Nolberto Solano Pimpin Pakistan: Mimpi Lolos Piala Dunia dari Peringkat 198
Baca dalam 60 detik
- Nolberto Solano resmi menangani Timnas Pakistan sejak 2025 dengan target jangka pendek lolos Piala Asia dan ambisi jangka panjang ke Piala Dunia.
- Pakistan belum memiliki liga profesional, sehingga Solano mengandalkan pemain diaspora dari Skandinavia dan Inggris untuk membangun kekuatan tim.
- Kegagalan membangun ekosistem sepak bola yang mapan membuat Pakistan tertinggal jauh dari negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Filipina, dan Vietnam.

Legenda sepak bola Peru, Nolberto Solano, mengambil tantangan paling tidak biasa dalam karier kepelatihannya: membawa Pakistan—negara yang menghuni peringkat 198 dunia—menembus Piala Dunia. Sejak dipercaya menangani Timnas Pakistan pada 2025, pria yang pernah bersinar bersama Newcastle United itu menyusun fondasi dari nol di sebuah negara yang bahkan belum memiliki liga profesional.
Pakistan memang bukan wilayah yang bersahabat bagi sepak bola. Federasi mereka berulang kali berurusan dengan sanksi FIFA, dan kompetisi domestik belum berjalan pada level yang layak. Kondisi ini membuat Solano harus berpikir kreatif, terutama dalam memetakan sumber daya pemain yang tersedia.
Dalam wawancara yang dikutip Rabu (30/9/2026), Solano mengungkapkan bahwa target realistis jangka pendek adalah lolos ke Piala Asia pada kualifikasi tahun depan. "Ini memang tantangan yang sangat besar. Saat ini, kondisi tim sudah sedikit membaik. Harapan dan target kami adalah, ketika kami mulai menjalani pertandingan kualifikasi tahun depan, kami bisa lolos ke Piala Asia," ujarnya.
Namun, ambisi Solano tidak berhenti di level kontinental. Ia membuka peluang untuk mimpi yang lebih tinggi: Piala Dunia. "Itu akan menjadi pencapaian yang luar biasa. Lalu setelah itu, Piala Dunia mengapa tidak? Bermimpi itu gratis, dan dalam sepak bola, apa pun bisa terjadi," tambahnya.
Solano menyadari betul keterbatasan yang dihadapinya. Ia menyebut bahwa sebelum tiba di Pakistan, ia sudah mempelajari berbagai persoalan struktural yang ada. "Saat saya mendapat kesempatan untuk pindah ke Pakistan, saya sudah memahami segala persoalan yang ada di sana sebelum saya tiba. Seperti yang Anda tahu, saat ini sepak bola di Pakistan belum dikelola secara profesional. Tidak seperti di Malaysia, Filipina, atau mungkin Vietnam di mana terdapat ekosistem sepak bola profesional yang mapan," ungkapnya.
Ketiadaan liga profesional menjadi persoalan paling mendasar. Tanpa kompetisi domestik yang kompetitif, pemain lokal sulit berkembang. Solano pun mengakui bahwa situasi ini membuat frustrasi, terutama bagi talenta muda yang ingin meniti karier di dalam negeri. "Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pemain muda berbakat yang ingin berkarier di Pakistan; situasinya agak membuat frustrasi. Namun, kami sudah menyadari semua kendala ini sejak awal," kata Solano.
Untuk menutupi kekurangan tersebut, Solano mengandalkan pemain diaspora. Ia memanggil banyak pemain keturunan Pakistan yang berkarier di Skandinavia dan Inggris. "Saya sudah mengetahuinya sebelum datang ke sini. Untungnya, kami memiliki banyak pemain yang kami sebut sebagai pemain diaspora yang berkarier tidak hanya di Skandinavia, tetapi juga di Inggris," ujarnya.
Strategi ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan diskusinya dengan pemain lokal, Solano menilai kualitas kompetisi di Pakistan belum cukup untuk membentuk tim nasional yang kompetitif. "Jadi, kami harus merekrut pemain dari luar negeri agar bisa lebih kompetitif, karena berdasarkan pembicaraan saya dengan para pemain lokal, kualitas kompetisi di sini saja belum cukup memadai," imbuh dia.
Pendekatan yang diambil Solano mencerminkan pola yang semakin umum di negara-negara dengan ekosistem sepak bola yang belum matang. Alih-alih menunggu pembangunan liga yang memakan waktu bertahun-tahun, pelatih asing sering kali mengandalkan pemain diaspora untuk menciptakan daya saing instan. Namun, strategi ini juga menuai kritik karena dianggap tidak menyelesaikan akar masalah: absennya pembinaan usia dini dan kompetisi domestik yang berkelanjutan.
Bagi Pakistan, kehadiran Solano setidaknya memberikan harapan baru. Sosoknya yang pernah merumput di Liga Inggris membawa kredibilitas dan jaringan yang lebih luas. Namun, tanpa dukungan struktural dari federasi dan pemerintah, upaya Solano berisiko menjadi proyek jangka pendek yang rapuh.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Pakistan bisa lolos ke Piala Asia atau Piala Dunia, tetapi apakah mereka mampu membangun fondasi yang membuat keberhasilan itu bertahan lama. Solano boleh bermimpi, tetapi sepak bola Pakistan membutuhkan lebih dari sekadar mimpi untuk berubah.



