Gelombang Panas Rekor AS: 173.598 Rumah Diputus Listrik, Harga Energi Melonjak
Baca dalam 60 detik
- Pada Juli 2026, bulan terpanas dalam sejarah AS, 173.598 rumah tangga di 10 negara bagian kehilangan pasokan listrik karena tunggakan, naik 28% dari tahun sebelumnya.
- Harga listrik yang terus naik sejak 2021 diperparah oleh permintaan pusat data AI dan konflik geopolitik, sementara program bantuan energi rendah pendapatan terancam dipangkas.
- Dampaknya meluas ke kesehatan dan ekonomi, dengan warga mengurangi makanan, obat, dan pendingin ruangan, sementara perhatian beralih ke musim dingin yang diprediksi lebih mahal.

Gelombang panas ekstrem yang melanda Amerika Serikat pada Juli 2026—bulan terpanas yang pernah tercatat—tidak hanya menguji ketahanan fisik warga, tetapi juga memicu lonjakan pemutusan sambungan listrik. Data dari National Energy Assistance Directors Association (NEADA) menunjukkan 173.598 rumah tangga di 10 negara bagian mengalami pemutusan pasokan listrik akibat menunggak tagihan, melonjak 28% dibandingkan periode yang sama pada 2024. Angka ini menjadi potret pahit betapa perubahan iklim dan beban ekonomi saling memperburuk.
Pemutusan listrik terjadi justru saat tiga peristiwa "kubah panas" (heat dome) menghantam negeri itu. Banyak warga terpaksa mengurangi penggunaan pendingin ruangan atau bahkan kehilangan akses sama sekali karena tagihan yang membengkak. Menurut NEADA, sekitar satu dari enam rumah tangga di AS kini menunggak pembayaran energi, menempatkan mereka pada risiko pemutusan. Tidak semua negara bagian mewajibkan pelaporan data ini, sehingga angka nasional sebenarnya jauh lebih tinggi—pemerintah federal mencatat 13,4 juta pemutusan sepanjang 2024, dengan konsentrasi di negara bagian selatan seperti Texas, Florida, Oklahoma, dan Louisiana.
Mark Wolfe, direktur eksekutif NEADA, mengungkapkan keprihatinannya. "Kami mendengar banyak orang marah dan putus asa karena tagihan mereka berlipat ganda—suhu naik, biaya juga naik," ujarnya. Ia menambahkan bahwa warga kini mengurangi makanan atau obat, bahkan terpaksa meminjam ke rentenir demi menyalakan listrik kembali. "Perlindungan yang ada tidak berjalan, ini kejam. Orang miskin dan lanjut usia tidak menyalakan AC karena biaya, dan ketika gelombang panas berturut-turut datang, mereka bisa mati."
Kenaikan tagihan listrik di AS telah berlangsung sejak 2021, didorong oleh kebutuhan daya pusat data kecerdasan buatan dan biaya peningkatan jaringan utilitas. Gangguan energi global akibat serangan AS-Israel ke Iran awal tahun ini mempercepat tren tersebut, menambah $100 miliar biaya bensin tambahan bagi kendaraan dan truk. Situasi diperparah oleh kebijakan pemerintahan Trump yang berupaya menghapus Low Income Home Energy Assistance Program (Liheap), program bantuan tagihan listrik bagi rumah tangga berpenghasilan rendah. Meski Kongres belum menyetujui penghapusan, administrasi dituduh membekukan dana yang seharusnya disalurkan.
Walikota Phoenix, Kate Gallego, mengkritik langkah tersebut. "Warga Amerika sangat khawatir tentang keterjangkauan, dan menghapus bantuan energi untuk berpenghasilan rendah adalah langkah mundur, terutama karena administrasi telah membuat keputusan yang meningkatkan biaya energi banyak orang," katanya. Phoenix baru saja mengalami musim panas terpanas kedua dalam sejarah. Gallego juga menyoroti upaya pemerintahan Trump yang melemahkan energi surya dan angin—sumber listrik baru termurah—dan mendorong batu bara yang lebih mahal dan kotor.
"Kami sudah melewati tanda-tanda peringatan. Dampak panas, banjir, kualitas udara, dan kelayakan hidup semakin nyata, namun di saat yang sama isu ini menjadi titik politik yang dihindari," ujar Walikota Boston, Michelle Wu.
Di tingkat kota, respons mulai bermunculan. Penambahan pohon peneduh, air mancur di taman, pusat pendingin, dan sistem peringatan dini menjadi prioritas. Walikota New York, Zohran Mamdani, mengaku kini lebih memahami cuaca ekstrem setelah kota itu dilanda banjir berulang. Sementara itu, Walikota Boston, Michelle Wu, menyebut musim panas tahun ini sangat menantang karena lonjakan pengunjung untuk Piala Dunia, perayaan 250 tahun Amerika, dan acara kapal layar.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi cermin penting. Sebagai negara tropis dengan ketergantungan tinggi pada listrik untuk pendinginan, lonjakan harga energi global dan ketidakstabilan iklim dapat memukul daya beli masyarakat. Kebijakan subsidi energi dan transisi ke energi terbarukan menjadi krusial untuk mencegah skenario serupa. Selain itu, tekanan pada anggaran rumah tangga dapat mengurangi konsumsi dan memperlambat pemulihan ekonomi.
Memasuki musim dingin, NEADA memperkirakan rumah tangga yang menggunakan minyak pemanas—umumnya di AS timur laut—akan menghadapi tagihan 50% lebih tinggi dari tahun lalu. Wolfe telah meminta Kongres menambah $3 miliar untuk Liheap. "Musim dingin sudah di depan mata, dan kami sangat khawatir tentang dampaknya bagi keluarga berpenghasilan rendah," ujarnya. Pertanyaannya kini: apakah pemerintah akan mengutamakan perlindungan warga atau terus membiarkan krisis energi dan iklim saling memperparah?



