Enam dari Sepuluh Developer Kini Menghindari AI, Sinyal Pergeseran Besar di Industri Teknologi
Baca dalam 60 detik
- Survei Stack Overflow terhadap 30.000 pengembang di 169 negara mengungkap mayoritas responden memilih membatasi penggunaan AI dalam pekerjaan sehari-hari.
- Ketidakpuasan kerja di kalangan pengembang melonjak, dengan hampir sepertiga menyatakan tidak bahagia dan hanya 22,3 persen merasa puas.
- Ketergantungan pada AI untuk keputusan penting sangat rendah, menandakan krisis kepercayaan yang dapat memengaruhi adopsi teknologi di perusahaan.

Sebuah survei global yang dirilis Stack Overflow pada Selasa (waktu setempat) mengungkap temuan kontraintuitif: di tengah gencarnya adopsi kecerdasan buatan di industri teknologi, mayoritas pengembang perangkat lunak justru berupaya menghindari penggunaan AI. Survei yang melibatkan 30.000 pengembang dari 169 negara itu menunjukkan enam dari sepuluh responden secara aktif membatasi ketergantungan mereka pada alat AI, meskipun 65 persen mengaku tetap memakai asisten kode atau agen AI dalam pekerjaan.
Temuan ini menjadi cermin paradoks industri yang selama ini digadang sebagai pionir transformasi AI. Laporan Indeed Hiring Lab tahun lalu bahkan menempatkan profesi pengembang perangkat lunak sebagai pekerjaan yang paling berpotensi diubah oleh AI. Namun, data terbaru memperlihatkan resistensi yang tumbuh, bukan karena ketidaktahuan, melainkan karena kekecewaan terhadap keterbatasan teknologi itu sendiri.
Laura Housh, seorang insinyur perangkat lunak yang mulai memakai AI pada 2024, mengaku hubungannya dengan teknologi ini kini penuh dilema. "Saya sudah mencoba memakainya untuk coding, tetapi saya tidak bisa sepenuhnya menerimanya," ujarnya. Menurut Housh, AI memang bisa memberi arahan atau menjadi pengamat kedua, tetapi tidak memiliki konteks yang cukup untuk benar-benar berguna. Keluhan serupa datang dari Audrey Eschright, pengembang berpengalaman 20 tahun, yang menilai agen AI tidak memiliki pengetahuan umum seluas pengembang senior maupun pemahaman spesifik tentang pekerjaan karyawan lama.
CEO Stack Overflow Prashanth Chandrasekar menuturkan bahwa kecemasan ini bukan semata soal penggantian tenaga kerja. "Orang-orang harus benar-benar merombak cara kerja mereka, dan cukup mencemaskan ketika mereka tidak tahu pasti seberapa besar pekerjaannya akan diotomatisasi," katanya. Ia menambahkan bahwa programmer senior merasa keahlian yang diasah bertahun-tahun jadi kurang relevan, sementara pekerja tingkat awal dituntut beroperasi seolah punya pengalaman tiga tahun karena standar yang dinaikkan AI.
"Menulis kode adalah cara Anda memecahkan masalah. Sebagai insinyur perangkat lunak, proses memahami cara kerja sistem adalah dengan mengubahnya," ujar Audrey Eschright.
Survei Stack Overflow juga mencatat bahwa 74 persen responden menilai AI berguna untuk implementasi kode dan 72 persen untuk debugging. Namun, hanya 34,4 persen yang melihat manfaat AI untuk fungsi lain seperti komunikasi dan desain. Angka ini menggarisbawahi bahwa AI masih dianggap alat teknis sempit, bukan mitra kerja serbaguna. Sementara itu, laporan Deloitte Januari 2026 menemukan 54 persen dari 3.200 pemimpin bisnis dan TI berencana memindahkan 40 persen atau lebih eksperimen AI mereka ke produksi dalam tiga hingga enam bulan ke depanโsebuah percepatan yang justru memperbesar taruhan.
Di Indonesia, gelombang serupa mulai terasa. Perusahaan teknologi dan startup lokal kian gencar mengintegrasikan AI untuk efisiensi, tetapi kesenjangan keterampilan dan kekhawatiran etis masih menjadi ganjalan. Banyak pengembang di Tanah Air yang mengaku tertekan mengikuti perkembangan alat AI terbaru, sementara tuntutan produktivitas terus meningkat. Fenomena ini berpotensi memicu gelombang burnout di sektor teknologi domestik jika tidak diimbangi dengan pelatihan yang memadai dan kejelasan peran.
Ke depan, pertanyaan besarnya bukan lagi apakah AI akan menggantikan pekerjaan, melainkan seberapa besar kepercayaan yang akan diberikan para profesional kepadanya. Dengan hanya 6,6 persen yang bersedia mempercayai AI untuk keputusan penting, industri mungkin perlu meninjau ulang strategi adopsi: apakah mengejar otomatisasi penuh atau membangun kolaborasi yang lebih manusiawi? Jika resistensi ini berlanjut, ledakan produktivitas yang dijanjikan AI bisa jadi jauh lebih lambat dari perkiraan.



