Julian Ward Incar Lamine Camara: Liverpool Siap Tunggu hingga 2027 demi Fabinho Baru
Baca dalam 60 detik
- Julian Ward terbang ke Monaco untuk membahas transfer Lamine Camara, gelandang 22 tahun yang dihargai £60 juta.
- Camara nyaris bergabung dengan Chelsea pada deadline day, tetapi Liverpool menjadi tujuan utamanya.
- FSG memilih menunda kepindahan hingga 2027, meski lini tengah Liverpool masih rapuh tanpa sosok seperti Fabinho.

Julian Ward, direktur olahraga anyar Liverpool, dilaporkan terbang ke Monaco pada akhir jendela transfer untuk membuka pembicaraan dengan gelandang Senegal Lamine Camara. Langkah itu menandai upaya serius pertama Ward dalam membenahi lini tengah The Reds yang dinilai belum menemukan pengganti sepadan bagi Fabinho.
Camara, 22 tahun, hampir saja bergabung dengan Chelsea pada hari batas transfer. Namun, menurut sumber yang dekat dengan negosiasi, Anfield selalu menjadi destinasi yang ia dambakan. Ketimbang mengikat pemain yang dihargai £60 juta itu sekarang, FSG meminta Camara bertahan di Prancis dan menunggu hingga 2027, saat Liverpool akan bergerak.
Keputusan menunda tersebut memunculkan pertanyaan strategis. Sejak Fabinho dijual ke Al-Ittihad pada 2023, Liverpool memang sempat meraih gelar Premier League 2024/25 di bawah Arne Slot. Akan tetapi, fondasi lini tengah mereka perlahan retak. Kedatangan Alexis Mac Allister, Dominik Szoboszlai, dan Ryan Gravenberch sempat menghadirkan konektivitas instan, tetapi kombinasi itu tak lagi utuh setelah klub menggelontorkan dana besar untuk Alexander Isak, Florian Wirtz, dan Bradley Barcola.
Manajer Monaco, Filipe Luis, tidak ragu memuji anak asuhnya. “Kita mungkin sedang berbicara tentang salah satu gelandang terbaik di dunia,” ujarnya. Pujian itu bisa terdengar berlebihan, tetapi statistik Camara di Ligue 1 memberi dasar kuat. Ia bukan hanya rajin memotong bola, tetapi juga tangguh dalam duel dan cerdas membaca ruang.
Bagi Liverpool, profil semacam itu ibarat oase di tengah gurun. Pelatih kepala Andoni Iraola, yang belum terkalahkan dalam tujuh laga di semua kompetisi, masih mencari keseimbangan antara stabilitas bertahan dan kelancaran menyerang. Opsi di lini tengah saat ini—termasuk Mac Allister—dinilai tidak cukup kuat untuk melakukan pekerjaan defensif tanpa henti. Gravenberch memang elegan saat berpadu dengan Mac Allister dan Szoboszlai, tetapi harmoni itu belum kembali sejak kepergian Fabinho.
“Kita mungkin sedang berbicara tentang salah satu gelandang terbaik di dunia.” — Filipe Luis, manajer Monaco
Kegagalan mantan direktur olahraga Richard Hughes menambal lubang di lini tengah musim panas lalu menjadi pelajaran. Ward, yang kini dipercaya, dituntut lebih tajam. Ia menyadari bahwa merekrut gelandang bertahan adalah prioritas, dan pendekatan personalnya ke Camara menunjukkan ia tak ingin mengulang kesalahan yang sama.
Meski begitu, menunggu hingga 2027 menyimpan risiko. Camara bisa saja berubah pikiran jika klub lain datang dengan tawaran lebih konkret. Chelsea, yang sempat hampir mendapatkannya, tentu masih memantau. Belum lagi tekanan dari dalam: jika Liverpool kembali kehilangan kendali di lini tengah, kritik akan mengarah kepada Iraola, bukan kepada FSG atau Ward.
Dari sudut pandang Indonesia, saga transfer ini menarik disimak sebagai cermin bagaimana klub-klub besar Eropa mengelola transisi pasca-era pemain kunci. Liverpool, yang sempat bergantung pada Fabinho sebagai jangkar, kini harus berinvestasi jangka panjang. Bagi penggemar sepak bola Tanah Air, keputusan FSG menunda transfer bisa menjadi pelajaran tentang arti kesabaran dalam membangun tim—atau justru contoh kelambatan yang berujung penyesalan.
Ke depan, pertanyaannya sederhana: apakah Liverpool sanggup mempertahankan daya tarik mereka hingga 2027, atau justru kehilangan Camara ke klub yang lebih sigap? Jawabannya akan terlihat dari bagaimana Ward dan Iraola mengarungi musim ini tanpa sosok sekelas Fabinho.



