Prime Day Amazon 6–7 Oktober: Gelombang Penipuan Digital Mengintai, Kenali Pola dan Cara Menghindarinya
Baca dalam 60 detik
- Amazon Prime Day edisi Oktober berlangsung 6–7 Oktober, memicu lonjakan transaksi daring yang diprediksi melampaui rekor Juli 2025 senilai US$24,1 miliar.
- Penipuan siber bermodus phishing, vishing, dan smishing diprediksi meningkat tajam, memanfaatkan ekspektasi konsumen terhadap notifikasi pengiriman dan konfirmasi pesanan.
- Konsumen diimbau tidak mengklik tautan atau memberikan data pribadi tanpa verifikasi mandiri melalui aplikasi resmi Amazon, serta mengaktifkan autentikasi dua faktor.

Amazon Prime Day edisi musim gugur akan digelar pada 6–7 Oktober, dan seperti tahun-tahun sebelumnya, ajang diskon besar-besaran ini diprediksi menjadi magnet bagi pelaku kejahatan siber. Data Adobe Analytics menunjukkan periode Prime Day Juli 2025 mencatat penjualan hingga US$24,1 miliar, naik 30% dibanding tahun sebelumnya. Angka itu menjadi sinyal bahwa gelombang transaksi besar selalu diikuti oleh lonjakan upaya penipuan yang menyasar konsumen.
Sejak dimulai pada 2015 sebagai promosi sehari khusus anggota Prime, Prime Day kini menjelma menjadi empat hari di musim panas dan dua hari di musim gugur. Tahun ini, lebih dari 300 juta produk ditawarkan dengan diskon. Namun, di balik euforia belanja, pelaku penipuan memanfaatkan momen ketika konsumen tengah menunggu konfirmasi pesanan, pembaruan pengiriman, dan notifikasi kedatangan barang.
Pola penipuan yang paling sering muncul adalah pesan teks atau surel yang mengaku dari Amazon dan mengonfirmasi pembelian yang tidak pernah dilakukan. Pesan itu menyertakan tautan untuk menyanggah transaksi dan nomor layanan pelanggan. Korban yang panik biasanya diminta memasukkan informasi akun, termasuk nomor kartu kredit, yang berujung pada pencurian identitas. Pelaku bahkan mampu memalsukan nomor telepon resmi Amazon sehingga tampil di layar ponsel seolah-olah berasal dari perusahaan asli.
Selain modus transaksi palsu, penipuan perpanjangan keanggotaan Prime juga marak. Korban menerima pesan bahwa kartu kredit yang terhubung tidak lagi valid dan diminta memperbarui data melalui tautan yang mengarah ke halaman login palsu. Pelaku memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membuat halaman tiruan yang sangat meyakinkan. Menurut Amazon, taktik paling umum tahun lalu adalah panggilan telepon yang mengaku sebagai karyawan Amazon dan meminta detail kartu kredit untuk pembayaran pesanan.
"Amazon tidak akan pernah meminta informasi pribadi sensitif di luar situs web atau aplikasi resmi," demikian penegasan Amazon yang dikutip dalam laporan tersebut.
Penipuan melalui telepon (vishing) dan pesan teks (smishing) meningkat drastis beberapa hari setelah Prime Day, saat konsumen sedang menantikan notifikasi pengiriman. Pesan-pesan ini umumnya berisi tautan ke halaman login palsu yang dibuat dengan AI. Pelaku berharap korban lengah dan memasukkan data pribadi tanpa memeriksa ulang.
Bagi konsumen di Indonesia, pola serupa juga kerap terjadi pada momen belanja besar seperti Harbolnas, 11.11, dan 12.12. Masyarakat yang terbiasa berbelanja di platform global perlu waspada terhadap pesan berbahasa Indonesia yang mengaku dari marketplace, terutama yang meminta verifikasi pembayaran atau data kartu. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika berulang kali mengingatkan pentingnya tidak membagikan data perbankan melalui tautan atau telepon tidak resmi.
Langkah pencegahan paling efektif adalah tidak mengklik tautan apa pun, tidak memberikan informasi pribadi, dan selalu memverifikasi melalui aplikasi atau situs resmi. Jika menerima panggilan mencurigakan, segera tutup dan periksa riwayat pesanan di akun Amazon. Aktifkan autentikasi dua faktor agar kata sandi yang bocor tidak langsung membuka akses ke akun. Dengan lonjakan transaksi yang diprediksi terus berlanjut, kewaspadaan menjadi kunci utama.
Ke depan, pelaku penipuan akan semakin canggih memanfaatkan AI untuk meniru komunikasi resmi. Pertanyaannya, apakah platform e-commerce dan regulator di berbagai negara mampu mempercepat edukasi serta penindakan sebelum korban berikutnya jatuh?



