Hadjar Terima Penalti Grid di Malaysia, Red Bull Waspadai Ancaman Mercedes
Baca dalam 60 detik
- Isack Hadjar dipastikan turun lima posisi di grid F1 Malaysia setelah melebihi kuota komponen power unit.
- Red Bull menghadapi ujian berat di Sepang karena Mercedes membawa paket upgrade yang telah lama dinanti.
- Hadjar bertekad tampil agresif sejak awal, berbeda dari pendekatan hati-hati di Baku pasca cedera pergelangan tangan.

Pebalap Red Bull Racing, Isack Hadjar, memastikan dirinya akan menjalani hukuman penalti grid lima posisi pada Grand Prix Malaysia akhir pekan ini. Sanksi tersebut diterima setelah timnya terpaksa mengganti salah satu komponen power unit yang telah melampaui batas pemakaian musim ini.
Kepastian itu disampaikan Hadjar sendiri saat sesi jumpa pers di Sirkuit Internasional Sepang, Kamis (20/3). “Saya seharusnya menerima penalti lima posisi,” ujarnya singkat. Red Bull belum merinci komponen mana yang akan diganti, namun regulasi F1 menetapkan bahwa setiap pelanggaran pertama atas kuota komponen menghasilkan penalti 10 posisi, sedangkan pelanggaran berikutnya berbuah pengurangan lima posisi. Karena Hadjar telah melewati batas untuk seluruh elemen power unit, pergantian apa pun otomatis memicu hukuman lima posisi.
Penalti ini menjadi pukulan telak bagi tim yang baru saja meraih double podium di Baku—prestasi pertama Red Bull sejak GP China 2024. Kini, ambisi mengulang sukses di Malaysia menghadapi rintangan berlapis. Selain harus kehilangan posisi start, Red Bull juga dibayangi Mercedes yang membawa paket upgrade signifikan untuk mobil W17 mereka.
Hadjar mengakui bahwa karakteristik sirkuit Sepang yang lebih konvensional akan menjadi ujian sesungguhnya bagi performa mobil RB21. “Saya memperkirakan kami akan kurang kompetitif di sini karena tata letaknya. Tapi jika masih bisa bersaing untuk podium, itu bagus. Namun akan sulit bagi saya,” jelasnya.
Meski demikian, Hadjar tetap optimistis. Menurutnya, Sepang menawarkan banyak peluang untuk menyalip. “Dengan penalti pun, saya yakin ini trek di mana jika punya kecepatan balap, kita bisa naik. Kalau tidak bisa, berarti kami tidak cukup cepat,” tegasnya.
Secara pribadi, Hadjar mengungkapkan bahwa ia akan tampil lebih agresif di Malaysia dibandingkan di Baku. Saat itu, ia memilih pendekatan hati-hati karena baru pulih dari cedera pergelangan tangan. “Di Baku, jika melewati batas, Anda akan menabrak dinding. Saya tidak ingin mengambil risiko itu, jadi saya melangkah perlahan. Tapi akhir pekan ini normal bagi saya, jadi saya harus langsung mengambil risiko,” paparnya.
“Tata letaknya memungkinkan Anda untuk langsung melaju kencang. Treknya terbuka, tidak ada dinding. Jadi Anda bisa mendorong lebih awal.”
— Isack Hadjar
Bagi Red Bull, GP Malaysia bukan sekadar soal Hadjar. Tim asal Milton Keynes itu harus membuktikan bahwa performa di Baku bukan sekadar keberuntungan akibat karakter sirkuit jalan raya. Sepang dengan tikungan cepat dan trek lurus panjang akan menguji efisiensi aerodinamika serta daya tahan power unit Honda RBPT. Jika Mercedes benar-benar membawa peningkatan signifikan, persaingan di barisan depan bisa berubah drastis.
Hadjar juga menyoroti pentingnya data dari sirkuit konvensional untuk menilai posisi sebenarnya Red Bull di sisa musim. “Pergi ke trek dengan tata letak lebih tradisional akan memberi gambaran lebih baik di mana kami sebenarnya,” ujarnya.
Dengan penalti yang sudah di depan mata, strategi balapan Red Bull akan sangat bergantung pada kemampuan Hadjar memanfaatkan momen-momen kritis, terutama saat pit stop dan manajemen ban. Sepang dikenal sebagai sirkuit yang keras terhadap ban belakang, sehingga kecepatan balap yang konsisten menjadi kunci untuk meminimalkan kerugian posisi.
Pertanyaannya, mampukah Hadjar bangkit dari posisi start yang terpuruk dan menjaga peluang podium Red Bull? Ataukah Mercedes akan memanfaatkan situasi ini untuk mendominasi? Jawabannya akan terlihat di lintasan Sepang akhir pekan nanti.



