah apa itu komputer," ujar Frederic Peng, pendiri dan CEO CyboPal, dalam pengumuman peluncuran perusahaan.
Meski mengusung konsep komputasi mandiri, ONE sejatinya bukan pengganti PC. Chip RK3588 yang tertanam dalam "Linux AI Compute Base" berfungsi sebagai otak robot—menangani pelacakan wajah, pengenalan gestur, dan penginderaan spasial—tetapi untuk tugas komputasi berat, pengguna tetap memerlukan laptop atau desktop yang terhubung melalui USB-C. Port yang sama juga dapat mengisi daya hingga 65W. Agen suara Pauli berjalan di klien desktop CyboPal untuk Windows, macOS, dan Linux, sementara input HDMI 2.1 memungkinkan perangkat lain seperti ponsel atau tablet menggunakan panel sebagai layar eksternal.
Dari sisi penerapan, ONE menyasar pengguna yang sering berpindah posisi sepanjang hari, termasuk mereka yang bekerja sambil berdiri atau berbaring. Gizmodo Japan bahkan menilai perangkat ini berpotensi dimanfaatkan sebagai alat bantu medis bagi individu dengan mobilitas terbatas. Namun, klaim tersebut masih bersifat spekulatif karena belum ada pengujian independen yang membuktikan keandalan perangkat dalam skenario nyata.
Bagi pasar Indonesia, kehadiran perangkat seperti CyboPal ONE menandai gelombang baru dalam kategori periferal komputasi premium. Dengan harga early bird yang setara Rp25 juta, perangkat ini jelas tidak menyasar konsumen massal, melainkan profesional kreatif, eksekutif, atau penggemar teknologi awal yang ingin mencoba konsep ruang kerja adaptif. Tantangan terbesarnya adalah ekosistem pendukung: apakah perangkat lunak CyboPal mampu berintegrasi mulus dengan berbagai aplikasi produktivitas yang umum digunakan di Indonesia, serta bagaimana ketersediaan layanan purna jual di wilayah Asia Tenggara.
Keberhasilan kampanye Kickstarter memang mencerminkan antusiasme terhadap inovasi, tetapi juga menyimpan risiko khas proyek urun dana. Backer pada dasarnya membayar untuk monitor, lengan robotik, dan sebuah taruhan pada perangkat lunak yang belum teruji secara independen. CyboPal mengklaim produksi massal telah berjalan, namun belum ada bukti publik yang menunjukkan unit siap kirim dalam waktu dekat.
Jika CyboPal ONE benar-benar terwujud sesuai janji, ia bisa menjadi titik balik dalam cara kita berinteraksi dengan layar—dari perangkat statis menjadi mitra yang responsif terhadap tubuh dan ruang. Namun, dengan harga yang terus naik setelah masa early bird berakhir, pertanyaan kuncinya bukan lagi soal inovasi, melainkan apakah nilai yang ditawarkan sebanding dengan risiko dan biaya yang harus ditanggung pengguna awal.



