IMF Peringatkan AI Bisa Jadi Berkah Sekaligus Bom Waktu bagi Ekonomi Global
Baca dalam 60 detik
- Kristalina Georgieva menyebut investasi AI sebagai pendorong pertumbuhan, tetapi juga sumber risiko inflasi dan gejolak pasar keuangan.
- Utang publik dunia mendekati level tertinggi sejak Perang Dunia II dan diproyeksikan melampaui 100% PDB, dengan negara maju sebagai penyumbang terbesar.
- IMF menilai ruang fiskal kian sempit dan mendesak pembuat kebijakan segera mengambil keputusan sulit sebelum pasar bereaksi keras.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva menyatakan kecerdasan buatan (AI) kini menjadi penentu utama posisi relatif negara dalam ekonomi global, namun pada saat yang sama membawa tekanan yang dapat mengancam pertumbuhan. Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah forum di Singapura, menjelang rangkaian pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia pekan depan.
Georgieva menggambarkan ekonomi dunia sedang ditarik ke dua arah berlawanan: guncangan negatif dari sisi pasokan energi akibat konflik di Teluk yang telah berlangsung delapan bulan, dan guncangan positif dari lonjakan investasi AI. Efek gabungannya, menurut dia, sangat tidak merata antarnegara.
Di sisi positif, investasi AI global sebagai persentase PDB diproyeksikan menyamai bahkan melampaui belanja yang pernah dikucurkan untuk membangun jaringan kereta api, listrik, dan telekomunikasi. Produk perangkat keras AI dan teknologi terkait sudah menyumbang lebih dari sepersepuluh perdagangan barang dunia. IMF memperkirakan AI dapat menambah hingga setengah poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi global per tahun jika dikelola dengan tepat.
Namun, manfaat tersebut kemungkinan besar hanya dinikmati segelintir negara yang terlibat dalam rantai pasok AI global. Negara-negara yang tidak terhubung justru berisiko tertinggal, memperlebar ketimpangan ekonomi dunia. "Suka atau tidak suka, AI sudah ada di sini," ujar Georgieva, seraya menekankan bahwa ledakan pembangunan AI bersifat inflasioner, sama seperti guncangan energi, pangan, tarif, dan belanja pertahanan.
Harga minyak bertahan di atas US$100 per barel seiring konflik Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian diplomatik. Harga diesel ritel juga mencetak rekor tertinggi akibat kapasitas kilang yang terbatas. Tekanan inflasi ini langsung merambat ke pasar obligasi, dengan imbal hasil surat utang di Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang melonjak ke level tertinggi dalam beberapa dekade.
Georgieva juga menyoroti risiko stabilitas keuangan yang tersembunyi di balik boom AI. Selama laba perusahaan kuat, harga saham dan efek kekayaan mendorong perekonomian. Tetapi jika laba mengecewakan, leverage perusahaan hyperscaler dan kepemilikan saham AS yang besar di seluruh dunia dapat mengubah kekecewaan menjadi guncangan yang meluas. Mengutip Hukum Amara, ia mengingatkan bahwa periode risiko maksimum justru terjadi di masa transisi antara pembangunan AI hari ini dan datangnya manfaat AI di masa depan.
"Suka atau tidak suka, AI sudah ada di sini. Ledakan pembangunan AI bersifat inflasioner, dan kita sedang berada di periode risiko maksimum." โ Kristalina Georgieva, Direktur Pelaksana IMF
Di sisi fiskal, Georgieva mencatat utang publik global berada di level tertinggi sejak Perang Dunia II dan sebentar lagi akan melampaui 100% PDB. Negara maju disebut sebagai penyumbang terburuk. Selama 17 tahun, pemerintah menikmati suku bunga yang lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi, tetapi kenaikan suku bunga kini mengakhiri masa mudah itu. Selisih antara bunga dan pertumbuhan dinilai semakin tidak menguntungkan dan diproyeksikan terus memburuk.
Tekanan sudah terlihat di Eropa, di mana spread obligasi terhadap bund Jerman melebar bukan hanya untuk Prancis dan Italia, tetapi juga Irlandia, Portugal, dan negara lain yang sebelumnya berhasil menekan defisit pasca-krisis zona euro. Setelah serangkaian guncangan yang membengkakkan utang publik, ruang fiskal di banyak negara dinilai sangat membutuhkan pengisian ulang.
Bagi Indonesia, peringatan IMF ini relevan. Sebagai ekonomi yang tengah membangun ekosistem digital dan AI, Indonesia perlu memastikan investasi teknologi tidak menciptakan gelembung yang rentan terhadap koreksi global. Ketergantungan pada modal asing dan fluktuasi harga komoditas energi membuat ruang fiskal Tanah Air juga menghadapi ujian. Pemerintah dituntut menjaga disiplin anggaran sembari mendorong produktivitas di sektor teknologi.
Georgieva menegaskan bahwa pertahanan pertama adalah regulasi dan pengawasan. Ia menilai sekarang mungkin waktu yang tepat bagi banyak negara untuk menerapkan bias moneter yang hati-hati namun cenderung hawkish. Pertanyaannya, apakah para pembuat kebijakan akan bergerak sebelum pasar memaksa mereka, atau justru menunggu hingga gejolak AI dan utang menjadi kenyataan yang tidak bisa dihindari?



