HyImpulse Kantongi Lisensi Peluncuran Inggris, Roket SR75 Siap Terbang 2027
Baca dalam 60 detik
- Otoritas Penerbangan Sipil Inggris (CAA) resmi memberikan lisensi operator peluncuran kepada perusahaan roket Jerman, HyImpulse, pada Kamis lalu.
- Roket suborbital SR75 dijadwalkan meluncur dari SaxaVord Spaceport, Kepulauan Shetland, pada musim semi 2027 untuk misi riset, bukan satelit.
- HyImpulse tengah mengembangkan roket orbital SL1 yang diharapkan dapat mengangkut satelit dari lokasi yang sama di masa depan.

Regulator penerbangan Inggris memberikan lampu hijau kepada HyImpulse untuk meluncurkan roket dari SaxaVord Spaceport di Pulau Unst, Kepulauan Shetland. Lisensi operator peluncuran yang diterbitkan Otoritas Penerbangan Sipil (CAA) pada Kamis (19/9) itu membuka jalan bagi perusahaan asal Jerman tersebut untuk menerbangkan kendaraan suborbital SR75 pada musim semi 2027.
Langkah ini menandai kemajuan signifikan bagi industri antariksa Inggris yang tengah berupaya membangun kapabilitas peluncuran vertikal domestik. Selama ini, Inggris memiliki ekosistem manufaktur satelit yang mapan, tetapi belum memiliki fasilitas peluncuran orbital yang beroperasi penuh. Kehadiran SaxaVord dan lisensi HyImpulse menjadi ujian awal apakah negara itu mampu menutup rantai pasok dari produksi hingga orbit.
SR75 bukan roket pengangkut satelit. Kendaraan ini dirancang untuk misi suborbital, membawa muatan riset ke ketinggian tertentu sebelum kembali ke Bumi. Desainnya diklaim mampu beroperasi dalam beragam kondisi lingkungan, sebuah keunggulan yang relevan mengingat cuaca di Shetland sering keras. Meski begitu, HyImpulse tidak berhenti di SR75. Mereka sedang mengembangkan SL1, roket orbital yang nantinya diharapkan dapat meluncurkan satelit dari SaxaVord.
Christian Schmierer, CEO dan salah satu pendiri HyImpulse, menyebut lisensi ini sebagai tonggak penting yang memvalidasi kerja bertahun-tahun. Menurutnya, proses perizinan di Inggris sangat ketat dan membuktikan bahwa sistem, prosedur, serta kasus keselamatan perusahaan telah memenuhi standar tinggi. "SR75 siap terbang, dan tim kami telah menyelesaikan persiapan teknis serta operasional utama," ujarnya.
Schmierer menambahkan bahwa fokus saat ini adalah menyelesaikan tahap akhir dalam kerangka lisensi bersama CAA dan SaxaVord, sambil menunggu kondisi yang memungkinkan untuk peluncuran. Di saat yang sama, pengembangan SL1 terus dikebut untuk membawa satelit ke orbit.
Scott Hammond, CEO SaxaVord Spaceport, menyambut baik kabar tersebut. Ia menilai pencapaian ini merupakan hasil kerja keras tim HyImpulse dan CAA. "Ini berita excellent bagi HyImpulse dan tonggak lain menuju peluncuran dari SaxaVord," katanya.
Sue Kee, kepala aplikasi antariksa CAA, menegaskan bahwa Inggris memiliki ekosistem antariksa yang kuat dan berkembang. Ia menyebut semakin banyak perusahaan seperti HyImpulse yang ingin mengembangkan dan mengoperasikan kemampuan peluncuran dari Inggris. "Kami bekerja sama dengan sektor ini untuk mewujudkan industri peluncuran yang aman, terjamin, dan berkelanjutan," ujarnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan pelajaran tentang pentingnya regulasi yang mendukung inovasi antariksa. Indonesia memiliki posisi geografis strategis untuk peluncuran satelit, tetapi hingga kini belum memiliki fasilitas peluncuran orbital yang beroperasi. Keberhasilan Inggris menarik investasi swasta ke sektor antariksa dapat menjadi acuan bagi pengembangan industri serupa di dalam negeri, terutama dalam hal kerangka perizinan yang jelas dan kolaborasi antara regulator, operator, dan penyedia infrastruktur.
Dengan lisensi di tangan, pertanyaan berikutnya adalah apakah HyImpulse dapat memenuhi jadwal peluncuran 2027 dan apakah SL1 akan benar-benar terbang dari Shetland. Keberhasilan SR75 akan menjadi indikator awal apakah SaxaVord mampu bersaing dengan spaceport lain di Eropa dan apakah Inggris dapat mewujudkan ambisi menjadi pemain utama dalam ekonomi antariksa global.



