PewDiePie Dua Kali Diblokir OpenAI Saat Bangun Ajax, Model AI 'Tanpa Sensor' yang Berjalan di PC Sendiri
Baca dalam 60 detik
- PewDiePie mengklaim akunnya diblokir OpenAI dua kali selama proses pengembangan Ajax, model AI 9 miliar parameter yang dirancang berjalan lokal di komputer pengguna.
- Ajax dibangun dengan teknik distilasi dari model flagship OpenAI dan modifikasi 'abliterasi' untuk menghapus penolakan bawaan, memicu sengketa ketentuan layanan.
- Proyek ini menyoroti tren AI lokal yang menantang dominasi layanan cloud, dengan implikasi pada privasi data, biaya langganan, dan kontrol pengguna di Indonesia.

YouTuber PewDiePie, yang bernama asli Felix Kjellberg, mengungkap bahwa OpenAI menangguhkan akunnya sebanyak dua kali selama ia mengembangkan Ajax, sebuah model kecerdasan buatan berskala kecil yang dirancang untuk dijalankan secara mandiri di komputer pribadi dan menjelajahi web. Kisah ini ia bagikan melalui video terbaru di kanal YouTube-nya, menyoroti ketegangan antara pengembang independen dan penyedia model AI besar.
Ajax bukanlah model dasar yang dibangun dari nol, melainkan hasil fine-tuning dari model yang sudah ada. Model ini diintegrasikan ke dalam Odysseus, aplikasi AI gratis yang dihosting sendiri yang diluncurkan PewDiePie pada Juni lalu. Dengan berjalan di perangkat pengguna, model semacam ini menyimpan data sensitif seperti email dan kalender tetap berada di komputer lokal, bukan di server perusahaan. Tidak ada biaya berlangganan, meskipun beban komputasi sepenuhnya ditanggung perangkat keras pengguna.
Secara teknis, Ajax digadang-gadang sebagai model 9 miliar parameter yang dibangun di atas Qwen 3.5, model open-source dari Alibaba. Parameter adalah angka yang dapat disesuaikan yang membentuk 'otak' AI, dan semakin banyak jumlahnya, semakin besar pula kapasitas pemrosesan yang dimiliki. Model ini masih dalam tahap pengembangan dan akan tersedia di situs web PewDiePie setelah ia menilai kualitasnya memadai.
PewDiePie mengungkapkan bahwa ia ingin melakukan distilasi dari GPT-5.6 Sol, model unggulan OpenAI yang dirilis 9 Juli. Distilasi adalah metode melatih AI kecil menggunakan jawaban dari AI yang lebih besar, mirip seperti siswa menyalin pekerjaan rumah siswa jenius di kelas. Target utamanya adalah token penalaran Sol—potongan teks yang ditulis model di papan coretan tersembunyi saat memecahkan masalah. OpenAI menjaga papan coretan tersebut tetap terenkripsi.
Dalam videonya, ia mengaku menemukan studi yang membobol enkripsi tersebut menggunakan API OpenAI sendiri. Ia menegaskan tidak akan pernah membobol OpenAI, namun tetap diblokir. Ia menyebut larangan itu tidak adil, mengajukan banding, dan akunnya kembali aktif beberapa waktu kemudian. Namun, ketika ia menggunakan Sol lagi untuk membuat data awal (seed data), OpenAI kembali memblokirnya. Ketentuan layanan OpenAI melarang penggunaan output-nya untuk mengembangkan model pesaing.
"Saya tidak akan pernah membobol OpenAI, tetapi mereka tetap memblokir saya," ujar PewDiePie dalam video tersebut, seraya menyebut tindakan itu tidak berdasar.
Insiden ini bukan kasus terisolasi. Pada Agustus 2024, peneliti menunjukkan bahwa blok penalaran terenkripsi dari OpenAI, Anthropic, dan Google dapat diputar ulang ke model 'saudara' yang lebih lemah untuk menuliskan isinya dalam teks biasa. Mereka mendekode 315.320 blok dari repositori kode publik. Kemudian, pada 30 September, OpenAI mengumumkan telah menggagalkan kampanye yang diduga terkait dengan Moonshot AI, pengembang Kimi, yang berupaya mengekstrak penalaran tersembunyi modelnya. OpenAI menutup jalur yang memungkinkan seseorang memutar ulang penalaran terenkripsi pengguna lain untuk memulihkan isinya.
Untuk membuat Ajax 'tanpa sensor'—artinya menjawab permintaan yang biasanya ditolak asisten gaya ChatGPT—PewDiePie menggunakan Heretic, alat open-source yang menghapus penolakan bawaan model. Alat ini membandingkan reaksi model terhadap perintah berbahaya dan tidak berbahaya, menemukan pola penolakan, lalu memotongnya. Teknik ini dikenal sebagai 'abliterasi', yang secara efektif melumpuhkan model sehingga tidak perlu di-jailbreak karena selalu setuju melakukan apa pun yang diminta.
Namun, operasi ini tidak mulus. PewDiePie mengakui Ajax mengalami 'sedikit kerusakan otak', tetapi masih mampu menangani tugas seperti menyortir kotak masuk dan menjelajah web sekitar sembilan dari sepuluh kali. Ia juga masih melatihnya dengan GRPO, metode di mana model mencoba tugas yang sama 16 kali dan belajar dari upaya yang berhasil. Ia memilih sendiri penolakan mana yang dihapus, dengan batasan pada 'menyebabkan kerugian pada orang lain atau diri sendiri'. Pengacaranya menyarankan untuk menyatakan bahwa Ajax tidak dirancang memberikan instruksi berbahaya yang dapat ditindaklanjuti.
Argumen PewDiePie untuk model kecil adalah biaya dan energi. Berdasarkan perhitungan kasarnya, satu salinan model frontier triliunan parameter membutuhkan sekitar 27 komputer sepertinya dan listrik setara 150 rumah. Ia menyebut Ajax sebagai versi pertama. Ia masih harus menjalankan ulang abliterasi, mengompresi (kuantisasi), dan melakukan benchmark untuk memastikan tidak ada yang rusak. Ajax belum dapat diunduh; awalnya ada hitung mundur di halaman unduhan untuk 3 Oktober pukul 08:25 waktu Jepang, tetapi timer itu kini hilang.
Perkembangan ini menyoroti tren yang lebih luas: pengembang independen semakin agresif menantang batas layanan AI komersial, sementara perusahaan seperti OpenAI memperketat kontrol atas output mereka. Di Indonesia, di mana adopsi AI tumbuh pesat namun infrastruktur cloud masih terbatas, model lokal seperti Ajax berpotensi menawarkan alternatif yang lebih hemat biaya dan menjaga kedaulatan data. Namun, risiko penyalahgunaan dan kualitas yang belum teruji menjadi tantangan tersendiri. Apakah model AI lokal akan menjadi standar baru, atau justru memicu perang terbuka antara pengembang dan penyedia model besar?



