Final Fantasy Resonance: Perayaan 30 Tahun Waralaba dengan Sentuhan 2D-HD dan Nostalgia Turn-Based
Baca dalam 60 detik
- Square Enix mengumumkan Final Fantasy Resonance, adaptasi dari game mobile 2015 Brave Exvius, yang akan rilis 22 Oktober mendatang di berbagai platform.
- Game ini menghadirkan kembali sistem pertarungan turn-based klasik dengan gaya visual 2D-HD pertama dalam seri Final Fantasy, serta memungkinkan pemain memanggil karakter ikonik dari seri sebelumnya.
- Langkah ini menegaskan strategi Square Enix merangkul akar waralaba di tengah persaingan game modern, berpotensi menggugah pasar RPG di Indonesia.

Square Enix tengah bersiap menyambut peringatan 30 tahun waralaba Final Fantasy dengan merilis Final Fantasy Resonance, sebuah game yang dijadwalkan meluncur pada 22 Oktober mendatang untuk PlayStation 5, Xbox Series X|S, Nintendo Switch 2, Nintendo Switch, dan PC. Game ini merupakan adaptasi yang diperbarui dari Final Fantasy Brave Exvius (2015) dan kembali ke format RPG turn-based klasik dengan presentasi piksel yang tajam.
Berbeda dari banyak judul modern yang mengusung aksi real-time, Resonance justru mengambil arah sebaliknya: menghadirkan pengalaman bermain yang mengingatkan pada era Super Nintendo. Dalam sesi pratinjau di Tokyo Game Show 2026, terlihat bahwa game ini mengusung gaya seni 2D-HD, yang pertama kali diterapkan pada seri Final Fantasy setelah sebelumnya sukses digunakan pada remake Dragon Quest dan Romancing SaGa. Pendekatan ini memadukan sprite piksel dengan lingkungan 3D beresolusi tinggi, menciptakan estetika yang nostalgik namun tidak ketinggalan zaman.
Narasi Resonance berpusat pada trio pahlawan—Rain, Lasswell, dan Fina—yang berusaha menghentikan Veritas of the Dark dari menghancurkan kristal elemen. Salah satu daya tarik utamanya adalah kemampuan memanggil "Visions" atau karakter dari seri Final Fantasy sebelumnya, seperti Cloud Strife (FFVII), Terra Branford (FFVI), Cecil Harvey (FFIV), hingga Clive Rosfield dari Final Fantasy XVI (2023). Kehadiran mereka tidak sekadar cameo; masing-masing membawa serangan khas yang dapat digunakan dalam pertempuran.
Dari sisi mekanika, pertarungan turn-based dalam Resonance terasa familier namun diperhalus. Menu pertempuran intuitif, pemilihan target jelas, dan indikator stun membantu pemain mengatur strategi. Meski hanya mencoba sekitar 30 menit, kesan yang didapat adalah pengalaman RPG yang "nyaman"—seperti makanan rumahan bagi penggemar genre ini. Hal ini sejalan dengan tren kebangkitan RPG turn-based dalam beberapa tahun terakhir, yang dibuktikan oleh kesuksesan Sea of Stars dan Clair Obscur: Expedition 33.
"Ini adalah surat cinta untuk segala hal tentang Final Fantasy," ujar pengembang, menggambarkan bagaimana game ini merangkul sejarah waralaba dari awal 1987 hingga petualangan terbaru.
Bagi pasar Indonesia, kehadiran Resonance berpotensi memperkuat komunitas RPG yang sudah lama menantikan game bergaya klasik. Dengan dukungan platform yang luas—termasuk Nintendo Switch 2 yang belum lama beredar—game ini dapat menjangkau berbagai lapisan pemain, dari veteran yang tumbuh dengan Final Fantasy IV hingga generasi baru yang mengenal seri ini lewat Final Fantasy XVI. Selain itu, harga dan ketersediaan regional akan menjadi faktor penting adopsi di Indonesia, mengingat banyak gamer masih sensitif terhadap harga.
Square Enix tampaknya ingin menjadikan Resonance sebagai jembatan antara nostalgia dan inovasi. Setelah peluncurannya, perhatian akan beralih ke Final Fantasy VII Revelation yang dijadwalkan April 2027. Pertanyaannya, apakah pendekatan 2D-HD dan turn-based ini akan diterima luas atau justru dianggap sebagai langkah mundur? Waktu yang akan menjawab, tetapi untuk sekarang, Resonance menawarkan alternatif yang menyegarkan di tengah pasar game yang didominasi aksi.



