Jagex Umumkan RuneScape 4: Dari Ekspansi Dragonwilds Menjadi MMO Penuh
Baca dalam 60 detik
- Jagex mengumumkan RuneScape 4 dengan judul sementara, melanjutkan waralaba MMO legendaris yang telah berjalan sejak 2001.
- Game ini awalnya direncanakan sebagai ekspansi untuk Dragonwilds, namun berkembang menjadi proyek MMO mandiri setelah masukan dari penguji.
- Dibangun dengan Unreal Engine, RuneScape 4 diprediksi melampaui target rilis 2027 dan menimbulkan pertanyaan tentang nasib RuneScape 3 serta Old School.

Jagex secara resmi mengumumkan kelanjutan waralaba RuneScape dengan judul sementara RuneScape 4 pada ajang RuneFest akhir pekan ini. Pengumuman tersebut menandai babak baru bagi salah satu MMO tertua yang masih aktif, sekaligus mengonfirmasi bahwa proyek yang semula direncanakan sebagai ekspansi untuk game survival Dragonwilds telah bertransformasi menjadi sekuel penuh.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Menurut pengembang Jagex, para penguji Dragonwilds berulang kali meminta pendekatan MMO yang lebih konvensional dengan memanfaatkan latar dan gaya visual game tersebut. Permintaan itu kemudian mendorong studio untuk memperluas cakupan proyek, dari yang awalnya hanya ekspansi menjadi game mandiri. Dampaknya, target rilis yang semula dipatok pada 2027 hampir dipastikan mundur karena skala produksi yang jauh lebih besar.
Teaser trailer yang ditayangkan memperlihatkan arah artistik RuneScape 4 yang menggabungkan elemen RuneScape 3 dengan Old School RuneScape. Dalam cuplikan tersebut, terlihat kota abad pertengahan bergaya Dragon Quest di lembah hijau bawah pulau-pulau melayang, pertarungan antara penunggang naga dan naga berkepala tiga, serta seorang penyihir yang menyambut petualang baru. Visual ini menegaskan bahwa Jagex ingin menyasar nostalgia pemain lama sekaligus memikat generasi baru.
Bagi Jagex, keputusan ini adalah taruhan besar. Old School RuneScape yang berbasis pada versi 2007 justru menjadi produk paling sukses studio saat ini. Sementara RuneScape 3 masih beroperasi dengan basis pemain setia. Pertanyaan yang kemudian muncul: apakah Jagex akan mempertahankan RuneScape 3 setelah RuneScape 4 hadir, atau justru mengalihkan seluruh progres karakter seperti yang terjadi saat transisi dari RuneScape 2 ke RuneScape 3? Hingga kini, belum ada pernyataan resmi mengenai hal tersebut.
"Penguji terus meminta pendekatan MMO yang lebih tradisional untuk latar dan estetika game survival," ujar seorang pengembang Jagex, seperti dikutip dari laporan MMORPG.com.
Dari kacamata industri, pengumuman ini memperlihatkan bahwa genre MMO masih dianggap prospektif oleh pengembang besar. Di tengah dominasi game live service berbasis mobile dan battle royale, Jagex justru melipatgandakan komitmen pada PC dan konsol. Langkah ini bisa menjadi sinyal bahwa pasar hardcore MMO belum sepenuhnya mati, terutama jika dikemas dengan teknologi mutakhir seperti Unreal Engine.
Di Indonesia, kabar ini berpotensi menggairahkan kembali komunitas MMO yang sempat redup. RuneScape sendiri memiliki basis pemain loyal di Tanah Air, meski tidak sebesar game Korea atau Tiongkok. Kehadiran RuneScape 4 dengan grafis modern dan mekanisme yang lebih ramah bisa menjadi pintu masuk bagi pemain baru. Namun, tantangan utamanya tetap sama: infrastruktur internet yang belum merata dan preferensi pasar yang kian bergeser ke game mobile. Jika Jagex serius menggarap pasar Asia Tenggara, mereka perlu mempertimbangkan server lokal dan dukungan bahasa Indonesia.
Ke depan, publik masih menantikan detail lebih lanjut dari RuneFest, termasuk apakah RuneScape 4 akan memiliki model bisnis berlangganan seperti pendahulunya atau mengadopsi skema free-to-play dengan microtransaction. Yang jelas, Jagex telah membuka lembaran baru bagi waralaba berusia lebih dari dua dekade ini. Akankah RuneScape 4 mampu menyatukan pemain lama dan baru, atau justru terperangkap dalam bayang-bayang kesuksesan Old School? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal pasti: era baru RuneScape telah dimulai.



