Nothing Headphone (1) Pro: Tiga Driver, Ambisi Mengubah Pasar Audio Premium
Baca dalam 60 detik
- Nothing resmi meluncurkan Headphone (1) Pro dengan arsitektur triple-driver pertama di kelas konsumen, menantang dominasi merek audio mapan.
- Pendekatan rekayasa suara yang menggabungkan driver dinamis, xMEMS, dan kustomisasi EQ parametrik menyasar audiens yang menginginkan kontrol penuh atas karakter audio.
- Langkah ini berpotensi mengerek standar kompetisi di segmen TWS dan headphone premium, termasuk di Indonesia yang pasar gadget premiumnya terus tumbuh.

Nothing, merek teknologi asal London, kembali mencuri perhatian lewat peluncuran Headphone (1) Pro—perangkat audio nirkabel dengan arsitektur triple-driver pertama di segmen headphone konsumen. Langkah ini bukan sekadar pembaruan produk, melainkan upaya serius menantang pemain mapan seperti Sony, Bose, dan Sennheiser di pasar audio premium yang selama ini dikuasai pendekatan konvensional.
Headphone (1) Pro merupakan penerus Headphone (1) yang dirilis 2025. Jika model sebelumnya sudah mengusung desain kotak dan kontrol fisik, versi Pro membawa penyempurnaan material: campuran titanium dan aluminium untuk bobot lebih ringan, bantalan headband lebih tebal, serta lapisan cushion dua tingkat dari kulit PU dan nilon yang menyesuaikan berbagai bentuk kepala. Ada pula dinding baffle silikon 8mm yang memperkuat segel, membantu meredam gangguan dari kacamata, tindik, atau gerakan rahang saat mengunyah.
Yang paling mencolok adalah konfigurasi driver. Headphone (1) Pro menggabungkan tiga jenis driver: driver dinamis 40mm berbasis PET dengan kubah keramik-logam untuk frekuensi bass 20 Hz–10 kHz, driver presisi 13×8mm dengan diafragma PEN untuk midrange 5 kHz–15 kHz, dan driver xMEMS di bagian depan untuk treble 10 kHz–40 kHz. Kombinasi ini diklaim menghasilkan artikulasi lebih tajam, ritme lebih ketat, serta pemisahan instrumen yang lebih jelas. Perangkat ini juga tersertifikasi Hi-Res Audio, mendukung LDAC hingga 24-bit/96 kHz secara nirkabel dan 24-bit/192 kHz via USB-C.
Dari sisi kontrol, Nothing tetap setia pada tombol fisik alih-alih panel sentuh. Ada Roller untuk volume dan play/pause, Paddle untuk navigasi trek, serta Button yang bisa dikustomisasi lewat aplikasi Nothing X untuk memanggil asisten suara, ChatGPT, atau bahkan shutter kamera. Tombol pairing Bluetooth dan sakelar Flat EQ juga tersedia. Pendekatan ini dinilai memudahkan pengguna tanpa harus sering mengakses ponsel.
Untuk urusan tuning, Nothing menggandeng Metropolis Studios, studio legendaris asal London. Hasil kolaborasi itu melahirkan beberapa mode spatial audio—Standard, Studio B, Live House, Club, dan Concert Hall—serta profil EQ yang merayakan genre musik Inggris seperti Neo-Jazz, British Rock, UK Rap + Grime, Electronica, dan UK Bass. Yang menarik, aplikasi Nothing X mendukung parametric EQ, fitur yang biasanya hanya ada di headphone kelas audiophile. Pengguna bahkan dapat menyetel driver utama dan driver presisi secara terpisah, lalu membagikan hasil tuning melalui EQ Library.
"Tujuan kami bukan menonjolkan dorongan bass atau tekstur buatan, melainkan menghadirkan keaslian musikal dengan akurasi monitor studio profesional," demikian pernyataan resmi Nothing dalam materi peluncuran.
Dari sisi peredaman bising, Headphone (1) Pro mengandalkan ANC adaptif dengan 10 mikrofon—tiga feed-forward dan dua feedback di tiap sisi. Klaimnya, rata-rata peredaman 5dB lebih baik dan cakupan frekuensi 40% lebih luas dibanding Headphone (1). Fitur ini penting bagi pengguna di kota-kota besar dengan tingkat kebisingan tinggi, termasuk Jakarta, Surabaya, dan Bandung.
Spesifikasi lain mencakup Bluetooth 6.1 dengan codec SBC, AAC, LDAC, dan Auracast; dukungan dual connection; Personal Sound hearing analysis; mode Low Latency; bobot 327 gram; rating IP52; serta baterai hingga 68 jam tanpa ANC atau 30 jam dengan ANC. Pengisian daya cepat juga tersedia. Headphone ini dibanderol sebagai produk premium, meski harga resmi untuk pasar Indonesia belum diumumkan.
Konteks Indonesia
Pasar audio premium di Indonesia menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Data dari lembaga riset pasar menunjukkan peningkatan minat konsumen urban terhadap perangkat audio berkualitas tinggi, seiring tumbuhnya layanan streaming musik lossless dan konten digital. Kehadiran Headphone (1) Pro dapat memperketat persaingan di segmen ini, terutama karena Nothing dikenal memiliki basis penggemar loyal di Indonesia—berkat desain transparan dan pendekatan teknologi yang berani.
Namun, tantangan tetap ada. Harga menjadi faktor krusial. Jika Nothing menetapkan harga terlalu tinggi, produk ini berisiko hanya menjadi simbol status tanpa penetrasi signifikan. Sebaliknya, jika agresif, merek-merek mapan bisa terdesak. Selain itu, ekosistem pendukung seperti layanan purna jual dan ketersediaan aksesori akan menentukan keberlanjutan adopsi.
Ke depan, menarik untuk menyimak apakah strategi triple-driver ini akan diikuti pesaing lain atau justru menjadi standar baru di industri. Bagi konsumen Indonesia, pertanyaannya sederhana: apakah peningkatan kualitas suara dan kontrol yang ditawarkan sebanding dengan harga yang harus dibayar? Jawabannya akan terlihat dari respons pasar dalam beberapa kuartal mendatang.



