ChatGPT Bikin Kartun Gaya New Yorker, Tanda Tangan Kartunis Asli Ikut Dipalsukan
Baca dalam 60 detik
- ChatGPT dilaporkan menghasilkan kartun bergaya New Yorker lengkap dengan tanda tangan kartunis sungguhan yang tidak terlibat.
- Praktik ini memicu kekhawatiran baru soal atribusi palsu yang melibatkan identitas kreator nyata, bukan sekadar karya AI anonim.
- OpenAI mengaku telah menerima laporan dan berjanji memperbaiki perilaku tak diinginkan, sementara gugatan hak cipta dari media besar masih bergulir.

ChatGPT kembali menjadi sorotan setelah sejumlah kartunis mengungkap bahwa chatbot besutan OpenAI itu tidak hanya meniru gaya visual majalah The New Yorker, tetapi juga membubuhkan tanda tangan mereka pada gambar yang sama sekali tidak mereka buat. Temuan ini pertama kali dilaporkan oleh Nieman Lab dan menandai babak baru persoalan atribusi di era kecerdasan buatan generatif.
Kartunis Brendan Loper, yang karyanya rutin menghiasi The New Yorker, mengaku menemukan namanya tertera di sejumlah kartun buatan AI. Ia menegaskan tidak pernah menyentuh karya-karya tersebut. Salah satu gambar yang sempat viral di media sosial menampilkan Dolly Parton dan Tim Curry di gerbang surga, lengkap dengan tanda tangan yang menyerupai milik Loper. Gambar itu dibuat setelah seseorang meminta ChatGPT menghasilkan kartun "bergaya New Yorker" melalui Facebook, lalu menyebar luas di X dan platform lain.
Loper bukan satu-satunya korban. Di sebuah forum Reddit bertema ChatGPT, puluhan gambar dengan tanda tangan palsu kartunis lain turut beredar. Sebagian besar kreator tersebut tidak mengetahui karyanya "dipakai" oleh model bahasa yang dilatih dengan data internet dalam jumlah masif.
Insiden ini memperlihatkan pergeseran masalah: jika sebelumnya publik hanya mempertanyakan keaslian gambar, kini mereka juga harus meragukan keabsahan tanda tangan dan atribusi lain yang menempel pada karya digital. Praktik pemalsuan identitas kreator berpotensi merusak reputasi para seniman, sekaligus mengaburkan batas antara karya otentik dan rekayasa mesin.
"Kami menghargai komunitas yang melaporkan bug dan perilaku tak diinginkan, sehingga kami dapat memperbaikinya," ujar juru bicara OpenAI dalam surel kepada Yahoo Tech. "Kami percaya masa depan kreativitas pada dasarnya adalah manusiawi, dan fokus kami adalah membangun alat yang memberdayakan kreativitas serta para kreator."
Setelah Nieman Lab menghubungi OpenAI, reporter tersebut mulai melihat peringatan "prompt ini mungkin melanggar guardrail kami terkait kemiripan dengan konten pihak ketiga" ketika meminta ChatGPT membuat kartun bergaya New Yorker. Meski demikian, chatbot tetap menghasilkan gambar, beberapa di antaranya masih menyertakan tanda tangan palsu. Ketika Yahoo Tech mencoba sendiri, ChatGPT membuat gambar sesuai permintaan tanpa tanda tangan, namun di beberapa kesempatan tetap memunculkan pesan peringatan serupa.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi cermin penting. Ekosistem kreatif tanah air—ilustrator, komikus, desainer grafis—semakin akrab dengan alat AI generatif. Tanpa regulasi yang jelas soal atribusi dan hak moral, risiko serupa bisa menimpa kreator lokal. Perlindungan hukum atas tanda tangan dan identitas visual perlu diperkuat, terutama ketika platform AI global beroperasi lintas yurisdiksi.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah AI bisa meniru gaya, melainkan sejauh mana ia boleh mengklaim identitas manusia di balik karya. Jika guardrail OpenAI masih bisa ditembus dengan prompt sederhana, akankah industri kreatif menuntut standar transparansi baru—atau justru mempercepat adopsi teknologi yang sama untuk melindungi karya mereka?



