Googlebook Generasi Pertama Diuji: Snapdragon X Elite Unggul, tapi Baterai Jadi Titik Lemah
Baca dalam 60 detik
- Lima laptop Googlebook perdana dari Acer, Asus, Dell, HP, dan Lenovo telah melewati uji benchmark laboratorium, dengan hasil yang belum sepenuhnya memuaskan.
- Chip Snapdragon X Elite milik Qualcomm tampil sekitar 50% lebih baik dibanding Intel Core Ultra 5 325 Panther Lake pada pengujian multi-core dan grafis, meski daya tahan baterai jauh dari klaim resmi Google.
- Kehadiran Googlebook berpotensi mengubah peta laptop kelas menengah, tetapi pengguna Android di Indonesia masih harus menunggu ketersediaan resmi dan harga lokal.

Lima laptop Googlebook generasi pertama dari Acer, Asus, Dell, HP, dan Lenovo baru saja melewati rangkaian pengujian benchmark laboratorium. Hasilnya menunjukkan bahwa perangkat berbasis sistem operasi anyar Google ini mampu bersaing di kelasnya, tetapi belum sepenuhnya mendominasi โ terutama pada aspek daya tahan baterai yang menjadi perhatian utama calon pembeli.
Googlebook bukan sekadar Chromebook dengan nama berbeda. Perangkat ini menjalankan Googlebook OS, sistem operasi yang menggabungkan elemen Android dan ChromeOS, serta dilengkapi asisten Gemini yang terintegrasi langsung. Tujuannya jelas: memberi pengguna Android pengalaman ekosistem mulus seperti yang dinikmati pemilik iPhone dengan MacBook. Namun, klaim tersebut baru bisa dibuktikan lewat performa nyata, bukan sekadar janji pemasaran.
Konfigurasi awal kelima laptop ini seragam: RAM 16GB dan SSD 512GB. Tiga model โ Acer, Asus, dan Lenovo โ mengandalkan prosesor Intel Core Ultra 5 325 Panther Lake, sedangkan Dell XPS Googlebook 14 dan HP Googlebook 14 memakai chip Qualcomm Snapdragon X Elite. Perbedaan dapur pacu inilah yang kemudian menjadi sorotan utama dalam pengujian.
Pada Geekbench 6 yang mengukur performa CPU secara umum, trio Intel menunjukkan hasil serupa di kategori single-core dan multi-core. Namun, Dell dan HP dengan Snapdragon X Elite menorehkan skor multi-core yang jauh lebih tinggi. Temuan ini mengindikasikan bahwa chip Qualcomm memang lebih cocok untuk platform Googlebook, setidaknya berdasarkan beban kerja sintetis.
Menariknya, Googlebook berbasis Intel masih mampu mengungguli Dell XPS 13 dan Lenovo Chromebook Plus 14 Gen 10 โ dua perangkat pembanding โ pada beberapa skenario. Namun, MacBook Air M5 tetap menjadi tolok ukur tertinggi di hampir semua uji CPU. Meski demikian, Dell dan HP tidak tertinggal terlalu jauh, membuktikan kapabilitas Snapdragon X Elite di segmen laptop tipis.
Pada benchmark CrossMark yang menilai produktivitas, kreativitas, dan responsivitas, terjadi pola yang kontras. Laptop Intel unggul di produktivitas dan responsivitas, sementara perangkat Snapdragon menonjol di kreativitas. Skor agregat keduanya relatif seimbang. Sementara itu, Dell XPS 13 dan MacBook Air justru tertinggal jauh di seluruh kategori CrossMark โ sebuah anomali yang menunjukkan bahwa optimalisasi perangkat lunak memainkan peran besar.
Untuk performa grafis, 3DMark Wild Life Extreme menempatkan Googlebook berbasis Snapdragon X Elite di atas versi Intel, baik dari sisi skor maupun frame per second. Kendati demikian, tidak ada satu pun Googlebook yang mampu menembus 60 fps. MacBook Air M5 masih menjadi juara untuk urusan gaming, sementara XPS 13 dan Chromebook Plus 14 Gen 10 sebaiknya tidak diandalkan untuk bermain game.
"Berdasarkan hasil benchmark, Googlebook memang impresif, tetapi belum benar-benar mengejutkan. Daya tahan baterai menjadi kekhawatiran terbesar, terutama ketika laptop modern sudah bisa bertahan lebih dari 20 jam."
Isu baterai menjadi temuan paling krusial. Google mengklaim daya tahan sekitar 14 jam, tetapi pengujian internal yang lebih ketat โ menelusuri 30 situs web aktif setiap 30 detik pada kecerahan 150 nits โ hanya menghasilkan sekitar 6,5 jam untuk Asus Googlebook 14 dan hampir 12 jam untuk HP Googlebook 14. Semua pesaing yang diuji dalam kondisi serupa mencatat waktu bertahan yang lebih panjang.
Ada beberapa catatan penting. Pengujian baru dilakukan sekali, bukan tiga kali seperti biasanya. Layar juga dijalankan pada refresh rate 120Hz, yang secara default aktif. Selain itu, semua unit yang diuji memakai panel OLED yang dikenal lebih boros daya. Jika produsen memilih panel LCD, daya tahan bisa lebih baik โ dan Google tidak mewajibkan OLED pada standar perangkatnya.
Dari sisi harga, Dell XPS Googlebook 14 dan HP Googlebook 14 dibanderol mulai US$999 dan US$1.149. Keduanya menjadi rekomendasi utama bagi pengguna Android yang mencari laptop dengan integrasi ekosistem terbaik. Namun, bagi konsumen Indonesia, pertanyaan besarnya adalah kapan perangkat ini masuk secara resmi dan berapa harga lokalnya. Pasar laptop Tanah Air masih didominasi merek-merek dengan layanan purna jual mapan, sehingga kehadiran Googlebook berpotensi mengubah lanskap kompetisi โ asalkan Google serius membangun kanal distribusi dan dukungan lokal.
Ke depan, Googlebook harus membuktikan bahwa janji interoperabilitas Android benar-benar terasa di penggunaan sehari-hari, bukan hanya di atas kertas spesifikasi. Jika baterai dan ketersediaan global menjadi penghambat, akankah Googlebook sekadar menjadi eksperimen menarik, atau justru awal pergeseran besar di pasar laptop konsumen?



