Bangladesh Dibantai 2-9 di SUGBK, Dooley Akui Jarak Kelas dengan Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Timnas Indonesia menghancurkan Bangladesh 2-9 di laga pamungkas Grup A FIFA ASEAN Cup 2026, dengan Mitchell Baker mencetak lima gol.
- Pelatih Bangladesh, Thomas Dooley, mengakui perbedaan kualitas sebagai penyebab kekalahan telak dan menyebut liga Eropa yang dihuni pemain Indonesia sebagai faktor penentu.
- Kemenangan ini membawa Indonesia ke final melawan Thailand, sementara Bangladesh pulang tanpa poin dan menjadikan laga ini sebagai bahan evaluasi pembinaan.

Stadion Utama Gelora Bung Karno menjadi saksi pesta gol Timnas Indonesia yang menggilas Bangladesh dengan skor 2-9 pada laga terakhir Grup A FIFA ASEAN Cup 2026, Kamis (1/10/2026) malam WIB. Kemenangan ini memastikan Indonesia melaju ke partai puncak untuk menantang Thailand, sementara Bangladesh harus mengakhiri perjalanan di dasar klasemen tanpa satu pun poin.
Mitchell Baker menjadi bintang kemenangan dengan mencetak lima gol (penta-trick), disusul kontribusi Rizky Ridho, Justin Hubner, Luke Vickery, dan Kevin Diks yang masing-masing menyumbang satu gol. Bangladesh hanya mampu membalas melalui Sahariar Emon dan Farhaan Ali Wahid, yang tidak cukup untuk menghindari kekalahan telak.
Pelatih Bangladesh, Thomas Dooley, menyikapi hasil ini dengan lapang dada. Dalam konferensi pers usai pertandingan, ia mengakui bahwa timnya kalah kelas. "Indonesia adalah tim yang jauh lebih baik hari ini, jadi kemenangan besar itu wajar," ujarnya. Dooley menambahkan bahwa perbedaan peringkat FIFA dan pengalaman bermain di liga yang lebih kompetitif menjadi faktor utama.
Dooley menyoroti jurang kualitas antara sepak bola Asia Selatan dan Asia Tenggara. Menurutnya, pemain Indonesia yang berkarier di Eropa seperti Kevin Diks (Bundesliga) dan lainnya di Belanda serta Italia memberikan keunggulan signifikan. "Liga mereka jauh lebih kuat daripada yang kami miliki di Bangladesh," tegasnya. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya pembinaan dan kompetisi domestik yang kompetitif untuk meningkatkan standar sepak bola suatu negara.
Meski menelan kekalahan pahit, Dooley melihat laga ini sebagai pelajaran berharga. "Dalam sepak bola, segalanya tentang kecepatanโseberapa cepat Anda menyadari situasi dan mengeksekusinya. Jika tidak pernah bertanding melawan tim kuat, Anda tidak akan pernah berkembang," ujarnya. Ia berharap pengalaman ini menjadi pemicu perbaikan bagi Bangladesh ke depan.
Bagi Indonesia, kemenangan ini tidak hanya mengamankan tiket final, tetapi juga menunjukkan kedalaman skuad dan ketajaman lini serang. Namun, ujian sebenarnya akan datang saat menghadapi Thailand di partai puncak. Akankah Indonesia mampu mempertahankan performa impresif ini dan merebut gelar juara? Publik sepak bola Tanah Air menanti jawabannya.



